I'am with you pak, hari ini mulai buy back PGAS (sudah order), saya kira, kalau 
barang yang mau keluar atau harus keluar sudah keluar semua, pasar pasti susah 
turun lagi. Sebaiknya pasar tidak perlu naik banyak, yang penting penurunannya 
tidak drastis.

  ----- Original Message ----- 
  From: Irwan Ariston Napitupulu 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, October 13, 2008 6:52 AM
  Subject: Re: [saham] Nilai Kapitalisasi Pasar BEI per 8 Oktober 2008



  Pak Tommy, ternyata dari sebelumnya hanya Rp4 triliun, sekarang sudah
  naik jadi sekitar Rp21 + 4 triliun. Kalau jumlahnya sampai Rp25 triliun,
  menurut saya sudah aman untuk dibuka berdasarkan perhitungan
  kasar di posting saya sebelum ini.

  Kalau cuma Rp4 triliun, memang berat. Tapi kalau Rp25 triliun,
  mengutip iklan telkomsel "Kaaasih daaah...."  :)

  jabat erat,
  Irwan Ariston Napitupulu


  2008/10/12 Tommy Jayamudita <[EMAIL PROTECTED]>

    Setuju Pak IAN, lebih baik pasar modal yang ditutup saat ini, daripada 
pasar Senen dan pasar Tanah Abang yang terpaksa harus ditutup di kemudian hari.


      ----- Original Message ----- 
      From: Irwan Ariston Napitupulu 
      To: [email protected] 
      Sent: Sunday, October 12, 2008 12:00 AM
      Subject: [saham] Nilai Kapitalisasi Pasar BEI per 8 Oktober 2008



      Nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia per penutupan 
      tanggal 8 Oktober 2008, tanggal terakhir BEI buka,
      adalah sebesar Rp1,167,288,582,974,942 
      atau sekitar Rp1167 triliun. Dengan kurs Rp10.000/USD,
      maka akan setara dengan USD116,7 milyar.

      Sumber dari website BEI,
      http://202.155.2.90/market_summary/daily/Market_Indices/IX081008.txt


      Jumlah ini jelas tidak kecil. Nilai Rp 4 triliun jadi terasa kecil bila
      dibandingkan dengan angka kapitalisasi pasar.

      Pemerintah harus benar2 memperhitungkan kekuatan yang ada bila
      nantinya ingin membuka kembali bursa saham. Jangan sampai
      karena bursa, ekonomi nasional jadi terganggu. Lebih baik 
      mengorbankan bursa dengan membiarkannya tetap tutup sampai
      kondisi lebih kondusif, ketimbang memaksakan diri membukanya
      sementara kondisi yg ada belum kondusif, yang pada akhirnya malah
      hanya memperburuk kondisi.

      Pihak asing bisa saja ngomong A, B, C, D, tapi kitalah yang tahu
      kondisi kita sendiri, kita yang tahu kebutuhan dan kepentingan 
      kita sendiri.

      Saat ini banyak pihak bisa saja mencibirkan maupun mempertanyakan
      keputusan yang diambil pemerintah. Tapi pada akhirnya, hasil akhirlah
      yang nanti bicara. Bila pemerintah tetap konsisten mendahulukan
      kepentingan nasional di atas hal yg lain, berhasil melewati krisis ini
      dengan selamat, maka banyak pihak yang tadinya mencibir ataupun
      mempertanyakan keputusan pemerintah, akan melihat kebenaran langkah
      yang dilakukan pemerintah.

      Ada perbedaan mendasar antara Bernanke dan Alan Greenspan.
      Ini saya baca di awal terpilihnya Bernanke menggantikan Alan
      Greenspan sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika.

      Alan Greenspan adalah tipe pengambil keputusan yang sifatnya
      antisipatif yaitu mengambil kebijakan dengan berdasarkan antisipasi
      keadaan yang akan terjadi akibat masalah awal yg timbul. Dia cenderung 
      tidak akan menunggu data2 keluar, tapi dia akan cepat mengambil 
      keputusan antisipasinya.
      Dengan stylenya yg seperti ini dia berhasil menyelamatkan kondisi 
      Amerika dari krisis kepercayaan di sektor finansial beberapa kali.

      Sebaliknya, Bernanke adalah tipe pengambil kebijakan yang reaktif.
      Artinya reaktif disini adalah terjadi dulu masalah, dan didukung oleh
      data2 ekonomi, baru kemudian dia mengambil kebijakan untuk
      memperbaikinya. Itulah sebabnya beberapa kali tahun lalu Bernanke
      disesalkan oleh pasar karena terlalu lambat mengambil keputusan penting,

      Sektor finansial adalah sektor yang sangat didukung oleh kepercayaan.
      Sekali kepercayaan itu runtuh, hancurlah sektor tersebut.

      Suatu negara yg sektor finansialnya jauh lebih maju dari sektor riilnya,
      akan menanggung resiko besar bila kepercayaan runtuh.
      Sewajarnya adalah sektor riil lebih maju dari sektor finansial.
      Sektor finansial hanyalah pendukung dari sektor riil.

      Kejadian ini bisa menjadi pengalaman yg sangat berharga bagi
      bangsa kita akan dikemudian hari lebih fokus lagi pada pengembangan
      sektor riil. Sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan
      perlu mendapatkan porsi perhatian dan penanganan yang lebih serius lagi..


      jabat erat,
      Irwan Ariston Napitupulu






   

Kirim email ke