Bang IAN, rasanya agak kurang pas kalau pelemahan rupiah terlalu dipolitisir 
apalagi dikaitkan dengan presiden SBY. Kita lihat bagaimana mata uang US$ yang 
memang sedang menguat di seantero dunia terhadap hampir seluruh mata uang, 
tidak terkecuali rupiah. Penyebabnya antara lain investors Amerika melikuidasi 
portofolio investasi mereka di negara2 diluar Amerika, kemudian proceednya di 
convert menjadi US$ untuk kemudian ditransfer untuk memenuhi kesulitan 
likuiditas perusahaan induknya di Amerika. Apabila nilai portofolio investasi 
yang dilikuidasi dan kemudian diconvert menjadi US$ dalam jumlah besar, maka 
mau tidak mau akan mempengaruhi nila mata uang lokal/setempat, sehingga 
penguatan mata uang US$ terjadi di mana2 dan terhadap hampir semua mata uang 
non US$. Akan halnya kebijakan BI yang memelihara suku bunga tinggi, saya 
setuju bahwa kebijakan suku bunga tinggi yang dianut BI memang sudah salah 
kaprah. BI hanya melihat dengan suku bunga yang tinggi
 pemeliharaan nilai mata uang rupiah dapat terjamin, tapi nyatanya rupiah tetap 
saja jeblok, sementara sektor riil terbelenggu, pertumbuhan terhambat, capital 
flightpun tidak mampu dicegah. Seharusnya BI cepat tanggap untuk secara lebih 
agresif segera menurunkan suku bunga, salam cuan.

--- On Mon, 12/15/08, Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> wrote:
From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
Subject: [saham] SBY Dikerjain Lewat Pelemahan Rupiah
To: [email protected]
Date: Monday, December 15, 2008, 6:47 PM










    
            Saya perhatikan SBY lagi dikerjain lewat pelemahaan rupiah. 
Pelemahan

rupiah sangat jelas membuat daya beli masyarakat turun.  Walau mereka

katakan masih bergaji (tidak di PHK) dan gajinya tetap, maka dapat

dipastikan daya beli dan tingkat kesejahteraan orang tersebut

berkurang seiring dengan menurunnya nilai rupiah. Bayangkan, yang

bergaji saja tingkat kesejahteraannya turun, bagaimana pula dengan

mereka yang kena PHK atau tidak memiliki pekerjaan, makin parah saja

kondisinya.



Dengan penurunan nilai tukar rupiah dan belum mau balik ke 9000 ini,

maka lawan2 politik SBY semakin mudah mengerjai SBY lewat kampanye

rakyat susah, daya beli masyarakat rendah, rakyat miskin,

dst....dst.. .dst. Rakyat yg perutnya susah yg jadi prioritas mereka

adalah ngurusin perut dulu ketimbang mikirin koruptor. SBY sibuk

ngurusin koruptor, tapi tidak sadar dikerjai lewat pelemahan rupiah.



Saatnya SBY bangung dan sadar untuk segera memperkuat rupiah bila

ingin tingkat kesejahteraan rakyat berkurang, tingkat kemiskinan

rakyat berkurang, tingkat inflasi berkurang.



Salah satu cara ampuh saat ini untuk menguatkan rupiah adalah dengan

menurunkan BI rate dengan lebih aggresive lagi. Saya masih tetap

mengkampanyekan BI rate yg ideal untuk sektor riil bangkit adalah di

3% dalam 12 bulan ke depan, dan pertahankan tingkat BI rate di 3%

selama 4 tahun ke depan. Sekarang, penurunan bisa dilakukan secara

bertahap 50 basis poin per setiap penurunan.



Duit nganggur jangan dikasih makan, duit asing jangan dikasih makan di

SBI. Hapuskan SBI. Pemerintah cukup pakai SUN. BI cukup pakai RR.

Sudah saatnya BI menghentikan pemborosan puluhan triliun rupiah untuk

bayar bunga SBI per tahunnya.



Bank harus didorong untuk mengucurkan kredit ke sektor riil ketimbang

taruh di SBI. Ekonomi jadi tidak efektif, dan makin meningkatkan

inflasi saja karena pada akhirnya duit beredar jadi nambah akibat

bunga SBI yg dibayarkan BI.



jabat erat,

Irwan Ariston Napitupulu



jabat erat,

Irwan Ariston Napitupulu


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke