Tambahan lagi pak. Berapa biaya sosialisasi + biaya cetak uang baru + biaya 
tarik uang lama? Efeknya lagi tambahan pekerjaan waktu, efek psikologis masy. 
Sptnya too much. Habis waktu dan uang. Apa ga lbh baik dipakai utk pembangunan 
yg lbh nyata?

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "T Jayamudita" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 1 Aug 2010 08:30:00 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Reverse split Rupiah

Saya ada sedikit pemikiran, mungkin Pak IAN dan rekan2 yang mengerti moneter 
bisa membantu :

Kalau hal ini benar2 dilakukan oleh pemerintah dan BI, rasanya akan terjadi 
hyper inflasi terselubung, jika Rp 10000 menjadi Rp 1, harga barang dan jasa 
yang yang berlaku di level di bawah Rp 1000 akan bernilai berapa?

Kalai Rp 10000 = Rp 1, berarti Rp 1000 = Rp 0.1, Rp 100 = Rp 0.01, bagaimana 
cara membayarnya dalam transaksi, apakah akan dicetak uang yang bernominal 
segitu? Ini masalah dalam bentuk nominal alat tukur (Rupiah).

Dari segi nilai (Rupiah), perubahan dari 0.1 ke 0.2 itu mudah sekali (rasanya 
nilai 0.01 kok sulit diberlakukan), jika sebuah barang atau jasa yang senilai 
0.1 berubah menjadi 0.2, bukankah itu terjadi kenaikan 100%!

Bila nominal terkecil nanti adalah 0.1 (=1000), maka akan terjadi kenaikan 
harga (atau penurunan nilai) sebesar Rp 1000 karena yang < 1000 naik ke 0.1 
(=1000), kelihatannya hanya akan menguap nilai 10%, tapi nilai dan harga dari 
0.01 ke 0.1 itu naik berapa%, atau sesungguhnya nilai Rp menyusut berapa%??

Kalau di pasar modal (termasuk obligasi, saham, ikatan transaksi derivatif dll) 
mungkin bertransaksi dengan nominal 0.01 masih bisa karena memang menggunakan 
alat tukar elektrik (tidak berbentuk fisik), tapi bisakah harga nominal 
selembar saham berubah secara otomatis dari 0.01 menjadi 0.1 (karena tidak ada 
nilai atau alat tukar 0.01) tanpa melakukan perubahan nilai harga 
perusahaannya, seperti yang mungkin akan terjadi dalam kegiatan ekonomi riil 
dalam masyarakat?

Apa kepentingan dan keuntungan kalau "nilai Rp 1 itu lebih berarti" sebagaimana 
yang dijelaskan oleh sang menteri? Apakah kalau Rp 1 = USD 1.1 (sesuai dengan 
kurs saat ini) itu pasti menandakan bahwa ekonomi negara kita ini kuat, padahal 
nominal alat tukar banyak negara yang maju juga hampir sama dengan Indonesia.

Terima kasih atas kesediaannya.

Salam,
TJ

  ----- Original Message ----- 
  From: [email protected] 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, August 01, 2010 7:36 AM
  Subject: Re: [saham] Reverse split Rupiah


    

  Bedanya dg sanering masa lalu apa?


  Sent from my BlackBerry®
  powered by Sinyal Kuat INDOSAT


------------------------------------------------------------------------------

  From: Radi P. <[email protected]> 
  Sender: [email protected] 
  Date: Sun, 1 Aug 2010 09:12:20 +0900
  To: <[email protected]>
  ReplyTo: [email protected] 
  Subject: RE: [saham] Reverse split Rupiah


    
  Paling ga 1 dolar jd 9 rupiah..
  Lebih enak di denger di kuping.. 
  Tidak lagi junk money kata bule2..
  Yaa..paling ga ngurangin rasa malu rakyat, kalo ada meeting moneter di luar 
negri..

  Efeknya utk rakyat?
  Kayanya ga ada..





------------------------------------------------------------------------------
  From: Erianto Wong <[email protected]>
  Sent: Sunday, 1 August 2010 7:45 AM
  To: Saham <[email protected]>
  Subject: Re: [saham] Reverse split Rupiah

    
  Apa bedanya nilai tukar dan nilai rupiah? Kalo yg dikurangi angka nol nya 
cuma nilai tukar apakah nilai rupiah ga berkurang nolnya? Apa efeknya utk 
rakyat? Thanks

  Powered by Telkomsel BlackBerry®


------------------------------------------------------------------------------

  From: "hery santoso" <[email protected]>
  Sender: [email protected]
  Date: Sat, 31 Jul 2010 16:16:53 +0000
  To: Saham<[email protected]>
  ReplyTo: [email protected]
  Subject: Re: [saham] Reverse split Rupiah


    
  Asik entar harga laptop cm 6rb-an,spd motor cm 14rb,apartemen cm 700rb,aya2 
wae nambahin pusing n kerjaan yg nggak penting,efek positifnya apa ya

  YM,FB :[email protected]
  From ‪ HeryBerry®
  powered by KINGDOM OF GOD


------------------------------------------------------------------------------

  From: Treasure Seeker <[email protected]>
  Sender: [email protected]
  Date: Sat, 31 Jul 2010 18:42:19 +0300
  To: <[email protected]>
  ReplyTo: [email protected]
  Subject: [saham] Reverse split Rupiah


   

  Source: 
http://www.kontan.co.id/index.php/keuangan/news/42435/Kala-Rp-10-Ribu-Jadi-Rp-1



  Sabtu, 31 Juli 2010 | 19:50

  PEMOTONGAN NILAI RUPIAH 

  Kala Rp 10 Ribu Jadi Rp 1 


  JAKARTA. Isu pemotongan nilai rupiah sebenarnya sudah banyak beredar, 
terutama sejak nilai tukar rupiah melorot 4-5 kali lipat terhadap dolar 
Amerika. Beberapa kali juga pemerintah membantah isu pemotongan rupiah yang 
sempat membuat trauma banyak orang Indonesia di tahun 1950 dengan menggunting 
uang menjadi setengahnya. 
  Tapi kini Bank Indonesia benar-benar sudah berancang akan melakukan 
pemotongan atau istilah kerennya redenominasi rupiah. Tapi dalam redenominasi 
nilai tukar yang terjadi hanya pemotongan nilai mata uang untuk menjadi lebih 
kecil tanpa mengubah nilai tukarnya.

  Gubernur BI terpilih Darmin Nasution mengatakan saat ini BI tengah menggodok 
wacana mengenai redenominasi nilai tukar rupiah. "BI sedang menyiapkan sejumlah 
hal agar nilai Rp 1 itu lebih berarti," ujar Darmin Sabtu (31/7).

  Ia menambahkan, rencana redenominasi nilai tukar ini nantinya akan dibahas 
terlebih dahulu dengan pemerintah dan DPR. "Harus melalui Dewan Perwakilan 
Rakyat baru nanti kita soasialisasikan," jelasnya.

  Dalam redenominasi, akan ada pemotongan angka nol pada nilai mata uang. 
Pemotongan nol biasanya tiga buah di belakang. Tapi Darmin mengatakan belum 
bisa memutuskan berapa jumlah angka nol yang akan dipotong. "Belum bisa 
diputuskan sekarang berapa angka nol yang akan dikurangi, apakah tiga atau 
empat. Namun hasil pembahasan akan diusahakan disampaikan ke pemerintah tahun 
ini," janji mantan Dirjen pajak ini.

  Sebenarnya proses untuk melakukan redenominasi nilai tukar membutuhkan waktu 
sekitar empat hingga lima tahun.

  Menurut Deputi Gubernur BI Budi Rochadi, setidaknya ada tiga persyaratan yang 
harus dipenuhi jika ingin melakukan penyederhanaan satuan nilai tukar.Tiga 
persyaratan itu adalah kondisi ekonomi yang stabl, inflasi yang terjaga rendah, 
dan adanya jaminan stabilitas harga.

  Selain itu, untuk melakukan redenominasi nilai tukar juga dibutuhkan 
penarikan uang yang beredar di masyarakat secara bertahap. "Hal yang paling 
sulit dilakukan dengan cepat dan mudah adalah sosialisai kepada seluruh 
masyarakat Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa," jelasnya.



  Herlina KD



  

Kirim email ke