Bank Sentral Cina diperkirakan semakin dekat untuk menaikkan suku bunga
menjelang akhir pekan ini sebagai implementasi peralihan kebijakan moneter
yang lebih ketat dari sebelumnya 'moderately-loose' menjadi 'prudent' di
tengah meningginya inflasi.  Semakin dekatnya kebijakan menaikkan suku bunga
ini tidak datang dari sembarang sumber informasi, melainkan telah terpampang
dalam 'banner headline' pada halaman muka "China Securities Journal" (CSJ) (
http://www.cs.com.cn ) Selasa lalu. CSJ mengungkapkan bahwa akhir pekan ini
merupakan waktu yang paling sensitif untuk kenaikan suku bunga, sekaligus
kali kedua dalam waktu pendek Pemerintah Cina menaikkan suku bunga sebagai
bagian kebijakan pengetatan. Sementara Kamis kemarin meningkat drastisnya
inflasi harga-harga properti di Cina sebagaimana laporan perumahan tahunan
Chinese Academy of Social Sciences menjadi pendukung tambahan urgensi
kenaikan suku bunga.

CSJ menambahkan bahwa waktunya sudah cukup tepat untuk mengambil tindakan
menaikkan suku bunga mengingat indikator resmi ekonomi bulanan yang juga
mencatat indeks harga konsumen dan akan dirilis Senin besok, 13 Desember,
sangat mungkin menunjukkan kenaikan sebagai akibat tekanan inflasi. CSJ
menyatakan, tanpa menyebutkan narasumber, bahwa "Merujuk kepada rekam jejak
bank sentral dalam menaikkan suku bunga beberapa saat dan tidak lama sebelum
indeks harga konsumer dirilis maka akhir pekan ini sangat dimungkinkan
sekali kebijakan tersebut akan diambil". Dan, sebagai tambahan 'update'
informasi, biro statistik Cina baru saja mengumumkan bahwa data rilis
indikator ekonomi bulanan dimajukan dari 13 Desember menjadi 11 Desember (
http://www.businessweek.com/news/2010-12-07/china-brings-forward-nov-data-release-to-dec-11.html
).

CSJ tercatat memiliki rekam jejak yang baik dalam memprediksi pengambilan
kebijakan ekonomi Pemerintah Cina. CSJ melaporkan pada 17 November dan 2
hari kemudian bank sentral menaikkan giro wajib minimum. Lalu, pada 12
Pebruari CSJ menyebutkan bahwa bank sentral akan menaikkan cadangan giro
wajib minimum, dan bank sentral mengambil kebijakan tersebut beberapa jam
setelah rilis CSJ.

Bank sentral Cina juga memiliki kecenderungan untuk mengumumkan kebijakan
pada waktu yang tidak jauh dari rilis data ekonomi bulanan. Pada Oktober
lalu, Bank sentral mengumumkan kenaikan suku bunga dua hari sebelum rilis
data indikator ekonomi bulanan.

Dengan hasil survei terkini terhadap 29 ekonomis yang dilansir oleh
Bloomberg, mengindikasikan jika data inflasi yang diumumkan akhir pekan ini
menunjukkan indeks harga konsumen mendaki 4,7% di November. Sementara,
Sinolink Securities Co. bahkan memprediksi kenaikan antara 5-5,2%. Fakta
bahwa pengumuman angka inflasi dimajukan dari Senin, 13 Desember menjadi
Sabtu besok, 11 Desember, diantisipasi oleh sebagian besar pasar sebagai
sinyal kuat akan dinaikkannya suku bunga sesegera mungkin (
http://www.businessweek.com/news/2010-12-08/china-swapping-data-release-date-may-mean-rate-rise-socgen-says.html
).

Kenaikan suku bunga akan berimplikasi langsung setidaknya short-term
terhadap pembatasan pendanaan belanja yang berujung kepada pengurangan
spekulasi atas komoditas.

'+'

Kirim email ke