Regulator bukan market follower..
Mau kaya Fed yang akhirnya nelen ludah sendiri?

2011/1/14 positif01 <[email protected]>

>
>
> Persoalannya satu yang 'missed' dalam argumentasi Irwan, dan yang satu itu
> yang sangat penting: persepsi/sentimen pasar. Persepsi/sentimen pasar
> berimplikasi terhadap besaran premi resiko ('risk premium') suatu negara.
> Kita bisa katan, return/yield riil dengan berbagai aspek perhitungan
> hasilnya toh masih lebih baik daripada return serupa di 'developed market'.
> Masalahnya, pasar mendiskon segala sesuatu sebesar premi resiko yang mereka
> pandang lebih sesuai dengan profil negara bersangkutan.
>
> Dan, dalam konteks pasar saham/ekuitas Indonesia, persepsi/sentimen asing
> lebih berdampak ketimbang persepsi/sentimen lokal karena praktis asing
> menguasai sekitar 70% aset portofolio. Sekarang apa persepsi/sentimen mereka
> terhadap kondisi pasar secara keseluruhan.
>
> Satu hal lagi untuk 'refreshing' saja sekaligus menguji kesahihan
> 'attractiveness' return investasi portofolio di Indonesia dibandingkan less
> return di developed market dari perhitungan angka belaka, coba cermati
> kondisi/kejadian pendahuluan di awal (bukan saat/puncak) krisis finansial
> Asia 2007/2008, kalau perhitungannya hanya besaran angka 'return', BI rate
> saat itu perlahan tapi pasti sudah naik dari 8 ke 9 ke 10 sampai puncaknya
> 23%. Ekonomi maju berdaulat mana yang mampu menyaingi 'return' sebesar itu
> tidak hanya saat itu, tapi juga saat ini? Tidak ada toh. Kenyataannya,
> apakah dana asing tambah masuk ('inflow') atau malah tambah keluar
> ('outlfow')? Tentu jawabanya tambah keluar, kalau tambah masuk atau at least
> bertahan, ya 'ga jadi "krismon" dong waktu itu :d.
>
> So, apa 'morale of the story'-nya? Bahwa ada elemen lain yaitu
> persepsi/sentimen pasar selain hitungan angka di atas kertas yang perlu dan
> harus dikelola dengan baik oleh otoritas berwenang di negara manapun. Jangan
> sampai terlambat menyikapi sentimen pasar karena akan susah membaliknya
> ('reverse') jika sentimen sudah begitu meluas. Btw, 1997/1998 apa benar
> fundamental ekonomi saat itu demikian buruknya?
>
> Jika ingin lain sendiri, apalagi kemudian itu diamini dengan pasar yang
> bergerak sejalan. Jika tidak, ya tidak perlu dipaksakan. Yang paling bisa
> memaksakan kehendaknya saat ini dan bisa mendikte pasar, adalah Cina, dan
> apa yang sudah mereka lakukan?
>
> “Once the central bank does the adjustment in terms of interest rates, the
> coupon rate for bonds will increase,” said Masassya, who prefers to buy
> bonds with a maturity of five years and longer. Policy makers “must do the
> adjustment to control the inflation rate and also convince investors that
> the central bank is doing the right thing in terms of monetary policy.”
>
> “Don’t forget higher inflation means higher growth,” he said. “I still
> believe economic growth this year could be more than 6.5 percent, driven by
> consumption and investments.” (Bloomberg)
>
> '+'
>
> 2011/1/14 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>
>
>>
>> BI Rate 6,5% itu sudah ketinggian. Analis asing menginginkan suku bunga di
>> Indonesia dinaikan agar mereka bisa dapat bunga lebih besar. Ngga perlu
>> dinaikan.
>>
>> Amerika saat ini hanya 0-0,25%, Jepang 0,1%, Swiss 0,25%, Inggris 0,5%,
>> Uni Eropa 1%, Canada 1%, China 2,75%, Australia 4,5%.
>>
>> Biarkan saja duit lari ke LN, memang mau lari kemana yg bisa dapat bunga
>> 6,5%?  Mau ke Zimbabwe?
>>
>> Apa pemilik dana disini mau pindahin ke Singapore yg kasih bunga 0,02%
>> sementara tingkat inflasi disana 3,8%?
>>
>> Sebenarnya investasi di obligasi/deposito/tabungan itu ngga ada kaitannya
>> dengan tingkat inflasi dalam artian tidak otomatis berarti bila suku bunga
>> di suatu negara lebih rendah dari tingkat inflasi di negara tersebut, maka
>> investasi itu buruk. Investasi itu dilihat dari berapa bunga bersih yg
>> didapat, lalu diadjust dengan perbedaan nilai tukarnya dengan mata uang yg
>> menjadi based kita.
>>
>> Sekedar contoh kita punya uang 100 ribu, katakan saja dulu bunga di
>> Indonesia 6,5% (pajak saya abaikan saja dulu supaya ngga repot, karena bunga
>> di negara lain juga umumnya kena pajak). Jadi, setahun dapat 6500. Katakan
>> saja inflasi 7%. Terlihat seolah2 merugi investasinya secara riil.
>>
>> Alternatif investasi di negara lain, katakan negara A. Suku bunganya 3%,
>> inflasi 1%, perbedaan nilai tukar mata uangnya dengan rupiah di awal tahun 1
>> dolar A = Rp1000, dan di akhir tahun 1 dolar A= Rp990.
>> Maka, investasi awal Rp100 ribu harus ditukar menjadi mata uang lokal,
>> mendapat 100 dolar A. Selama setahun, dapat bunga 3%, maka 100 dolar A
>> investasi kita berubah di akhir tahun menjadi 103 dolar A. Lalu kita
>> konversikan balik ke rupiah menjadi 103x990 = Rp101.970.  Alias investasinya
>> kalau dihitung balik ke rupiah hanya dapat cuan 1.970 atau secara prosentase
>> hanya 1,97% saja.
>>
>> Contoh di atas kalau diasumsikan yg menjadi investor adalah orang
>> Indonesia. Sekarang kita ambil contoh yg menjadi investor adalah orang di
>> negara A. Sama seperti di atas asumsinya, yaitu modal investasi awal 100
>> dolar A. Kurs awal tahun sama seperti di atas, sehingga rupiahnya menjadi
>> Rp100 ribu. Di Indonesia investasi Rp100 ribu menjadi Rp106.500 di akhir
>> tahun yg bila dikonversi balik ke mata uangnya sama dengan 107,57 dolar
>> negara A alias dia dapat untung 7,57 dolar A atau 7,57%.
>>
>> Sebaliknya bila dia invest di negaranya sendiri, uang 100 dolar A, diakhir
>> tahun menjadi 103 dolar A atau untung 3 dolar A alias 3%.
>>
>> Semoga sekarang bisa dilihat, bahwa tingkat inflasi ngga ngaruh dalam
>> kondisi seperti di atas. Mau tingkat inflasi di Indonesia 10% pun, selama
>> nilai mata uangnya stabil, maka tidak akan pengaruh pada perhitungan di
>> atas.
>>
>>
>> Tingka inflasi baru berpengaruh atau terasa kepada perhitungan daya beli.
>> Misalkan saya punya Rp100 ribu, dapat bunga hanya 6,5% per tahun, tapi
>> tingkat inflasi 7%, maka saya yg tinggal dan hidup di Indonesia, akan
>> merasakan daya beli uang saya menurun walau dapat tambahan dari bunga.
>> Karenanya, investasi tersebut jadi investasi yang merugi. Saya akan mencari
>> cara untuk mendapatkan keuntungan dari modal saya lebih dari tingkat inflasi
>> agar daya beli uang saya tidak menurun. Apalagi bila investasi saya tersebut
>> untuk tujuan tabungan di hari tua nanti.
>>
>> Dengan begitu, maka saya akan berusaha mencari alternatif investasi lain
>> yg bisa memberikan hasil lebih dari 7% setahun. Di majalah Investor edisi
>> April 2010, sudah pernah saya tuliskan artikel yang berkaitan dengan itu.
>> Dimana di artikel tersebut saya coba kasih contoh saham sebagai alternatif
>> investasi. Saya berikan tabel kinerja saham 5 tahun, dari awal 2005 sampai
>> akhir 2009 dimana tingkat return saham rata2 di atas 20% per tahun sudah
>> bebas pajak, dan sudah termasuk kena crash tahun 2008. Maksudnya investasi
>> disini adalah beli dan simpan saja, tidak ditradingkan alias hanya didiamkan
>> saja.
>>
>> Cara lain adalah dengan masuk ke sektor riil yg bisa memberikan keuntungan
>> setahun lebih besar dari tingkat inflasi.
>>
>> Maka, dengan BI menjaga suku bunga tetap rendah, akan sangat membantu
>> sektor riil berkembang. Bahkan, menurut saya BI rate harusnya berada
>> disekitar 3% saja bila kita mau sektor riil kita berkembang pesat dan
>> pengangguran bisa cepat dikurangi.
>>
>> Jadi, masalah suku bunga rendah itu tidak memiliki pengaruh kuat asing
>> jadi tidak tertarik masuk ke sektor riil. Justru asing malah lebih tertarik
>> bila suku bunga di satu negara murah. Kalau investasi di instrumen pasar
>> uang, barulah suku bunga rendah itu daya tariknya bisa berkurang. Tapi, hari
>> gini, ngapain juga sih kasih makan duit asing. Kasihan selama ini rakyat
>> Indonesia kasih makan investasi asing di SUN maupun SBI. Sudah saatnya kita
>> tidak memperkaya mereka lagi.
>>
>>
>> jabat erat,
>> Irwan Ariston Napitupulu
>>
>>
>> 2011/1/14 positif01 <[email protected]>
>>
>>
>>>
>>> Dari sejumlah negara-negara 'emerging markets' termasuk representasi BRIC
>>> (Brasil, Rusia, India, Cina) dan yang ada dalam lingkup Asia/Asia Tenggara,
>>> hanya Indonesia yang belum menyesuaikan suku bunga atas dasar argumentasi
>>> 'core inflation' belum melampaui 'headline inflation' (food and fuel).
>>>
>>> Yang kukuh dengan posisi core inflation vs headline inflation ini adalah
>>> Amerika Serikat, yang cenderung/kerap mengabaikan 'headline inflation'. Tapi
>>> ada alasannya, kenapa. Pernah dibahas dan dimuat di Bloomberg, sekaligus
>>> membandingkan mengapa 'emerging markets' tidak punya alasan serupa. Karena
>>> komponen 'headline inflation', food and fuel itu menyumbang 30-40% dari
>>> total pendapatan ('income') per kapita penduduk AS. Bandingkan di 'emerging
>>> market' apalagi negara berkembang/dunia ke-3, makanan dan bbm bisa
>>> menyumbang >70%....termasuk di antaranya Indonesia.
>>>
>>> Oleh karena itu, jika banyak analis/lembaga internasional yang
>>> merekomendasikan BI untuk sigap menyesuaikan suku bunga bukan karena
>>> tendensi negatif, tetapi memang sepantasnya seperti itu menurut mereka. Jika
>>> argumennya kekhawatiran akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi,
>>> kenyataannya Cina dan India yang lebih tinggi persentase pertumbuhan
>>> ekonominya sudah beberapa kali menaikkan suku bunga tahun lalu selain
>>> menaikkan GWM. Dan, sebagaimana disebutkan oleh Reuters bahwa 'decoupling'
>>> atau disparitas/perbedaan antara 'headline' dan 'core' inflation itu secara
>>> historis tidak akan pernah lama. Kurang lebih kalau pelaku pasar yang lebih
>>> pragmatis mengatakan, "Apa perlu menunggu dampak sampingan yang lebih
>>> serius?"
>>>
>>> '+'
>>>
>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:57 AM, PyRiEL PyRiEL 
>>> <[email protected]>wrote:
>>>
>>>>
>>>>
>>>> Diskusi bang ian..
>>>> Naiknya BI rate ataupun RR selalu dijadikan alasan banking untuk naikin
>>>> suku bunga pinjaman..
>>>> Sejak RR dinaekin dari 5 ke 8%, naik tuh suku bunga kredit..
>>>>
>>>> Sebenernya, transmisi yang lebih stabil untuk sedot likuiditas ya RR
>>>> ini..
>>>>
>>>> Tapi apapun itu, untuk selesaikan masalah inflasi saat ini seharusnya
>>>> bukan dari sisi moneter yang digenjot..
>>>> Kutip dari Positive:
>>>> 1.  the core inflation rateheld steady in December at 4.3 per cent
>>>> 2.  consumer price inflation – driven by food – continued to accelerate
>>>> to 7 per cent
>>>> 3. rate rises need not attract inordinate amounts of hot money.
>>>>
>>>> Jangan sampe salah obat, yang ada makin parah sakitnya
>>>>
>>>>
>>>>
>>>>
>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:35 AM, Irwan Ariston Napitupulu <
>>>> [email protected]> wrote:
>>>>
>>>>>
>>>>>
>>>>> Suku bunga ngga perlu naik karena malah jadi penyebab inflasi itu
>>>>> sendiri dalam kasus Indonesia.
>>>>>
>>>>> Naikan saja GWM nya, Giro Wajib Minimum (kalau istilah di buku
>>>>> pelajaran adalah Reserve Requirement) yang saat ini masih terlalu rendah,
>>>>> baru 8%, untuk negara dengan growth seperti Indonesia. China tingkat GWM 
>>>>> nya
>>>>> 18,5%. Sementara tingka suku bunga deposito 1 tahun di China hanya 2,75% 
>>>>> dan
>>>>> tingkat suku bunga pinjaman di China 5,81%.
>>>>>
>>>>> Peningkatan GWM sangat efektif dalam menekan jumlah uang beredar.
>>>>> Bagi yg ingin belajar apa itu GWM dan bagaimana pengaruhnya ke ekonomi,
>>>>> silakan baca2 di:
>>>>>
>>>>> http://en.wikipedia.org/wiki/Reserve_requirement
>>>>>
>>>>> jabat erat,
>>>>> Irwan Ariston Napitupulu
>>>>>
>>>>>
>>>>>
>>>>>
>>>>> On Fri, Jan 14, 2011 at 9:24 AM, positif01 <[email protected]>wrote:
>>>>>
>>>>>>
>>>>>>
>>>>>> Ferry Wong, head of Indonesia research at Macquarie Securities in
>>>>>> Jakarta, said the central bank was behind the curve on inflation.
>>>>>>
>>>>>> "I think some foreign investors were not too comfortable with the
>>>>>> central bank's not raising interest rates despite high inflation," he 
>>>>>> said.
>>>>>> (Reuters)
>>>>>>
>>>>>> BI’s decision to keep its policy interest rate at 6.5 per cent for the
>>>>>> 17th month <http://www.bi.go.id/web/en/Moneter/BI+Rate/Data+BI+Rate/>in 
>>>>>> a row rests on two assumptions: that food price inflation won’t spill
>>>>>> into core inflation, and that interest-rate increases would attract 
>>>>>> damaging
>>>>>> short-term<http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/10AAF037-83D2-4972-A561-8DFF73D22DE9/21042/GBI_IndonesiaInvestmentForumJakarta.pdf>capital
>>>>>>  flows. Both are dubious. First, it is true that the core inflation
>>>>>> rate (excluding food and energy) held steady in December at 4.3 per cent,
>>>>>> while headline consumer price inflation – driven by food, which accounts 
>>>>>> for
>>>>>> about a third of the 
>>>>>> CPI<http://dds.bps.go.id/eng/brs_file/eng-inflasi-01dec10.pdf>basket – 
>>>>>> continued to accelerate to 7 per cent, well outside the target zone
>>>>>> of 4 to 6. But headline and core never decouple for long. Consumer 
>>>>>> surveys
>>>>>> and rising 10-year bond yields suggest that inflation expectations are
>>>>>> taking root. Second, rate rises need not attract inordinate amounts of 
>>>>>> hot
>>>>>> money if capital 
>>>>>> controls<http://www.ft.com/cms/s/0/f730a2b6-1c26-11e0-9b56-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>are
>>>>>>  effective, and everyone else is
>>>>>> tightening<http://www.ft.com/cms/s/3/60a426c4-fd31-11df-b83c-00144feab49a.html#axzz1Ab0kjIbh>too.
>>>>>>  (Financial Times).
>>>>>>
>>>>>>
>>>>>>
>>>>>>
>>>>>
>>>>
>>>
>>>
>>>
>>
>  
>

Kirim email ke