Klo dipikir2 emang ngeri pak yah, koq bisa gitu hehehe....
Tapi yg luar biasa lage koq ada yg ngasih utang ma beli sahamnya hehehe bacande 
yeee. Klo batubara mmg DER ada toleransi utk resiko yg bs dterima diatas 150% 
lebih krn sistem trading. Cuman ini koq yg investasi palage holding nya koq 
gitu yee heee tp yah hukum alam high risk high gain. Mknya salut ma ANTM yg 
mngurangi sukur2 mhentikan transaksi spot logam mulia. Klo ada yg rugi diatas 
10 T gue angkat tupi deh!!! Salut gue tapi lebih salut lg yg beli sahamnya heee 
lage2 bcande yeee
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: budy darmawan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 31 Mar 2011 21:39:12 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Bls: [saham] Direvisi, Bakrie Brothers Ternyata Rugi Rp 7 Triliun di 
2010

kalo kaya gini sih bikin rugi 7 triliun saya aja deh yg jadi direksinya paling 
ruginya nga sampe 5 triliun deh saya jamin...soalnya begitu rugi 4 triliun 
langsung saya suruh stop dulu semua transaksi biar ruginya ga sampe 5 
triliun..ngapain gaji direksi gede gede kalo cuma bisa bikin rugi 7 triliun 
yaaa?? hehehehe....

regards,

budy darmawan,s.h.

--- Pada Kam, 31/3/11, Saham Gorengan <[email protected]> menulis:

Dari: Saham Gorengan <[email protected]>
Judul: [saham] Direvisi, Bakrie Brothers Ternyata Rugi Rp 7 Triliun di 2010
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 31 Maret, 2011, 12:33 AM















 
 



  


    
      
      
      sumber : 
http://www.detikfinance.com/read/2011/03/31/064518/1605326/6/direvisi-bakrie-brothers-ternyata-rugi-rp-7-triliun-di-2010?f9911023
 
Jakarta - Manajemen PT Bakrie & Brothers Tbk melakukan revisi atas rilis 
laporan keuangannya. Rugi tahun 2010 yang semula ditulis Rp 7,64 miliar 
ternyata yang benar adalah Rp 7,64 triliun. Aha!

Dalam rilis yang disampaikan manajemen BNBR pada Rabu (30/3/2011), dikatakan 
bahwa akibat pelepasan saham, BNBR menderita net loss sebesar Rp 7.640.918.548 
di penghujung 2010.

"Seharusnya ditulis... senilai Rp 7.640.918.548.000 (tujuh triliun enam ratus 
miliar sembilan ratus juta lima ratus empat puluh delapan ribu) atau disingkat  
Rp 7,64 triliun," jelas Direktur BNBR Siddharta Moersjid dalam siaran persnya, 
Kamis (31/3/2011).

"Atas kesalahan ini kami sampaikan permohonan maaf," tambah Siddharta.

Angka kerugian tersebut berarti melonjak hingga 370%
 dibandingkan kerugian tahun 2009 yang 'hanya' Rp 1,627 triliun.

Menurut BNBR, setelah tahun buku 2010, kerugian investasi akan turun tajam. 
Dengan demikian, beban potensi kerugian investasi tahun 2008 yang selama ini 
dipikul oleh BNBR telah terealisir, dan diharapkan tidak akan berdampak 
terhadap kinerja BNBR di tahun 2011.

"Karena itu, saya sangat optimis, tahun 2011 ini dan juga tahun tahun 
selanjutnya, BNBR dapat menunjukkan kinerja keuangan yang akan meningkat pesat 
dan jauh lebih baik," kata Presiden Direktur & CEO BNBR Bobby Gafur Umar dalam 
siaran persnya.

Dalam rilis sebelumnya juga dikatakan, perseroan mencatatkan perolehan 
pendapatan bersih sebesar Rp 13,2 triliun, naik hampir 72% jika dibandingkan 
pendapatan bersih tahun 2009 sebesar Rp. 7,6 triliun.

Tahun lalu, BNBR juga merampungkan proses pelunasan pinjaman ke sejumlah 
kreditur melalui mekanisme debt buyback. Proses ini menurunkan posisi pinjaman 
BNBR
 senilai Rp 2,3 triliun.

Sepanjang tahun 2010, harga saham BNBR ikut terkoreksi, dari Rp 84 per lembar 
di akhir tahun 2009 turun % menjadi Rp 65 per lembar.

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham BNBR ditutup stagnan di Rp 66 
per lembar. Sahamnya diperdagangkan 2.595 kali dengan volume 482.114 lot 
senilai Rp 15,715 miliar.

 
waduhhh.... gimana saham BNBR nih ???
apa bakal mentok di 50 lagi ???

    
     

    
    


 



  











Kirim email ke