menurut saya sih lebih bagus beli saham dan di hold saja,mengingat resiko risk 
nya lebih besar membuka usaha daripada membeli saham, tapi kalau yakin usahanya 
bisa berjalan dengan laris/tidak ada matinya y boleh di coba buka usahanya (dan 
perlu di ingat untuk membuka usaha akan dibutuhkan inovasi yg rutin / mingikuti 
zaman, mengingat konsumen yg cepat bosan dan itu juga membutuhkan dana)
salammmm






________________________________
From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, April 1, 2011 9:03:31 AM
Subject: Re: [saham] Mana Lebih Beresiko?

  
Pak Tobeno dan rekan lainnya, silakan lihat kembali judul thread ini, "Mana 
Lebih Beresiko?".
Dari judulnya thread nya saja, saya sedang bertanya terhadap minimal dua hal 
yang sama2 beresiko, tapi yang saya tanyakan adalah mana yang LEBIH beresiko :)

Pertanyaan yang saya ajukan pun juga jelas, tidak diawang2 dan tidak ngambang 
kalau diperhatikan. Coba kita lihat lagi pertanyaannya:

-------
Mana yang lebih beresiko menurut anda saat ini dengan asumsi menggunakan  modal 
yg sama besar untuk diinvestasikan dengan jangka waktu 8 tahun ke  depan. 
Catatan, di saham hanya buy saja dan di hold terus alias tidak  ditradingkan 
dan 
dividennya di reinvestasikan.


Membeli saham ASII (Astra Internasional)
vs
Membuka restoran makanan

Membeli saham INDF (Indofood)
vs
Membuka usaha bakery (roti)


Membeli saham BMRI (Bank Mandiri)
vs
Membuka Salon Kecantikan
----------------------------------------

Anggota milis ini disodorkan akan situasi yang ada dan diminta responnya 
berdasarkan pendapat pribadi, bukan berdasarkan mana yang benar. Karena tidak 
ada jawaban yang benar bila menyangkut pendapat pribadi. Mengapa demikian? 
Karena bisa saja disini ada pengusaha restoran. Untuk pertanyaan pertama, maka 
bagi dia tentu akan menjawab lebih beresiko membeli saham ASII ketimbang 
membukan restoran makanan, karena memang dia sudah mengetahui betul seluk beluk 
restoran ketimbang perusahaan  Astra. Itu sebabnya di akhir pertanyaan, saya 
ada 
menulis demikian "Jawabannya saya yakin bisa berbeda2" dengan konteks pemikiran 
saya adalah latar belakang anggota milis ini bisa berbeda2 seperti yang saya 
sebutkan di atas, bisa saja ternyata seorang pengusaha restoran, atau pengusaha 
bakery, atau pengusaha salon kecantikan atau katakanlah dari keluarga yg 
memiliki usaha yang saya sebutkan itu.

Tapi jelas saya tidak mengharapkan perbedaan jawaban yang muncul hanya karena 
melebar dari yang ditanyakan. 

Perhatikan pertanyaan saya adalah mana yang lebih beresiko, bukan mana yang 
lebih menguntungkan. :)
Saya pun juga tidak sedang membandingkan dengan orang2 yg sukses di sektor riil 
vs yang sukses di saham, karena yang saya tanyakan adalah diri pribadi anggota 
milis ini, dan pertanyaannya pun juga spesifik ke ASII, INDF, BMRI, restoran 
makanan, bakery, salon kecantikan. Bukan bertanya tentang KLBF, SIPD, KARK, 
toko 
kelontong, mini market, sewa mobil, dll. Untuk jangka waktunya pun juga saya 
batas agar ada kejelasan dan tidak mengambang. Saya sebut dengan jelas 8 tahun 
sehingga ketika mau memberikan pendapat sudah ada kejelasan dari sisi waktu. 
Kalau saya tanyakan dengan berbagai waktu, misalkan 5 tahun, 8 tahun, 10 tahun, 
15 tahun, 20 tahun, nanti yang ditanya malah bingung jawabnya.

Mungkin kita perlu belajar fokus dengan apa yang ditanyakan, situasi 
pengkodisian yang sudah diberikan penanya. Kalau dipertanyakan pertanyaannya, 
malah jadi lucu. 


Misalkan, billa saya bertanya, "Seandainya anda saya beri tiket pesawat ke Bali 
untuk perjalanan selama seminggu, 1 Mei 2011-8 Mei 2011, apa yang akan anda 
lakukan?". Jawaban bisa saja dengan mengatakan, saya akan kembalikan karena 
tanggal segitu saya lagi ada tugas di kantor, atau bisa juga jawabannya, saya 
mau nikmati pantai kuta sepuasnya, dst. Tentunya akan jadi kurang tepat bila 
mempertanyakan pertanyaannya dengan pertanyaan2 seperti, "Mengapa ke Bali, 
kenapa tidak ke Manado atau ke Lombok?", "Mengapa tanggal 1 Mei 2011-8 Mei 
2011, 
dan bukan 1 Juni 2011-8 Juni 2011?", dst.....dst. Mungkin kita perlu belajar 
menghadapi situasi yang diciptakan oleh penanya, dan menjawab hanya berdasarkan 
apa yang ditanyakan, tanpa perlu takut jawabannya akan mengarah kemana :)

Apakah pertanyaan yang saya ajukan bias?
Saya rasa tidak, karena konteks saya adalah bertanya ke masing2 individu yang 
sudah saya duga, seperti ditulis di posting awal, bisa berbeda2 jawaban yang 
diberikan dengan dasar berpikir saya seperti yg saya sebutkan di atas, latar 
belakang anggota milis ini yang bisa berbeda2.

Pak Wisnu sempat mengatakan bahwa kalau pertanyaan diajukan ke milis wirausaha, 
maka jawaban mungkin berbeda. Betul, bisa saja begitu menurut saya. Karenanya 
saya tantang balik untuk dipertanyakan pertanyaan saya tersebut ke milis 
wirausaha. Hanya saja pertanyaannya sedikit dimodifikasi tanpa harus kehilangan 
nafas awalnya dari pertanyaannya.

Pertanyaan yang bisa diajukan di milis wirausaha adalah:

"Manakah yang menurut anda lebih beresiko secara bisnis untuk masa investasi 8 
tahun ke depan, membuka restoran makanan yang baru atau menanamkan uang kita di 
Astra Internasional dengan cara memiliki sebagian kecil kepemilikan perusahaan 
Astra Internasional."

Saya sengaja tidak menyebut saham, karena bisa jadi tidak semua anggota milis 
wirausaha mengerti soal saham ASII itu saham apaan. Jadi, pertanyaannya sedikit 
dimodifikasi tanpa menghilangkan maksudnya. Kata saham ASII saya ganti dengan 
kepemilikan di perusahaan Astra International.

Sebenarnya, ada pertanyaan klasik di kalangan calon wirausahawan yang jiwa dari 
pertanyaannya sama dengan jiwa dari pertanyaan saya. Pertanyaan klasik itu 
adalah

"Manakah yang lebih aman atau resikonya lebih rendah, membuka usaha sendiri dan 
memulainya dari baru, ataukah join dengan salah satu franchise terkenal yang 
sudah terbukti sukses."

Kalau pertanyaan yang satu ini saya sebutkan di mils ini, saya duga akan banyak 
yang menjawab, "Lebih tidak beresiko memulai usaha baru dengan join ke 
franchise 
terkenal yang sudah terbukti sukses."

Pertanyaan saya terdahulu itu pun juga sebenarnya memiliki jiiwa yang sama. 
Bila 
kita ingin berinvestasi, apakah kita lebih beresiko untuk investasi di sektor 
riil yang mungkin kita tidak menguasai sisi bisnis, tidak tahu cara 
mengelolanya, tidak paham cara menjalankannya, ataukah kita menginvestasikan 
dana kita ke perusahaan yang sudah jelas2 sukses selama bertahun2, produknya 
dikenal luas dan termasuk salah satu leader dibidangnya, dan juga sektornya 
memiliki pertumbuhan yang bagus.

Mungkin, kalau saya tanyakan seperti di atas, jawaban akan lebih seragam yaitu 
lebih beresiko membuka usaha disektor riil yang bisa jadi kita tidak menguasai 
sisi bisnisnya, ketimbang kita join ke perusahaan yang sudah jelas2 sukses. 
Tapi 
saya memang sengaja tidak mengajukan pertanyaan seperti itu :)

Terakhir, saya tidak sedang mencoba membuat satu kesimpulan, tapi lebih kepada 
mencoba membukakan wacana yang selama ini mungkin tidak disadari oleh 
masyarakat 
luas yaitu terkait dengan investasi di saham. Tidak banyak yang menyadari bahwa 
investasi di saham itu sebenarnya sama dengan kita join/bergabung dengan 
perusahaan yang kita beli sahamnya. 



jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


2011/4/1 tobeno <[email protected]>


>
>
>
>Bias!  Karena ditanyakan di milis saham (meminjam istilah Pak Wisnu). Sangat 
>mungkin orang-orangnya bukan pelaku sektor riil.
>
>Dan cenderung tendensius.
>
>Membandingkan kinerja saham yang sudah memiliki track record baik di masa lalu 
>vs. membuka usaha baru. Ini yang pertama.
>
>Kedua mengapa periodenya 8 tahun? Bukan 5 atau 15 tahun.
>
>Di radio saya mendengar seseorang buka resto di tempat yang baik dengan modal 
>Rp 
>1.8 M.  Untung bersih minimal Rp 50 juta/bulan (hanya Rp. 1.6 jt/hari).  
>Paling 
>lama tiga tahun balik modal.  Setelah itu ybs tinggal memetik hasil tanpa 
>modal.
>
>Mengapa orang ini berani?  Besar kemungkinan ybs sudah berpengalaman.
>
>Catatan:  hati-hati Bang menarik kesimpulan dari subject di atas.  Sangat 
>mungkin bias.
>
>Demikian...
>
>
>"The more quantitative a model, the better the valuation."
________________________________

>From:  Wisnu Mobile <[email protected]> 
>Sender:  [email protected] 
>Date: Fri, 1 Apr 2011 00:28:21 +0700
>To: <[email protected]>
>ReplyTo:  [email protected] 
>Subject: Re: [saham] Mana Lebih Beresiko?
>
>  
>Haha... Objection!
>
>
>Pertanyaannya mengarahkan ke sebuah kesimpulan. Cornering!
>
>
>Ditanyakan ke milis saham, jawabannya jelas. 
>
>
>Ditanyakan ke milis wirausaha, yang mungkin tidak kenal saham, jawabnya bisa 
>beda.
>
>
>Good night.
>
>
>2011/4/1 Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>
>
>>
>>Anda memiliki uang 300-500 juta, berani buka restoran dan memulainya dari 
>>awal 
>>ketimbang ditaruh di ASII sama2 selama 8 tahun?
>>
>>Anda yakin anda bisa survive membuka usaha restoran dan tidak bangkrut karena 
>>tidak laku? :)
>>
>>
>>jabat erat,
>>Irwan Ariston Napitupulu
>>
>>
>>2011/4/1 <[email protected]>
>>
>>
>>
>>>
>>>Asii vs restoran 
>>>Sy pilih restoran, krn org akan tetap butuh makanan sampai kapanpun dlm 
>>>kondisi 
>>>apapun.. Org tdk membeli produk asii msh bisa hidup :)
>>>
>>>Indf vs bakery
>>>Sy pilih indf krn tk bakery butuh terigu dan indf adl pemilik bogasari, 
>>>pabrik 
>>>terigu bermutu. Kalo lndf/bogasari bermasalah maka pasokan terigu terhambat 
>>>dan 
>>>tk bakery yg biasa pake terigu bogasari tdk berani pake terigu merk lain krn 
>>>akan sgt berpengaruh ke kualitas dan rasanya dan akan sgt berpengaruh jg ke 
>>>masa 
>>>dpnnya
>>>
>>>Bmri vs salon
>>>Sy pilih bmri krn bank sdh merupakan salah satu tempat tujuan utama semua 
>>>org 
>>>ketika keluar rmh dan jam berapapun dan dilakukan oleh semua kalangan mis: 
>>>ke 
>>>atm. Saat ini bank sdh menjadi kebutuhan primer semua org dlm hal keuangan 
>>>.. 
>>>Salon hanya dikunjungi oleh org2 tertentu dan mengelolanya hrs bener2 teliti 
>>>krn 
>>>termasuk usaha yg sophisticated
>>>
>>>Begitu pendapat sy bang hehe
>>>Regards...
>>>
>>>ZFQ
>>>
________________________________

>>>From:  Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> 
>>>Sender:  [email protected] 
>>>Date: Fri, 1 Apr 2011 00:04:52 +0700
>>>To: <[email protected]>
>>>ReplyTo:  [email protected] 
>>>Subject: [saham] Mana Lebih Beresiko?
>>>
>>>  
>>>Mana yang lebih beresiko menurut anda saat ini dengan asumsi menggunakan 
>>>modal 
>>>yg sama besar untuk diinvestasikan dengan jangka waktu 8 tahun ke depan. 
>>>Catatan, di saham hanya buy saja dan di hold terus alias tidak ditradingkan 
>>>dan 
>>>dividennya di reinvestasikan.
>>>
>>>
>>>
>>>Membeli saham ASII (Astra Internasional)
>>>vs
>>>Membuka restoran makanan
>>>
>>>
>>>Membeli saham INDF (Indofood)
>>>vs
>>>Membuka usaha bakery (roti)
>>>
>>>
>>>Membeli saham BMRI (Bank Mandiri)
>>>vs
>>>Membuka Salon Kecantikan
>>>
>>>
>>>Moga2 dengan memberikan pertanyaan ini bisa melihat lebih jelas pemetaannya 
>>>terkait resiko :)
>>>Jawabannya saya yakin bisa berbeda2, tapi menarik untuk mengetahui jawaban 
>>>dari 
>>>para sahabat disini agar kita sama2 bisa mengetahui.
>>>
>>>jabat erat,
>>>Irwan Ariston Napitupulu
>>>
>>>
>>>
>>
>>
>>
>>
>
>
>

 

Kirim email ke