dulu saya pernah baca kalo SUN 30 tahun ini dikonversi ke SUN tenor menengah. Setelah saya cari lagi, beritanya ada di sini:
http://vibiznews.com/article/bondsmutual/2008/05/07/peningkatan-bi-rate-memperburuk-pasar-obligasi/ kenapa perlu 30 tahun? intinya semakin lama dan semakin aman terjamin semakin risk free :) Salam, BK. Wibowo Pada 21 Juni 2011 08:47, Jin Tomang <[email protected]> menulis: > ** > > > >>Di Indonesia sebetulnya agak sulit menentukan risk free return nya karena > tidak ada long term bond (30 thn). > > Bapak bisa pakai yield SUN tenor 30 tahun, dengan yield 9.235%. > > Pertanyaan dari saya mengapa menghitung valuasi hingga 30 tahun? Kenapa > tidak pakai asumsi max sampai 10 thn saja Pak? > > Berikut yield SUN untuk tenor2 tertentu per 20 Juni 2011, sumber IDMA : > > Tenor Yield (%) > 1 5.890 > 5 7.047 > 7 7.432 > 10 7.713 > 15 8.372 > 20 8.854 > 30 9.235 > > > 2011/6/20 BK Wibowo <[email protected]> > >> >> >> dengan asumsi perusahaan tidak ada hutang, r bisa dihitung dari CAPM >> dengan rumus: >> Expected Return = Riskfree Return + Beta*Market Premium >> Market Premium ini dihitung dari Required Market Return - Risk Free Return >> Risk Free Return diasumsikan menggunakan rate LPS, yaitu 7.25% >> Di Indonesia sebetulnya agak sulit menentukan risk free return nya karena >> tidak ada long term bond (30 thn). >> Required Market Return, dihitung dengan melihat peringkat negara yang >> bersangkutan, misal Indonesia BB+, sehingga masih selisih 9 notch dari AAA. >> Dengan asumsi per notch membutuhkan premi 0,5% maka Market Premium IHSG >> adalah 4,5% >> Beta dihitung dari data historis, misal asumsi Beta = 2 >> Maka Expected Return = 7,25% + 2*4,5% = 16,25% >> Dengan expected return 16,25%, maka saham dengan Beta=2, return 20% dengan >> growth 15% adalah mispricing dan akan diborong habis. >> Kecuali kalo Betanya ternyata di atas itu :D >> >> Salam, >> BK. Wibowo >> >> Pada 20 Juni 2011 15:12, Didik <[email protected]> menulis: >> >> ** >>> >>> >> > >
