dan kepentingan makro itu adalah... ? 2011/7/1 positif01 <[email protected]>
> ** > > > Just another one like what we posted earlier the day. Chatib Basri benar > (see link below), pencabutan subsidi di tengah membaiknya sentimen dan > indikator pasar merupakan pilihan ekonomis yang paling logis. > > Astra International, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank ini dan itu > sebagai suatu badan usaha akan tetap berjalan sebagaimana mestinya, demikian > pula karyawan dan manajemen-nya tetap menerima gaji seperti biasa apakah > inflasi naik atau turun, apakah subsidi BBM dicabut atau tidak. Kalau > ketar-ketir pemegang sahamnya yang ditotal seluruh Indonesia dan itupun dari > total 500 saham yang ada di BEI, tidak sampai 300 ribu, dibandingkan > kepentingan makro penduduk Indonesia yang 300 juta, tidak ada ganjalannya; > tidak ada artinya. :d > > '+' > > > http://headlines.vivanews.com/news/read/230124-presiden-tak-tegas-naikkan-harga-bbm > > > *VIVAnews *- Perdebatan terkait subsidi bahan bakar minyak (BBM) karena > Presiden tidak bisa tegas dalam memutuskan masalah ini. Pemerintah belum > berani memilih opsi menaikkan harga BBM. > > Kementerian Keuangan selama ini terus mendesak Kementerian Energi dan > Sumber Daya Mineral secepatnya memutuskan kebijakan pembatasan BBM. Namun, > program yang dirancang dari akhir tahun lalu molor hingga sekarang. > > Alasannya, Kementerian ESDM merasa belum siap melakukan pembatasan BBM > bersubsidi. "Jika ada kementerian yang berselisih, seharusnya Presiden > tegas" ujar pengamat ekonomi Chatib Basri ketika dihubungi *VIVAnews.com*di > Jakarta, Kamis, 30 Juni 2011. > > Menurut dia, jika pemerintah tidak sanggup dengan beban BBM bersubsidi, > pemerintah harus menaikkan harga BBM. > > Chatib menilai, kenaikan harga BBM jenis Premium yang relevan saat ini > Rp1.500 atau menjadi Rp6.000 per liter. Kenaikan harga BBM itu akan memicu > tambahan > inflasi<http://bisnis.vivanews.com/news/read/229794-bps--bbm-naik--angka-inflasi-lebih-tinggi>2,1 > persen, sehingga akhir tahun inflasi berkisar 7-8 persen. > "Inflasi sebesar itu wajar, karena selama ini rata-rata inflasi 7 persen," > ujarnya. > > Menurut dia, pemerintah menaikkan angka defisit > <http://bisnis.vivanews.com/news/read/229751-defisit-tak-nambah--pembatasan-bbm-tahun-ini>akibat > beban subsidi BBM juga tidak wajar. Idealnya, defisit digunakan untuk > membangun infrastruktur atau untuk belanja modal. > > "Tapi, kalau defisit membengkak gara-gara untuk membayar uang, itu tidak > tepat. Bagaimana mau melakukan kebijakan seperti itu? Menurut saya naikkan > saja harga BBM," tegasnya. > > Pemerintah tidak perlu takut aspek politis yang akan membayangi jika BBM > naik. Buktinya, pemerintah di masa Susilo Bambang Yudhoyono pernah menaikkan > BBM selama tiga kali. Bahkan, pada 2005 menaikkan BBM sebesar 30 persen dan > 120 persen. > > "SBY malah terpilih kembali. Jika ada argumen karena politik, saya tidak > melihat di mana," katanya. > > Pemerintah menaikkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) > dari 1,8 persen menjadi 2,1 persen. Angka defisit itu tidak berubah lagi > asalkan Kementerian ESDM menetapkan kebijakan pengaturan BBM bersubsidi > tahun ini. Sebab, tren konsumsi BBM sudah lebih tinggi dibanding biasanya. > On Fri, Jul 1, 2011 at 1:42 PM, positif01 <[email protected]> wrote: > >> This the second golden chance offer by market this year to Indonesia >> Administration to lift/limit subsidy to keep the state budget healthier, and >> stay ahead of inflation curve afterwards. Pain may be caused but a >> considerate action plan in the middle of positive sentiment of market local, >> regional and global is expected to buffer the worst expected, when the >> chance will have just gone astray, and everything will be too late. >> Indonesia Central Bank Governor, Darmin Nasution, had also reminded the >> importance of administration to move swiftly on this fuel subsidy cut ( >> http://finance.detik.com/read/2011/06/01/170722/1652059/1034/bi-pemerintah-telat-naikkan-harga-bbm). >> >> >> This is the time. Bravery is needed for politician just like their >> counterpart in Greece. Stop being politician a while and try to see from >> another perspective for better and quicker growing Indonesia. >> >> >> http://www.reuters.com/article/2011/06/28/indonesia-economy-fuel-idUSJKB00457920110628 >> >> '+' >> > > >
