Ibu Katrin sdh menyumbang satu email untuk menuju 100. saya ikutan juga satu biji.
saya mau coba diskusikan dengan memakai jargon yang sudah sering kita dengar di milis ini. sebenarnya yang paling penting dilakukan pemerintah dengan pencabutan subsidi inilah supaya pemerintah bisa melakukan money management dengan lebih sedikit kendala nya dan risikonya. sekarang money management (APBN dan government income), dipengaruhi oleh naik turunnya harga minyak. kalau subsidi dicabut maka fluktuasi harga minyak ditanggung langsung oleh konsumer. jadi mengurangi pening kepala pemerintah. Nah pertanyaan berikutnya, kondisi yang mana yang bisa menyebabkan multiplication factor yang lebih besar dan positip dalam perekonomian Indonesia? jawaban nya bisa salah satunya, tergantung dilihat dari sisi mana. Di dunia ekonomi dan engineering ada istilah simulasi, mungkin perlu dilakukan simulasi, dengan what if - what if nya. Kalau uang nya tidak dipakai untuk subsidi, jangan langsung cari mau dipakai untuk apa. Beberapa tahun lalu, pemerintah langsung memakai nya untuk "kesejahteraan rakyat". yah tidak perlu begitu. Biarkan program2 yang telah direncanakan oleh pemerintah dijalankan sesuai rencana nya dan dengan dicabutnya subsidi berarti pemerintah punya duit lebih besar flexibility untuk menjalankan dan meng improvisasi program2 tersebut. Sisi satunya dari koin adalah penerimaan pemerintah, yang terbesar dalam hal ini adalah pajak (iya kan??), mungkin saja pajak bisa diturunkan. tapi apakah ini tindakan terbaik, saya juga tidak tahu disinggung singgung juga korupsi dalam thread email ini. tidak perlu berdebat panjang lebar, kita semua setuju korupsi itu tidak baik bisa menghabncurkan negara. nah apakah kita mempraktekkan apa yang kita percayai? kalau kita bukan orang pemerintahan, dengan mudahnya kita berteriak teriak, korupsi tidak baik dst... dst.. tetapi sisi lain coin nya adalah yang memberikan bribery (salah satu contoh). nah kalau kita percaya korupsi itu tidak baik, maka kita harus percaya juga bahwa bribery juga tidak baik. sudah siapkah kita untuk tidak membayar uang damai dimana pun? ini masih skala kecil. selamat berakhir pekan. fbs swasta murni tidak ada hubungannya dengan pemerintahan sama sekali. ________________________________ From: katrin <[email protected]> To: [email protected] Sent: Fri, July 1, 2011 5:22:37 PM Subject: Re: [saham] Chatib Basri: Naikkan harga BBM bersubsidi Pertanyaan nya juga thread ini kalau sampai senin akan sampai 100+ emails gak ya ???? :d sent with love® ________________________________ From: Susanto Salim <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 1 Jul 2011 23:20:25 +0700 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [saham] Chatib Basri: Naikkan harga BBM bersubsidi Nah pertanyaannya lebih baik swasta yang bangun atau pemerintah yang bangun? Terus terang saya bukan pakar dibidang ini, cuman untuk dipertimbangkan saja bahwa ada banyak hal yang mungkin swasta atau rakyat bisa melakukannya lebih baik dari pemerintah. tentu saja semua masih bisa diperdebatkan. ----------- A man is incapable of comprehending any argument that interferes with his revenue. -- René Descartes 2011/7/1 panda <[email protected]> > > Waduh logikanya bener tapi ga bisa dipandang seperti itu, subsidi harus >dikurangin supaya negara ini maju, bedanya kalau pemerintah terus2an nanggung >subsidi trus pembangunan ni negara gimana? > >Perekonomian tanpa infrastruktur yang baik ga akan bisa terwujud jadi >perekonomian yang bagus >Belum lagi hal2 diluar infrastruktur seperti pendidikan dll > >Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! ________________________________ >From: Susanto Salim <[email protected]> >Sender: [email protected] >Date: Fri, 1 Jul 2011 19:16:29 +0700 >To: <[email protected]> >ReplyTo: [email protected] >Subject: Re: [saham] Chatib Basri: Naikkan harga BBM bersubsidi > > >Pak, bisa diberi gambaran gak buat newbie seperti ane, tentang mengapa >mencabut >subsidi itu baik? > > >Kalo menurut saya cabut subsidi kan artinya pemerintah punya duit lebih untuk >dibelanjakan, bisa bangun macem2 yang diharapkan bermanfaat buat rakyat. Kalau >subsidi tidak dicabut, bukankah si duit itu sudah dirasakan langsung >manfaatnya >buat rakyat. Rakyat yang menerima subsidi bisa memutuskan sendiri duit lebih >(Akibat hemat beli bensin) itu mau dimanfaatkan untuk apa, bisa buat >belanja,yang akhirnya meningkatkan ekonomi dan membuka lapangan kerja karena >si >pabrik cuan jadi bisa ekspansi, atau ditabung yang pada akhirnya bisa juga >disalurkan oleh bank ke yang membutuhkan. Dalam hal subsidi dicabut kita >menyerahkan kepada pemerintah bagaimana sebaiknya uang ini dibelanjakan, nah >apakah pemerintah tau mana yang lebih baik buat rakyatnya dibanding rakyat >sendiri? > >Kalau dianggap tidak tepat sasaran karena hanya dinikmati orang kaya, apakah >ada >hitung2an nya? Dengan logika yang sama dengan di atas bukankah subsidi >terhadap >wong sugih pun akhirnya akan membuat doi belanja lebih banyak (karena punya >duit >lebih) dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi juga. > >kalo alasannya sekedar biar apbn sehat mah mengapa gak belanjanya pemerintah >atau korupsi nya aja yang dikurangin. Kalo cetak duit terus kayak america >termasuk subsidi juga kali ya...minimal subsidi bunga, biar bunga rendah. >----------- >A man is incapable of comprehending any argument that interferes with his >revenue. >-- René Descartes > > > >2011/7/1 Treasure Seeker <[email protected]> > > >> >>saya termasuk yg sudah sejak lama setuju dengan ide ini ... downside impact >>ke >>ASII dan issuers yg sensitive terhadap inflasi pasti ada, tapi karena daya >>beli >>yg semakin baik maka akan cepat recover juga .. >> >> >>2011/7/1 positif01 <[email protected]> >> >> >>> >>>Just another one like what we posted earlier the day. Chatib Basri benar >>>(see >>>link below), pencabutan subsidi di tengah membaiknya sentimen dan indikator >>>pasar merupakan pilihan ekonomis yang paling logis. >>> >>>Astra International, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank ini dan itu >>>sebagai suatu badan usaha akan tetap berjalan sebagaimana mestinya, demikian >>>pula karyawan dan manajemen-nya tetap menerima gaji seperti biasa apakah >>>inflasi >>>naik atau turun, apakah subsidi BBM dicabut atau tidak. Kalau ketar-ketir >>>pemegang sahamnya yang ditotal seluruh Indonesia dan itupun dari total 500 >>>saham >>>yang ada di BEI, tidak sampai 300 ribu, dibandingkan kepentingan makro >>>penduduk >>>Indonesia yang 300 juta, tidak ada ganjalannya; tidak ada artinya. :d >>> >>>'+' >>> >>>http://headlines.vivanews.com/news/read/230124-presiden-tak-tegas-naikkan-harga-bbm >>> >>> >>>VIVAnews - Perdebatan terkait subsidi bahan bakar minyak (BBM) karena >>>Presiden >>>tidak bisa tegas dalam memutuskan masalah ini. Pemerintah belum berani >>>memilih >>>opsi menaikkan harga BBM. >>> >>>Kementerian Keuangan selama ini terus mendesak Kementerian Energi dan Sumber >>>Daya Mineral secepatnya memutuskan kebijakan pembatasan BBM. Namun, program >>>yang >>>dirancang dari akhir tahun lalu molor hingga sekarang. >>>Alasannya, Kementerian ESDM merasa belum siap melakukan pembatasan BBM >>>bersubsidi. "Jika ada kementerian yang berselisih, seharusnya Presiden >>>tegas" >>>ujar pengamat ekonomi Chatib Basri ketika dihubungi VIVAnews.com di Jakarta, >>>Kamis, 30 Juni 2011. >>> >>>Menurut dia, jika pemerintah tidak sanggup dengan beban BBM bersubsidi, >>>pemerintah harus menaikkan harga BBM. >>>Chatib menilai, kenaikan harga BBM jenis Premium yang relevan saat ini >>>Rp1.500 >>>atau menjadi Rp6.000 per liter. Kenaikan harga BBM itu akan memicu tambahan >>>inflasi 2,1 persen, sehingga akhir tahun inflasi berkisar 7-8 persen. >>>"Inflasi sebesar itu wajar, karena selama ini rata-rata inflasi 7 persen," >>>ujarnya. >>> >>>Menurut dia, pemerintah menaikkan angka defisit akibat beban subsidi BBM >>>juga >>>tidak wajar. Idealnya, defisit digunakan untuk membangun infrastruktur atau >>>untuk belanja modal. >>>"Tapi, kalau defisit membengkak gara-gara untuk membayar uang, itu tidak >>>tepat. >>>Bagaimana mau melakukan kebijakan seperti itu? Menurut saya naikkan saja >>>harga >>>BBM," tegasnya. >>> >>>Pemerintah tidak perlu takut aspek politis yang akan membayangi jika BBM >>>naik. >>>Buktinya, pemerintah di masa Susilo Bambang Yudhoyono pernah menaikkan BBM >>>selama tiga kali. Bahkan, pada 2005 menaikkan BBM sebesar 30 persen dan 120 >>>persen. >>>"SBY malah terpilih kembali. Jika ada argumen karena politik, saya tidak >>>melihat >>>di mana," katanya. >>> >>>Pemerintah menaikkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) >>>dari >>>1,8 persen menjadi 2,1 persen. Angka defisit itu tidak berubah lagi asalkan >>>Kementerian ESDM menetapkan kebijakan pengaturan BBM bersubsidi tahun ini. >>>Sebab, tren konsumsi BBM sudah lebih tinggi dibanding biasanya. >>> >>>On Fri, Jul 1, 2011 at 1:42 PM, positif01 <[email protected]> wrote: >>> >>>This the second golden chance offer by market this year to Indonesia >>>Administration to lift/limit subsidy to keep the state budget healthier, and >>>stay ahead of inflation curve afterwards. Pain may be caused but a >>>considerate >>>action plan in the middle of positive sentiment of market local, regional >>>and >>>global is expected to buffer the worst expected, when the chance will have >>>just >>>gone astray, and everything will be too late. Indonesia Central Bank >>>Governor, >>>Darmin Nasution, had also reminded the importance of administration to move >>>swiftly on this fuel subsidy cut >>>(http://finance.detik.com/read/2011/06/01/170722/1652059/1034/bi-pemerintah-telat-naikkan-harga-bbm). >>> >>>> >>>> >>>>This is the time. Bravery is needed for politician just like their >>>>counterpart >>>>in Greece. Stop being politician a while and try to see from another >>>>perspective >>>>for better and quicker growing Indonesia. >>>> >>>> >>>>http://www.reuters.com/article/2011/06/28/indonesia-economy-fuel-idUSJKB00457920110628 >>>> >>>> >>>> >>>>'+' >>> >> >
