Kayaknya kalo udah ada kata "SARA", kenapa semua langsung pada sensi begitu
sich? hehehe
Biasa aja lagee... ato mungkin krn saya udah termasuk kategori yang "kebal"
ya, karena di lingkungan saya sendiri, dari sejak dulu saya selalu kena
imbas dari "sara". Betapa kita lihat dari mulai lingkungan sekolah sampai
kantor, orang dengan suku yang sama cenderung berkumpul dan berbincang
bersama, yang paling ngga enak adalah mereka memisahkan diri dan mengucilkan
mereka yang berbeda. Fenomena: orang jawa hanya kumpul dengan jawa, cina
dengan cina, batak dengan batak, sunda dengan sunda, bali dengan bali, etc.
Demikian jg dgn agama, antar-golongan etc...

Kenapa semua bisa begitu? jawabnya: karena manusia nya.

Tergantung manusianya. tapi tidak sedikit saya temukan orang yang sama
sekali tidak "sara".

Jadi saya salut dan sangat respect pada orang yang menilai orang lain:
1. "Biarlah dia masuk komunitas kita, meski dia bukan orang cina..."
2. "Biarlah dia masuk komunitas kita, meski dia bukan orang jawa..."
3. "Biarlah dia masuk komunitas kita, meski dia bukan orang batak..."
4. "Biarlah dia masuk komunitas kita, meski dia bukan orang bali..."
5. "Biarlah dia masuk komunitas kita, meski dia bukan orang sunda..."
6. etc...

Saya ragu di Indonesia kita bisa seperti ini, sebab orang Indonesia masih
banyak yang menganut kesukuan, bukti: anda masih suka khan menggunakan
bahasa daerah/asal/ras anda bahkan ketika berbicara di depan orang yang
bukan bagian dari daerah/asal/ras anda, bukannya menggunakan bahasa
persatuan bahasa Indonesia.

Orang2 tanpa SARA rasanya utopis. Tapi saya berusaha ke arah itu...
(Sori tidak bermaksud memojokkan siapa2).

SARA mungkin inevitable,
Tapi semua tergantung dari bagaimana kita, dimulai dari kita... ^_^

Kirim email ke