Yup. Seperti yg saya bilang, semua tergantung dari bagaimana kita menyikapi. Tapi fenomena bahwa sara adalah sesuatu yang *inevitable* saya kira sekarang masih sangat valid. Kalo fakta bahwa banyak orang batak yg ngomongnya keras, gaya bicara dsb saya kira hampir semua orang sudah paham pak, masuk kategori budaya. Bukan hal2 seperti itu yang dipermasalahkan. Maksud saya isu sara ini lebih pada sesuatu yang bisa dirasakan hanya oleh mereka yang memang pernah mengalaminya, dan masalahnya adalah pengalaman tiap2 orang berbeda, jadi ngga bisa dipukul rata :p. Dan hal2nya juga bukan menyangkut budaya gaya bahasa, tahu sendiri khan apa2 yang sensitif. Mirip juga dengan di dunia pasar modal dan saham, mereka yang sudah pernah mengalami krisis yang hebat dan tetap bertahan, pasti lebih "kebal" dan sudah punya langkah2 antisipasi yang lebih kuat.
Semua berbeda2 tapi tetap satu jua. Sangat setuju. Dan memang harus setuju. Bhinneka Tunggal Ika. E Pluribus Unum. Namun antara teori dan praktek, bisa berbeda. Masih berbeda. Fakta bahwa oomm bama bisa jadi presiden, saya pikir juga karena dia multi etnis. Masalah sara di angkat. 2011/10/11 Agus Surya <[email protected]> > ** > > > ** Bukan rasis nya pak mikail.. Harapannya kalo sudah keliling indonesia, > mata hati dan pikiran akan terbuka. Dulu wkt saya mau ke papua takut pak, > karena katanya bla..bla.. Tp disana kitorang punya teman toh, jadi sahabat > malah. Walaupun wkt pindah jadi putus hubungan. > > Yg ingin saya katakan, rasa takut dan curiga terkadang terlalu dibesar2kan > dlm alam pikiran kita padahal yg sebenarnya bisa saja berbeda. > > Manusia pasti punya sifat dan karakteristik yg unik. Gak bisa nyuruh org > batak ngomong pelan tapi harus sabar kalo bicara dgn org jateng.. :) > > Ini semua hanya pembawaan, yg berangkat dr kebiasaan hdp sehari2. Walau pun > berbeda, bkn alasan kita harus bermusuhan khan? :) > *kembali ke saham > > > Salam > ------------------------------ > *From: * Mikail <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Tue, 11 Oct 2011 12:50:18 +0700 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *Re: SARA, was: Re: [saham] Pengrauh Grup Bakrie Terhadap BEI > > > > Apa hubungannya pak keliling2 dengan sikap rasis? hehehe > Kalo fakta bahwa Indonesia itu plural saya paham sekali, fakta bahwa > seluruh dunia ini plural, saya paham :) > > 2011/10/11 Agus Surya <[email protected]> > >> ** >> >> >> ** Saran saya pak mikail.. >> Kelilinglah Indonesia.. :) >> >> Saya beruntung krn bpk saya srg pindah2. Jadi bisa menikmati negeri kita.. >> :) >> >> >> Salam >> ------------------------------ >> *From: * Mikail <[email protected]> >> *Sender: * [email protected] >> *Date: *Tue, 11 Oct 2011 12:17:54 +0700 >> *To: *<[email protected]> >> *ReplyTo: * [email protected] >> *Subject: *SARA, was: Re: [saham] Pengrauh Grup Bakrie Terhadap BEI >> >> >> >> Kayaknya kalo udah ada kata "SARA", kenapa semua langsung pada sensi >> begitu sich? hehehe >> Biasa aja lagee... ato mungkin krn saya udah termasuk kategori yang >> "kebal" ya, karena di lingkungan saya sendiri, dari sejak dulu saya selalu >> kena imbas dari "sara". Betapa kita lihat dari mulai lingkungan sekolah >> sampai kantor, orang dengan suku yang sama cenderung berkumpul dan >> berbincang bersama, yang paling ngga enak adalah mereka memisahkan diri dan >> mengucilkan mereka yang berbeda. Fenomena: orang jawa hanya kumpul dengan >> jawa, cina dengan cina, batak dengan batak, sunda dengan sunda, bali dengan >> bali, etc. Demikian jg dgn agama, antar-golongan etc... >> >> Kenapa semua bisa begitu? jawabnya: karena manusia nya. >> >> Tergantung manusianya. tapi tidak sedikit saya temukan orang yang sama >> sekali tidak "sara". >> >> Jadi saya salut dan sangat respect pada orang yang menilai orang lain: >> 1. "Biarlah dia masuk komunitas kita, meski dia bukan orang cina..." >> 2. "Biarlah dia masuk komunitas kita, meski dia bukan orang jawa..." >> 3. "Biarlah dia masuk komunitas kita, meski dia bukan orang batak..." >> 4. "Biarlah dia masuk komunitas kita, meski dia bukan orang bali..." >> 5. "Biarlah dia masuk komunitas kita, meski dia bukan orang sunda..." >> 6. etc... >> >> Saya ragu di Indonesia kita bisa seperti ini, sebab orang Indonesia masih >> banyak yang menganut kesukuan, bukti: anda masih suka khan menggunakan >> bahasa daerah/asal/ras anda bahkan ketika berbicara di depan orang yang >> bukan bagian dari daerah/asal/ras anda, bukannya menggunakan bahasa >> persatuan bahasa Indonesia. >> >> Orang2 tanpa SARA rasanya utopis. Tapi saya berusaha ke arah itu... >> (Sori tidak bermaksud memojokkan siapa2). >> >> SARA mungkin inevitable, >> Tapi semua tergantung dari bagaimana kita, dimulai dari kita... ^_^ >> > > >
