Masalahnya adlh bagaimana mentransmite penurunan BI Rate akan diikuti oleh 
penurunan suku bunga pinjaman di bank. Selama ini BI tidak punya alat utk 
memaksa, yg ada hanya imbauan. Harusnya pemerintah melalui meneg bumn, dpt 
mengendorse bank2 pelat merah utk menurunkan bunga pinjaman, dan menjaga spread 
2-3% saja,  Bank2 partikeler akan ikut  dibelakangnya.
Memang dlm jangka pendek keuntungan bank akan tertekan, akan tetapi dlm jangka 
panjang akan naik diimbangi kenaikan dr sektor riil.

Maukah menunda kesenangan sementara utk kebaikan jangka panjang ??? Bangsa ini, 
senang hal2 yg instant dan karbitan.


-GBU

** say YES !! for the 99% **

-----Original Message-----
From: Hendrik Limbono <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 10 Nov 2011 09:44:17 
To: Dolgado-mIlis<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [saham] Dampak Penurunan BI rate

Hari ini ada berita yang menurut saya SANGAT menggemparkan, dimana BI mengambil 
suatu pilihan menurunkan BI Rate 50 basis Point atau 0,5% dari 6,5% menjadi 6%.
Penurunan BI rate berarti BI ke depannya berencana Melakukan PELONGGARAN 
LIKUIDITAS, dimana BI akan mengucurkan likuditas terus menerus, hingga suku 
bunga menjadi 6%.
Dampaknya :
1. Yang paling kerasa dampak penurunan BI rate adalah industri perbankan, 
dimana dalam keadaan normal bank – bank akan mengalami peningkatan profit yang 
signifikan. Perlu diketahui bahwa bisnis bank adalah menerima dana dari 
masyarakat dan memberi bunga kepada masyarakat serta menyalurkan kredit kepad 
pihak2 yang membutuhkan serta membebankan suku bunga tertentu kepada si 
peminjam.
Biasanya kalau BI Rate turun, yang pertama kali turun adalah suku bunga 
tabungan, sementara suku bunga pinjaman turunnya agak susah. Maklum, kesempatan 
bisa dapat cuan lebih banyak.
Saat ini kredit yang disalurkan Bank mencapau 2000 Trilliun rupiah, dengan 
perbedan 0,5% saja (dengan asumsi bunga tabungan dan deposito turun 0,5% 
sementara bunga kredit tetap), maka ada potensi profit tambahan yang bisa 
didapatkan oleh bank adalah 0,5%x2000 T = 10 Trilliun rupiah.
Dampak berantainya adalah, kredit macet perbankan juga turun, karena ditopang 
oleh laba yang meningkat dari selisi bunga tabungan dan bunga kredit.
2. Pertumbuhan ekonomi juga akan meningkat, sebab beban pinjaman makin ringan 
(kalau pada akhirnya bank – bank menurunkan suku bunga sesuai suku bunga acuan 
BI). Sehingga perusahaan akan makin berani untuk meminjam uang kepada bank 
sebab biaya pinjaman akan makin murah (bunga makin rendah), yang pada akhirnya 
Earning atau laba perusahaan di BEI juga meningkat. Yang awalnya laba 1T dan 
beban pinjaman 100 Miliar, bisa jadi laba menjadi 1,05 T dan beban pinjaman 
turun jadi 50 miliar (contoh saja).
3. Konsumsi masyarakat juga akan meningkat, sebab suku bunga makin murah, 
masyarakat akan makin berani berhutang untuk beli kendaraan, sekali lagi karena 
bungnya jadi ringan, dan juga makin berani ambil KPR di bank, yang ujungnya, 
harga tanah bisa naik. sehingga potensi gagal bayar di bank makin rendah.
4. Masyarakat akan keluarin duit dari bank karena merasa bunganya sangat kecil, 
dan beralih ke hal lain, misal konsumsi lebih banyak, karena merasa uangnya 
percuma ditabung, atau beli tanah/properti buat invest atau juga bisa jadi beli 
obligasi pemerintah yang bunganya lbih tinggi atau beli saham, sehingga harga 
saham di BEI naik.
5. Perusahaan pun akan bisa menerbitkan obligasi dengan bunga lebih rendah. 
yang awalnya dulu bunga obligasinya 7% bisa turun jadi 0,5% yang ujungnya2 
seperti di atas, meningkatkan earning atau laba perusahaan. apalagi perusahaan 
yang erat hubungannya dengan keuangan.
 
=======================================
bei5000.com

Kirim email ke