Sekedar sharing bang Ian tanpa mengurangi rasa hormat.

Definisi judi : kegiatan menghasilkan uang dimana satu pihak untung dan satu 
pihak rugi dengan Probabilitas keuntungan yg sangat rendah untuk pihak majority 
(pihak yg lemah / flocks)

Trading = judi karena :
1. Tidak lebih dari 5% trader yg survive sepanjang sejarah. Kita ngga usah 
sampai membahas probabilita berhasilnya suatu sistem trading, baru bahas 
keberhasilan trader yg selamat aja udah ga lebih dari 5%
2. Trading saham itu zero sum money game (value keuntungan = value kerugian). 
Bayangkan ketika kita jual saham kita dgn keuntungan, ujung2nya pasti ada pihak 
yg merugi dgn jual harga dibawah.. Siklus ini berlanjut terus..

Kesimpulan :
1. Alangkah bagusnya kita menjauhi suatu bisnis yang keberhasilannya dibawah 
5%, dan bisa merugikan org byk.

2. Seandainya tdk ada trader  yg CL, maka para "market maker" ga laku, alhasil 
market menjadi pure investing dan lepas dari faktor judi...

3. Sebagai traders lama, pd umumnya kita tau bener, koreksi itu perlu (baca : 
byk traders CL) baru suatu saham "sehat" dan bisa naik terus. Atau kasarnya 
kita tau, para bandar mengharapkan traders CL supaya ditampung diharga bawah, 
dan dijual diatas kepada retail. Kemudian dishort lg dibawah, trader CL, dan 
bandar jualan lg diatas. Siklus ini jg terus berjalan dlm trading.

4. SANGAT lain dgn jualan dagangan, pihak yg membeli mempergunakan barang / 
jasa yg dijual utk kehidupan sehari2 dan keberhasilan diatas 50%. Dan tidak 
merugikan org lain. Ketika kita beli mangga, dan mangga itu turun harga, wajar 
bisnis pernah rugi, tp probabilitas ngga sampe 95% pasti rugi kan? Sekali dua 
kali bisnis pasti rugi.

Kenapa dihalalkan dinegara yg "katanya" beragama? Karena ini bisnis 
menghasilkan duit. Kata setan "mau duit, iman nomor 2" :) yah mirip mirip 
bisnis rokok, kenapa bbrp pemerintah negara miskin / berkembang ga mau nutup 
pabrik rokok? Karena pajaknya tinggi, blm lg uang under table. Liat aja 
dinegara yg sayang rakyatnya, rokok mulai dipersulit. In the long run, suatu 
negara tanpa rokok PASTI akan jauh lebih sejahtera secara jasmani, rohani dan 
finansial. Belajarlah dari negara RRC yg dulu sarat dgn negara candu, sangat 
bobrok dulunya. Demikian jg saham, byk ngasilin duit buat kaum kapitalis :). 
Dan brp byk trader yg stress, bunuh diri, korbanin social life dan familynya.. 
Coba survey :)

Saya rasa alasan, analogi dan kesimpulan diatas udah sangat kuat, terserah mo 
disikapi bagaimana, pertanggung jawaban secara pribadi aja deh. Dan menurut 
saya, trading = judi. Sampai sekrg saya jg mencari alasan untuk menghilangkan 
penolakan hati nurani saya, tp tdk dapat sampai sekrg, dan memang kemungkinan 
tidak ada.

Bahan diatas hanya sebagai bahan diskusi yah, tdk ada unsur paksaan. Sekedar 
tambahan dari ikan bodoh

Thx
-----Original Message-----
From: "Irwan Ariston Napitupulu" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 3 Mar 2012 09:10:21 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Re: Sectoral


Tidak semua orang lho senang/rela kalau trader saham dibilang penjudi. Nah, 
saya coba bukakan mindset banyak orang bahwa sebenarnya trader saham itu ngga 
beda dengan trader buah2an, trader mobil bekas, trader kain, trader money 
changer, dll spt yg saya sebutkan. Bedanya hanya komoditas yg ditradingkan 
saja. Kalau trading yg lain itu kita tdk bilang judi, maka tdk ada alasan utk 
bilang trading saham itu judi krn memiliki sifat yg sama, yaitu sebagai 
perantara saja alias trader alias pedagang.

Kalau saya pribadi sih, berhubung ngga ada masalah mau dibilang judi atau tidak 
judi, ya santai2 sajalah. Terkadang malah saya suka ngejoke dgn broker saya 
atau kawan saya via BBM, dgn nulis "Gue lagi berjudi di  saham XXXX di hrg YYYY 
dgn target di ZZZZ. Kalau meleset, tinggal cut saja, namanya juga lagi  
berjudi. :) "

Biasanya broker dan teman2 yg saya BBM-an, suka kasih komentar, "Nekat kali 
kau. Alasannya apa nih?"

Biasanya saya jawab, "Namanya juga judi, ngga perlu kebanyakan mikir. Kalau 
kebanyakan mikir, khan ngga jaminan pula pasti untung. Daripada banyak mikir, 
terus loss pula, khan mending loss tapi  ngga pake  banyak mikir. Ruginya cuma 
sekali, yaitu loss duit doang, dibanding loss dua kali, rugi duit dan rugi 
capek mikir.  :) "

Jadi, dalam situasi2 yg sifatnya pribadi, saya suka pakai istilah berjudi 
dengan dua tujuan/maksud:

1. Supaya saya ngga banyak ditanyain alasan saya maksud kenapa (walau saya 
selalu punya alasan masuk saham tertentu, cuma malas saja saya sharingkan hal 
tsb ke teman BBM-an).

2. Untuk mengentengkan mental trading saya supaya lebih berani buy and sell 
secara cepat tanpa kebanyakan mikir yg rumit2. Jadi lbh ke memberikan efek 
positif ke psikologis trading saya. Trader aktif spt saya hrs bisa cepat ambil 
keputusan tanpa harus berlama2 ataupun banyak pertimbangan shg jadi lbh sulit 
ambil keputusan buy or sell. Dan saya merasa lbh nyaman dan terbantukan 
psikologis trading saya dgn mengatakan berjudi :) Tentu saja bagi orang lain 
bisa berbeda ya, malah justru bisa sebaliknya, jadi terbeban dan tambah berat 
serta tidak nyaman lagi. Karenanya, soal istilah, cari yg paling cocok saja 
untuk diri kita, dan ngga perlu terlalu pusingkan apa kata orang yg memang bisa 
beragam pendapat itu. Apa yg kita yakini, dan baik untuk kita, hajar sajalah :)

Saya pribadi melihat semua aktivitas yang ada, baik aktivitas di sektor riil 
atau sektor lainnya, semua dari sisi permainan atau perhitungan probabilitas 
saja.

Saya jadi petani tomat, probabilitas saya untuk berhasil jauh lebih kecil 
ketimbang jadi trader saham. Hal ini karena saya tidak menguasai cara cari 
bibit tomat yang bagus, tidak tahu jenis tanah yang bagus untuk ditanami tomat, 
tidak tahu cara mengolah tanah agar bagus untuk tanaman tomat, tidak tahu cara 
membesarkan pohon tomat dari bibit sampai berbuah tomat yang siap dipetik baik 
jumlah air yg dibutuhkan maupun pupuk yg dibutuhkan, tidak paham cara 
memperkirakan harga tomat di pasaran saat tomat saya panen, tidak paham kalau 
panen jual tomat dalam jumlah banyak itu ke siapa dan bagaimana caranya dan 
sistem pembayarannya sepeti apa, tidak paham cara packaging tomat saat panen 
supaya ngga gampang busuk, dan banyak ketidakpahaman saya lainnya soal bisnis 
tomat. Alhasil, kalau saya mau mulai bisnis tomat, maka saya menghadapi resiko 
kegagalan yang sangat tinggi saat ini. Seperti kata Warren Buffett, "Risk comes 
from not knowing what you're doing." Semakin tinggi resiko yg kita hadapi atau 
terkandung dari aktivitas yg kita lakukan, maka oleh orang umum suka disebut 
kita sedang berjudi atau gambling akan hal tersebut.

Jadi, berjudi atau gambling saya perhatikan istilah ini lebih dekat ke hal2 yg 
bersifat sangat tinggi resikonya.

Bagi saya pribadi, trading atau investasi saham jauh lebih rendah resikonya 
ketimbang saya jadi petani tomat, atau punya toko bakery, atau punya salon, 
atau punya restauran. Tapi bagi Johny Andrean beda lagi, bagi dia punya toko 
bakery dan punya salon, jauh lebih rendah resikonya ketimbang dia jadi petani 
tomat ataupun trading saham.

"Riks comes from not knowing what you're doing," merupakan kalimat Warren 
Buffett yang membukakan mata dan pikiran saya akan  banyak hal dari aktivitas 
kehidupan maupun bisnis. 

Semoga sharing yang saya sampaikan ini bisa diambil sisi positifnya ya. Bisa 
menjadi pendorong bagi siapa saja untuk mau menggali lebih dalam, mempelajari 
lebih dalam agar aktivitas yang kita lakukan bisa meningkat  probabilita 
keberhasilannya.   Salam sukses selalu :)

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Sent from my BlackBerry®


-----Original Message-----
From: Equity Indonesia <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 3 Mar 2012 07:55:54 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [saham] Re: Sectoral

Nimbrung, ah... 'Mang klo dibilang judi, 'napa? Kesampingkan dulu moral. Judi 
itu suci klo menang. Klo kalah, bejat. He...he...he...Klo mau jadi tukang judi, 
jadilah calculated gamblers kayak mbah Karl Icahn dan/atau George Soros, jangan 
addicted gamblers.

Saran ane: Riset dan analisa dulu barang2 yang ca'em fundamental dan masa 
lalunya,serta masa depannya yang kira2 kinclong n valuasinya lumayan murah, 
lalu sebarkan dananya ke barang2 ini. Barang2nya sebagian dihold untuk jangka 
panjang dengan memantau ketat LK kuartalan dan ekonomi makro n global. Sebagian 
lagi buat dijudiin (eh, sorry, dibuat trading...he...he...he...) dengan TA. 
Sorry, bro n sis... Ini cuma saran. Klo da tau, ya udeh. Ane 'gak pengen 
ngajarin burung terbang atawa ikan untuk berenang. Play safe, man...and always 
keep the good sense of humour!   :) :) :)

Equity Indonesia



________________________________
 From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Saturday, 3 March 2012, 14:08
Subject: Re: [saham] Re: Sectoral
 

  
Kalau trader saham atau bahasa Indonesia pedagang saham, aktivitasnya disamakan 
dengan judi, kasihan nanti pedagang2 lainnya seperti pedagang buah, pedagang 
sayur, pedagang daging, pedagang ayam, pedagang mobil bekas, pedagang valuta 
asing, pedagang kain, pedagang elektronik, pedagang komputer, pedagang2 duit 
(bank itu kalau dilihat peran dan fungsinya mirip seperti pedagang juga), dan 
pedagang2 lainnya dianggap berjudi juga :)

Tapi memang sih ada juga trader yg perilakunya seperti penjudi. Main masuk saja 
tanpa ada perhitungan atau analisa apapun. Sama seperti bila jadi pedagang 
buah, katakanlah buah mangga, yg ngga paham soal teknik dagang buah mangga. 
Jadi, dia main hajar saja beli banyak mangga dengan harga Rp6000/kilo untuk 
dijual di Rp8000 karena seingat dia tahun lalu harga mangga bisa laku segitu. 
Ngga tahunya setelah beli dengan harga Rp6000/kilo, sebenarnya harga mangga 
karena lagi masuk musim panen, bisa hanya sekitar Rp2000 per kilo, dan ke 
peritel hanya bisa dijual sekitar Rp4000/kilo, sehingga dia jadi rugi Rp2000 
per kilo.

Jadi, sebenarnya soal judi atau tidaknya sih tergantung dari bagaimana kita 
memperlakukan hal tersebut atau aktivitas tersebut saja sih menurut saya. Kalau 
serampangan, ya sifatnya jadi lebih seperti berjudi. Kalau tidak serampangan 
(walaupun akhirnya merugi) bagi saya tidak berjudi. Bank pun kalau main kasih 
kucuran kredit tanpa memeriksa latar belakang perusahaan/kreditur, bagi saya 
bank nya sedang berjudi. :)

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


2012/3/3 panda <[email protected]>

 
>
>
>Ga banyak yang ngakuin kalo jadi trader sama aja kek judi :p
>Sy sepenuhnya ngakuin hehehehehe
>Kalo bicara valuasi atau investing mungkin baru namanya investasi dan ga bisa 
>disamain
>
>Tapi nanti threadnya jadi panjang nih :p
>Btw sy pengen belajar baca chart, krn selama ini cuma ngandeling feeling, 
>mirip kek dedona, tapi so far hasilnya ga bikin kecewa kok, mungkin juga 
>banyak faktor luck nya
>
>Yang jadi pertanyaan, apa iya kalo bisa baca chart dah pasti cuan? Karna ada 
>beberapa pertimbangan saya
>Chart bisa dibikin, kalo liat pergerakan dimonitor dgn dipantengin bisa 
>keliatan kalo saham lagi digoreng, kan chart kebentuk kalo dah kejadian, ga 
>bisa liat bid dari super tebel tiba2 ngilang CMIIW
>Dah gitu kalo dipantengin akan keliatan beneran atau cuma digoreng liat dari 
>trk yang terjadi
>Chart juga kadang telat krn berupa histori, pas masuk justru udah telat deh, 
>waktunya cuci piring
>
>Sayangnya hasil feeling yang saya lakuin makan waktu yg ga sedikit, dan bikin 
>sakit kepala krn terus mantengin layar n ganggu kerjaan :d
>Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
>Teruuusss...!
>
>________________________________
>
>From:  "kangduren" <[email protected]> 
>Sender:  [email protected] 
>Date: Fri, 02 Mar 2012 17:27:01 -0000
>To: <[email protected]>
>ReplyTo:  [email protected] 
>Subject: [saham] Re: Sectoral
>
>  
>Dedona tiap hr nentuin saham dr pergerakan murni dan dia langsung masuk 
>beberapa poin dia langsung keluar, gitu ya? saya lupa2 ingat.
>
>perlu tools juga buat liat pergerakan, dan perlu modal juga utk masuk keluar 
>cepat, apalagi kalo gerak barengan.
>Yg saya ingat dia begitu, krn dia ga percaya analisis dan prediksi dr broker 
>dll. ya?
>saya lupa, pernah ngaku ga di sini, saya berjudi di saham :D
>saya sejak tahun 2011, lebih banyak judi nya, caranya pake sentimen dan 
>pergerakan harga, tp krn belon bisa diprog hasilnya masih minim, skr lagi 
>mumet cr logikanya, juga krn modal saya ga besar dan rumit milih sahamnya 
>(program belon ada), saya ekspektasi tinggi, jd sebisa mungkin betah di saham 
>tsb sejauh saham itu saya anggap uptrend, hehehe.....
>
>skr lagi taraf menimbang2, memperbaiki metode, hehehe.......
>
>--- In [email protected], "caknoval" <noval.invest@...> wrote:
>>
>> Kalau gitu mending gak usah pake indikator sekalian seperti yang dilakukan 
>> oleh master trading Joseph Dedona (hebat ya. gak pake indikator tapi bisa 
>> jadi master :-)). Dia cuma ambil dikit cuan dari tiap saham tapi rajin 
>> bergerilya. Sehari bisa belasan kali keluar masuk saham. Sore hari semua 
>> barang dia sudah bersih terjual. Dia tidak pernah pegang barang untuk 
>> disimpan meski cuma semalam. Dia bilang bisa tidur nyenyak karena cash sudah 
>> di tangan. Besoknya baru gerilya lagi.
>> Mau coba begitu, kang Duren? :-D
>> 
>> 
>> --- In [email protected], "kangduren" <kangduren@> wrote:
>> >
>> > jd pake trendline aja ya neng? :D
>> > ane share deh, pake indikator saat skr keknya sulit, timeframe pendek/ 
>> > sedang, whipsaw, dibuat lama, ga sensitif, kecuali udah punya modal bawah 
>> > bisa tenang.
>> > ada yg coba pake Elliott Wave ga? denger2 ampuh loh, ada rule2 nya 
>> > termasuk rule waktu, liku2nya :D
>> > 
>> > 
>> > --- In [email protected], katrin <kusumok@> wrote:
>> > >
>> > > Kadang-2 terlalu banyak indicator malah bikin pusing....:D
>> > > Kadang-2 terlalu focus kepada saham malah kelupaan mikirin "bigger 
>> > > picture"
>> > > Just sharing price channel sectoral... :D
>> > > 
>> > > 
>> > > 
>> > > [image: Inline image 2]
>> > > [image: Inline image 3]
>> > > [image: Inline image 4]
>> > > [image: Inline image 5]
>> > > [image: Inline image 6]
>> > > [image: Inline image 7]
>> > > [image: Inline image 8]
>> > > [image: Inline image 9]
>> > >
>> >
>>
>
>
>
>

 

Kirim email ke