Kalau Damodaran bilang, Brand Value itu dihargai berdasar kan premium pricing yg bisa dikenakan ke consumer dibandingkan dengan produk sejenis. Anggap aja kecap Bango, operation margin nya 15% dibanding kecap ABC operating margin cuman 5%. Maka brand Bango, bisa dihargai 10% terhadap sales (progressive) atau operating margin (conservative) atau terhadap apa pun sepanjang comparable product.
For whatever ur method of brand valuation, pada dasarnya brand yah intangible asset lah. Terasa tapi sulit di quantifikasi. sent with loveĀ® -----Original Message----- From: "fabiantowangsamulya" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 31 Oct 2012 01:47:19 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [saham] Re: Tingkat Akurasi Penggunaan PBV pada UNVR Menurut saya sih masih nyambung ya karena book value yang dipakai dalam perhitungan PBV sudah tidak mencerminkan nilai sebenarnya. Mis tanah yang dicatat di tahun 2000 nilainya 1 milyar, tapi kalau direvaluasi sekarang nilainya mungkin sudah 10 milyar. Akibatnya nilai book value di neraca sudah beda sekali dengan kondisi sekarang. Tapi saya mencoba menangkap maksud Pak Hendrik bukan mempermasalahkan neracanya tapi lebih ke nilai brand. Katakanlah nilai neracanya direvaluasi lalu didapatkan PBV UNVR 30 kali, tetap akan ada pertanyaan berapakah nilai brand nya. Begitu bukan? :) Saya sih bukan ahlinya menghitung nilai brand, tapi bagi saya nilai brand itu ditentukan bukan dalam book value tapi dalam pendapatannya. Menurut saya aneh jika brand itu bernilai tapi angka penjualannya kecil. Laba bisa saja negatif karena salah urus (mis kebanyakan utang atau kena bencana) tapi pendapatannya brand yang baik harusnya besar. Kalau pendapatannya kecil maka brand tsb cuma dikenal namanya saja tapi tidak ada nilainya kalau tidak menghasilkan pendapatan. --- In [email protected], Hendrik Limbono <hendrik_lwww@...> wrote: > > Spertinya jawaban pak irwan agak melenceng dr apa yg sy tanyakan > > > Sent from Yahoo! Mail on Android >
