Salam semua untuk semua teman teman milis...

Terima kasih atas semua tanggapannya, sebenarnya
pertanyaan itu tidak lah mengandung maksud2 tertentu
seperti yang dikhawatirkan saudari rambarwati atau
hilangnya kepercayaan padaNya seperti yang ditakutkan
saudara Joni Subagyo.itu 'hanya' sebuah pertanyaan
dari mahluk  lemah yang di kenal dengan nama
Manusia.Dan satu lagi pertanyaan itu bukan untuk
mengkotakkotakan pendapat dengan kata 'setuju' atau
'tidak setuju'

Dari tanggapan2 teman2..satu kesimpulan saya yang
semakin kuat adalah benar benar manusia tidak berdaya
dihadapan keagunganNYa..

salam

JemeBahi

--- Prayudi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> Salam pembebasan!
> 
> Saudara Jame Bahi! Komentar2 Anda sungguh luar biasa
> dan menggelitik
> akal! Salut! :)
> 
> Simon said:
> > Menurut saya, pada  mulanya, segala sesuatu itu
> > baik, karena Tuhanpun
> > menciptakan dan mengajarkan segala sesuatu baik
> > adanya.
> > Dia tak pernah menciptakan kejahatan dalam diri
> > manusia.
> > Kejahatan terjadi karena manusia melanggar
> kebaikan
> > yang telah
> > digariskan
> > oleh Tuhan.
> 
> Yudi komentar:
> > Saya kayanya setuju deh dengan pendapat saudara
> > simon.
> 
> Yudi komentar lagi: :)
> 
> Dia memang tidak ingin makhluk-Nya masuk neraka.
> Ingat, mengetahui tidak
> sama dengan menginginkan apalagi
> menyuruh/memerintahkan.
> Jadi, manusia bukan DIMASUKKAN Tuhan ke neraka. Tapi
> MASUK neraka DENGAN
> SENDIRINYA, maksudnya karena amal perbuatannya
> sendiri.
> 
> Neraka itu adalah salah satu wujud rahmat dan kasih
> sayang Tuhan. (udah
> kaya kenal baek aja... :))
> Dia menciptakan manusia sempurna, sebagai kebaikan
> dengan potensi2 baik
> pula. Tuhan tidak menciptakan keburukan, karena pada
> hakikatnya
> keburukan itu adalah ketiadaan.
> 
> Penyifatan 'baik' terhadap sesuatu berbeda dengan
> penyifatan 'buruk'
> terhadap sesuatu itu. Sesuatu dikatakan baik karena
> adanya
> kesempurnaannya dan apa-apa yang menunjang
> keberadaan dan
> kesempurnaannya itu. Seperti hidup, ilmu, dan
> makanan. Jadi, kebaikan
> berkenaan dengan keberadaan semuanya itu.
> 
> Lain halnya dengan keburukan. Semua dikatakan buruk
> bukan karena
> keberadaan mereka. Mati, buta, bodoh, racun, dan
> lainnya tidak dikatakan
> buruk karena diri mereka masing-masing. Melainkan
> karena masing-masing
> mereka menerangkan atau menyebabkan ketiadaan.
> 
> Dikatakan buruk karena mati menerangkan ketiadaan
> hidup. Buta
> menerangkan ketiadaan penglihatan. Bodoh menerangkan
> kekurangan
> (ketiadaan kesempurnaan). Racun menyebabkan kematian
> (ketiadaan hidup).
> Kalau bukan karena hal-hal yang ada di balik mereka
> (keburukan), maka
> mereka tidak dikatakan buruk.
> 
> Dengan ini jelas bahwa mereka disifati buruk secara
> tidak langsung. Yang
> secara langsung adalah ketiadaan yang terkandung
> pada diri mereka. 
> Maka dapat disimpulkan bahwa kebaikan bersumber dari
> keberadaan,
> sedangkan keburukan bersumber dari ketiadaan.
> 
> Karena keburukan bersumber dari ketiadaan, maka ia
> tidak memiliki
> eksistensi sebagaimana ketiadaan itu sendiri.
> Keburukan = ketiadaan.
> Dapat dipahami namun tak punya eksistensi.
> 
> Maka keburukan tidak membutuhkan pencipta, karena
> memang tidak ada.
> Sehingga kita dapat menyatakan bahwa semua
> keberadaan yang diciptakan
> Tuhan adalah BAIK. Dan Tuhan tidak pernah
> menciptakan keburukan, sebab
> keburukan = ketiadaan.
> 
> 
> Manusia dilengkapi dengan berbagai potensi, seperti
> jiwa (nafs)
> hewaniah, syahwatiah, dan emosi. Semua potensi ini
> pada dasarnya baik
> dan merupakan kebaikan. Karena merekalah penggerak
> roda kehidupan.
> 
> Tapi manusia juga dilengkapi dengan AKAL. Akal
> adalah sarana untuk
> mengendalikan potensi-potensi itu menuju proses
> penyempurnaan.
> Dengan akal dan segenap potensi yang dimilikinya,
> spesies manusia
> memiliki potensi untuk menjadi �tempat� sempurna
> bagi tajalli
> (penampakan/perwujudan) seluruh sifat-Nya, dan
> potensi ini tidak
> dimiliki oleh makhluk lainnya.
> Apalagi Tuhan juga mengutus para nabi untuk
> membimbing akal agar dapat
> menjalankan perannya dengan baik.
> 
> Oleh karena itu, para ahli makrifat (�uraf�`)
> mendefinisikan manusia
> sebagai makhluk yang memiliki kelayakan dan potensi.
> Dan manusia yang
> hakiki serta sempurna adalah yang dapat
> mengaktualisasikan potensinya,
> yakni dengan bersifatkan dengan sifat-sifat ilahiah
> dan akhlak mulia.
> 
> Manusia yang tidak merealisasikan dan mengaktualkan
> potensi ilahiahnya,
> maka ia mulai mengenakan �pakaian� kebinatangan. Dan
> dalam definisi
> logisnya, manusia adalah binatang yang bernalar.
> Maka, ketika tidak
> terjadi aktualisasi sifat-sifat ilahiah, ia hanya
> memiliki sifat
> kebinatangannya saja.
> 
> Nah, manusia yang berhasil menyempurna di dunia ini,
> dia akan menjadi
> insan ilahiah, memiliki sifat2 ketuhanan. Akhirnya
> --> SURGA.
> Sedangkan yang gagal, yang akalnya tidak berhasil
> mengendalikan potensi2
> nya, maka jiwanya RUSAK. Untuk membetulkannya -->
> NERAKA.
> Jadi, neraka adalah rahmat-Nya bagi manusia, untuk
> membetulkan jiwa yang
> centang perenang selama perantauannya di dunia.
> 
> Tapi, jangan membayangkan neraka layaknya sebuah
> kolam raksasa dengan
> jilatan2 api yang membakar. Lalu orang2 yang gagal
> menyempurna,
> dicemplungin Tuhan ke sana. :)
> 
> Surga dan Neraka itu adalah nonmateri. Keduanya
> adalah state of soul,
> keadaan jiwa.
> Sesungguhnya "pakaian" kebinatangan itu menyakitkan
> jiwa, tapi tidak
> terasa di dunia karena ada hijab2 (penghalang,
> tirai) duniawi yang
> menutupi. Hijab-hijab ini sebenarnya kita bentang
> sendiri.
> Misalnya, waktu pertama kali berbohong atau
> katakanlah membunuh, kita
> pasti merasa tidak enak, gelisah, bingung, pusing,
> sakit perut, dan lain
> sebagainya. Tapi kalau sudah biasa, wah biasa aja
> tuh. Itulah salah satu
> contoh penghijaban jiwa.
> 
> Nah, di akhirat nanti semua hijab akan tersingkap.
> Hakikat dipampangkan
> secara sempurna.
> 
> Kala hakikat terpampang sempurna, maka sakit dan
> nikmat juga akan terasa
> sempurna, jauh lebih kuat daripada di dunia.
> Contoh, semakin kita tahu hakikat rokok yang merusak
> kesehatan, maka
> semakin besar pula keinginan kita untuk berhenti
> merokok. (Btw, saya
> sudah 6 bulan berhenti merokok :)).
> 
> Bila "pakaian" kebinatangan semakin tebal, maka jiwa
> akan semakin
> merasakan sakit. Sakit ini dimaksudkan agar jiwa
> "berkenan" melepaskan
> "pakaian" kebinatangan itu. Untuk masuk ke keadaan
> surgawi. Di sini,
> sakit adalah rahmat.
> 
> Oh ya, yang lain ikut gabung dong....
> 
>  
> Salam pembebasan!
> Yudi pustakazahra
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: jeme bahi [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke