aku teringat sebuah hadits
tangan di atas lebih mulia
dari tangan di bawah
tetapi adakah kita
menggenggam kemulian itu
usai gemerincing coin menggema
di kaleng anak jalanan itu ?
Pada tingkat kesadaran keagamaan tertentu dengan stratifikasi iman
yang lebih puncak, kenyataan di atas tentu memerlukan berbagai pelurusan.
Pertanyaan yang muncul tentu saja bukan sekadar kenapa tidak ikhlas memberi
melainkan juga, kenapa mesti ada anak jalanan. Sebab ada tidaknya ganjaran
pahala itu bukan urusan manusia. Ganjaran itu adalah hak dan otoritas Tuhan
sepenuhnya.
Di sini paling tidak ada dua katup pemikiran yang bisa kita buka.
Pertanyaan kenapa tidak ikhlas memberi ?, adalah kenyataan dari kurang
respeknya manusia kepada hal-hal yang bernada transenden yang diromantisir oleh
jargon-jargon rasionalitanya sendiri. Bahwa keikhlasan mesti ditumbuhkan dari
tanah yang bernama iman dan hal tersebut sudah jauh terpisah dari empirisisme
pengembaraan akal. Urusan iman, dalam kerangka ini adalah urusan non rasio
yang justru itu bukan urusan ilmu dan pengetahuan. Inilah ironi abad ini,
sebentuk keterlepaskaitan antara agama sebagai acuan moral peradaban manusia
yang kerap kita sebut sebagai sekularisasi dalam proses-proses bekerjanya.
Pintu lain adalah kenapa mesti ada anak jalanan dapat dibuka dari
katup sistem dan strata yang dibentuk berdasar tingkat pengetahuan manusia
dalam mengatur dirinya sendiri, bahwa sebuah mekanisme yang bernama pembangunan
telah berjalan, tentu saja merupakan sebentuk kenyataan riil dari tindakan akal
manusia , sebagai wujud nyata kekhalifahannya. Adapun kalau akhirnya muncul
berbagai akibat misalnya mesti ada kemiskinan yang terwakilkan oleh anak
jalanan, itu hanya merupakan akibat pada titik tertentu akan menjadi antitesa
perjalanan manusia menuju kesempurnaan kemanusiaannya.
Masalahnya sekarang, tentu kita tidak ingin menutup mata, tetapi
membuka pintu hati dan pikir bahwa lakon mereka adalah sebuah casting dari
pertunjukan teater yang sangat besar di negara yang katanya tercinta ini.
Sebuah pergelaran mahakarya dari seorang �Seniman tak terduga� di ujung sana,
di lembaran blue print perencanaan pembangunan.
Paradigma baru ilmu dan mungkin sikap kita memang diharapkan hadir
tidak untuk sebiji coin yang terlontar ke kaleng anak jalanan semata.
Melainkan juga pintu-pintu kepedulian dalam memberikan kontribusi, tentu pada
titik-titik ruang kemampuan di mana kita dapat memberi arti bagi kehidupan
mereka.
Nur Hasyim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan
untuk masalah
ini misalkan dengan membiayai mereka2 itu untuk masuk
sekolah dan membebaskanya dari jeratan mafia, mungkin
anda juga bertanya biayanya gimana?
Sebenarnya dalam ajaran agama(islam) ada istilah zakat
yang menurut saya tidak pernah di jalankan dengan
benar, coba bayangkan misalkan setiap orang yang
meimiliki penghasilan diatas 1 jt di wajibkan bayar
zakat 2,5% = Rp25.000 dan misalkan dalam satu kota
seperti di tempat saya tinggal surabaya misalkan ada
sekitar Rp100.000 orang dengan penghasilan tersebut
maka uang yang terkumpul kurang lebih Rp2.500.000.000
(dua setengah milyar)
Itu kalo penghasilanya rata2 1 juta padahal yang
penghasilanya di atas itu 2jt atau sampai 5 jt ada
berapa banyak, yang jadi masalah kadang kita terlalu
takut menjadi miskin dengan mambayar zakat.
Untuk yang merasa muslim ingat di dalam harta kalian
ada sebagian yang merupakan hak-hak anak-anak tersebut
yang belum anda berikan.
salam
hasyim
--- Toni Tegar Sahidi <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
>
> Wah ya jangan dibiarkan mati tho, yang namanya anak
> jalanan itu kan bagaimanapun juga adalah manusia.
> Coba kalo ANda digitukan? mau? Itu namanya bukan
> mati sevara terhormat, namun mati sebagai seorang
> manusia yang sia-sia.
> Apakah itu sebuah Eksploitasi..?? saya rasa bukan.
> Yang meksploitasi mereka pada dasarnya adalah para
> preman2 ataupun mafia2 yang mengkoordinir Anak2
> jalanan itu sehingga mereka tetap menjadi Anjal
> hingga sekarang. Tapi bukanlah caranya jika kita ber
> suudzon sehingga kita tidak mau meberikan rupiah
> bagi mereka..!!
> Dengan memberikan mereka beberapa rupiah, itu
> bukanlah eksploitasi bagi mereka. Jika kita
> berpositive thinking, setidaknya uang itu dapa
> menyambung hidup mereka. MESKI HANYA SATU JAM...!!
> Atau pun jika Anda berpikir bahwa mereka dikoordinir
> oleh semacam mafia, Setidaknya kita bisa mengurangi
> sebuah pukulan yang diberikan oleh bos mereka hanya
> karena setoran mereka kurang.
> Namun dibalik itu, sebenarnya memberi mereka uang
> masih adalah jauh lebih mulia daripada tidak. Meski
> itu hanya berefek pendek. Mau hal yang berefek
> panjang..?? jadikan mereka jadi anak asuh.
> Sekolahkan, dan penuhi kebutuhannya. Ini akan
> menjadi sebuah efek berantai bagi pahala dan amal
> anda untuk seterusnya. MAu tahu cara yang lain? ini
> saya lampirkan (di bagian paling bawah email ini)
> sebuah cerita dari eramuslim.com n moga berguna. Tak
> hanya mengentas anak jalanan, namun juga mengangkat
> mereka dan orang2 disekitar mereka, menjadi jauh
> lebih ......
> Ingin sebenarnya saya juga melakukan apa yang saya
> katakan diatas. Namun apalah daya, diri ini masih
> SMA kelas 3, NAmun sungguh benar, bahwa jika kelak
> saya diberi Rizki yang berlebih dari Allah, Insya
> Allah akan saya usahakan untuk melakukan hal diatas.
> so doain saya ya..!!
> sesama orang baru... Salam kenal, aku jugabaru
> koq.. ^_^;
>
> (Baca lampiran di bagian paling bawah email ini..)
> ----- Original Message -----
> From: [EMAIL PROTECTED]
> To: [email protected]
> Sent: Monday, April 18, 2005 11:10 AM
> Subject: Re: [Sarikata.com] anak jalanan
> Kalau menurut saya, berilah dan tidak usah
> berpikir macam-macam tentang
> mereka karena
> tak ada yang buruk dengan memberi, apalagi memberi
> dengan ikhlas dan dari
> kekurangan anda.
> Lebih baik memberi daripada menerima bukan?
> Salam.
>
>
> sari mawar <[EMAIL PROTECTED]> on 18/04/2005
> 10:43:51
> Please respond to [email protected]
>
> To: [email protected]
> cc: (bcc: Antonius S Santosa/1000/SJB)
> Subject: Re: [Sarikata.com] anak jalanan
>
>
> kalau menurut saya, kalau anda mau memberi
> berilah, kalau tidak jangan.
> Jangan sampai apa yang anda berikan tidak menjadi
> berkat buat dia. Untuk
> urusan perkataan apakah itu mengeploitasi mereka,
> itu masalah yang bicara
> saja. Mungkin anda coba mencari cara lain dalam
> memberi. Kan memberi tidak
> harus berupa uang, mungkin dengan mengajarkan
> keterampilan yang anda
> miliki. Kalau soal peraturan pemerintah?????????
> jangan harap pemerintah
> memikirkannya, karena mereka sudah sibuk dengan
> pikiran mereka masing2
> bagaimana untuk mempertahankan kedududkan mereka
> di sana.
> Anak jalanan? ga tahu tuch?????Penting apa anak
> jalanan itu?(mungkin itu
> kali yach pikiran mereka)Semoga bisa berguna
> thanks.
>
> akubiru_85 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> halo, aku orang baru. namun aku tertarik
> mengemukakan satu pertanyaan
> yang selama ini mengganggu. apa memberi sedekah
> pada org2 di jalanan
> itu benar suatu eksploitasi terhadap mereka
> sendiri? burukkah itu? apa
> lebih baik membiarkan mereka mati begitu saja 'dgn
> terhormat'? (krn
> pemerintah kita belum scr jelas memberi perhatian
> terhadap hal ini.
>
>
>
> ::Berhenti Menjadi Pengemis
>
>
>
> Publikasi: 05/10/2004 11:18 WIB
>
> eramuslim - Selama ini, saya selalu menyediakan
> beberapa uang receh untuk berjaga-jaga kalau
> melewati pengemis atau ada pengemis yang
> menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat
> satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh
> di kantong habis baru lah aku berhenti dan
> menggantinya dengan kata "maaf" kepada pengemis yang
> ke sekian.
>
>
>
> Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena
> memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap
> hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah
> atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung
> persediaan.
>
>
>
> Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya
> saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah
> melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal
> kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku.
> Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah
> dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat
> sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar
> Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.
>
>
>
> Seorang ibu setengah baya sambil menggendong
> anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan
> tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang
> mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding
> mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu
> lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu
> rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa
> yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua
> lembar uang itu.
>
>
>
> "Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana,
> yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?" tanya
> Diding
>
>
>
> Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan
> memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang
> serta merta menunjuk uang seratus ribu.
>
>
>
> "Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus
> dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus
> ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu
> harus mengembalikannya dalam waktu yang kita
> tentukan, bagaimana?" terang Diding.
>
>
>
> Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk
> menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan
> maksud sahabat saya itu. Dan, "Maksudnya... yang
> seratus ribu itu hanya pinjaman?"
>
>
>
> "Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini,
> kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu,
> paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya
> akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu
> agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu
> meminta-minta lagi," katanya.
>
>
>
> Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik
> memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang
> agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta.
> Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan
> membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki
> beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado,
> seperti cobek, piring, gelas, meja dan lain-lain.
>
>
>
> Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami
> bersama-sama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu
> jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda,
> dan
=== message truncated ===
__________________________________
Do you Yahoo!?
Plan great trips with Yahoo! Travel: Now over 17,000 guides!
http://travel.yahoo.com/p-travelguide
Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Kirim kontribusi cerita Anda ke http://www.sarikata.com/ sekarang juga !!
Untuk Unsubscribe, kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/