Wah kang turut berduka atas musibahnya semoga mendapat hikmah juga utk kita semua, agar selalu hati-hati. Memang resiko bird watcher ya gitu, jangankan dihutan lah wong saya di lahan basah aja bisa kecebur sepinggang, sebabnya ya sama mata mantengin manuk terus jadi kordinasi sama mata kaki hilang :D
Salam Rivo 2008/5/19 Kang Bas <[EMAIL PROTECTED]>: > Salam > > Hari sabtu kemarin berencana eksplorasi ke G. Ungaran. > Satu tim lain sudah di sisi barat sehari sebelumnya. > Sementara kami berempat menuju dulu kawasan lereng > utara, di daerah Kalisidi. Rencananya sore hari akan > menyusul tim 1. > > Kawasan ini cukup indah dan berpotensi untuk BW. > Hutannya masih cukup lebat. Bagian bawah berupa > perkebunan cengkeh, jika menyusuri daerah aliran > sungai dan punggungan akan mencapai pos terakhir > pendakian. Di pertengahan terdapat dua air terjun, di > hulu anak sungai. Meski demikian kawasan ini medannya > paling berat untuk kawasan G. Ungaran, kemiringan > lahannya 45-90 derajat. > > Setelah perkebunan, kami menyusuri tepi saluran air > yang dibuat di sisi tebing terjal, nyaris tegak lurus. > Sebelah kiri menganga jurang sedalam 10-30 m yang > banyak ditumbuhi vegetasi. Lintasan hanya selebar 30 > cm, jadi harus ekstra hati-hati. Namun asyik juga, > karena posisi cukup tinggi sehingga cukup mudah > melihat burung2 arboreal di atas vegetasi dasar dan > seberang jurang. > > Lepas saluran irigasi, jalur berupa tanah dan batu. > Beberapa kali berhenti untuk mengamati Elang Jawa yang > sibuk mencari mangsa di atas kanopi. Beberapa burung > semak mulai menggoda untuk diburu, memaksa kami untuk > sering menengadah. Dan resiko mulai muncul... > > Saya paling depan tidak menyadari jika jalan setapak > ada yang longsor. Keasyikan melihat burung, saya > terlambat untuk menghindar. Terperosoklah sudah ke > jurang 5 meteran. Mau mencari pegangan, tangan kiri > sedang pegang bino, tangan kanan pegang kamera. Reflek > saja menempelkan badan ke tanah, kaki kiri untuk > mengerem, sambil terus meluncur. Untung tidak > terpelanting dengan kepala duluan... > > Setelah bisa berhenti, saya orientasi. Baju, Bino, > kamera, belepotan tanah. Mungkin karena terhantam ke > tanah, lensa macet tidak mau masuk dan dimatikan. > Dengan tertatih saya kembali naik keatas. Kaki kiri > penuh lecet2 dan memar, lutut agak terkilir. Saya > bersihkan luka di air sungai yang dingin, sekalian > mengompres memar. > > Tim akhirnya memutuskan untuk membatalkan perjalanan > dan kembali ke markas. Sambil tertatih kembali turun > menyusuri jurang (lagi), tentu sambil mengawasi jalan. > Resiko seorang birdwatcher (yang teledor). Buat teman2 > lain, jangan hanya pakai mata saja, tapi mata kakinya > dimanfaatkan juga, hehehe > > Meski babak belur sepertinya tidak kapok deh, masih > ingin ke situ lagi. Tentu nunggu bisa jalan normal > dulu.. > > KB > > >
