2008/5/20 Kang Bas <[EMAIL PROTECTED]>: > Salam > > Untuk jumlah, memang jarang sekali belasan ekor > teramati. Namun pernah teramati mencapai angka > tersebut dan kami yakin bukan duplikasi karena > flocknya berentetan. (bukan bolak-balik). Selama ini > datanya memang fluktuasi, kadang hanya berjumpa 2, > kadang banyak dalam hitungan hari.
Memang sudah di perkirakan seh untuk kawasan hutan yang tidak begitu besar, terfragmentasi dan di kelilingi oleh kawasan non hutan, perkiraanya mereka akan jarang flocking karena sumberdayanya pun terbatas dan tersebar di antara blok-blok hutan yang tersisa. Kalau di TN. Khao Yai, Thailand mereka bisa flocking lebih dari seratus ekor dalam waktu bersamaan. Saya sendiri seh baru pernah liat cuman 17 ekor dalam satu pohon di TNBBS, Lampung. Kalau boleh tau identifikasinya melalu apa saja? apakah hanya visualisasi dan vokalisasi saat calling? atau juga berdasarkan karakter suara kepakan sayapnya? karena untuk rangkong berukuran besar, masing-masing jenis mempunya karakter suara kepakan sayap yang khas sehingga bisa di pakai untuk identifikasi. > Mungkin maksud Bang Yoki, dengan sifat nomaden > tersebut, dapat berpotensi bias data? Duplikasi karena > individu yang hilir mudik terhitung kembali? Begitu > kah? > Untuk estimasi populasi, kami punya satu titik > "tertinggi" pada satu kawasan. Dengan scanning, kami > berusaha meminimalkan peluang terjadinya duplikasi > perhitungan. Sebenarnya duplikasi atau double detection gak masalah, terlebih kalau ini memang bagian dari pengulangan. Kalau bias atau tidaknya? yah tergantung banyak faktor, terutama bagaimana penelitian ini di desain, nantinya akan berhubungan dengan berapa kali pengulangan untuk setiap site, tingkat keacakan, dan dimana site pengamatan tersebut pun akan berpengaruh terhadap bias, akurasi dan presisi. Selain itu juga, faktor analisa data ikut berpengaruh. > Mengenai kawasan hutan G. Ungaran. Untuk lereng > selatan dan barat distribusinya dari puncak 2000 dpl > sampai 1500 dpl. Untuk lereng timur, dari 1500 dpl - > 700 dpl. Yang sisi utara nyaris penuh dengan kebun > teh. Dan Julang hanya melintas saja di kawasan ini > (melintas dari hutan barat ke timur, pp). > > Maksud petak hutan terdekat? Ya (hampir) di seluruh > lereng ada hutan. Kami belum paham maksudnya Bang > Yoki. Mungkin bisa di dongengi lagi :D Okeh lah saya mendongeng sedikit, maksudnya adalah blok hutan yang bertetanggaan. Dalam kacamata rangkong, di daerah yang terfragmentasi, satu blok hutan bukan faktor utama untuk mereka memanfaatkan sumberdaya yang ada, blok-blok hutan lainnya yang masih dalam jangkauan mereka pun sangat penting. Jadi blok-blok hutan yang ada di dalam satu lansekap menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan, terlebih untuk rangkong yang berukuran tubuh yang besar seperti julang ini. Iseng liat di Google Earth, jarak terdekat dari blok hutan G.Ungaran adalah ke G. Merbabu = 25 km, kemudian G.Sumbing = 35 km dan G. Sundoro = 36 km, kesemuanya ini masih dalam jangkauan julang emas. Begitu dongengnya, semoga bisa memperjelas bukannya nambah mumet :D Wah, kalau emang Kang Bas punya data kehadiran rangkong di blok-blok hutan lainnya, dan dilakukan secara berulang dan sistematis bisa menarik neh. Ayo dung nulis research paper, kebetulan tahun depan ada konferensi rangkong di Singapore. Saya bersedia deh bantuin! juga buat yang lagi penelitian rangkong lainnya. Buat rekan-rekan yang lain, sorry yah kalau menuh-menuhin bandwidth nya, maklum kalau ada rekan yang tertarik dengan rangkong saya sangat seneng jadi ada temen :P. -- ----- Y. Hadiprakarsa (Yoki)
