Salam damai juga.... memang manusia selalu menikmati mengatur ini-itu...termasuk satwa...manusia memang penguasa....ngak sedikit yang lupa diri...ngak pernah instropeksi...mengatur satwa selalu lebih mudah darpada mengtur diri sendiri....mengatur manusia juga sepertinya lebih susah daripada mengatur satwa...daripada menyalahkan diri lebih baik menyalahkan satwa yang tidak bisa membela diri...saya masih percaya kalau ada satwa sampai menyerang manusia pasti karena keinginan mereka untuk membalas perlakuan manusia...meski seringkali perlawanan mereka adalah sia-sia....manusia terlalu powerfull....tapi mereka terus berjuang..ngak pernah berhenti...banyak penyakit zoonosis yang sampai saat ini belum kita ketahui obatnya...adalah bagian dari perlawanan para satwa kepada penjajahnya...manusia....
jadi mungkin selain mengatur satwa kita juga harus mengatur diri kita...mestinya manusianya juga diatur...jadi sebelum mengatur satwa mari mengatur diri kita sendiri dulu...hehehe...bukankah musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri ? ige lagingambleh --- In [email protected], Imanuddin Imanuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Salam juga > Sebagai orang awam, menurut saya sih... yang punya akal dan punya wewenang dari yang Maha Kuasa untuk mengatur bumi ini adalah manusia. Disitulah pentingnya manusia punya moral dan pengetahuan supaya ketika bikin aturan apapun bisa selaras dengan lingkungan. Saya belum tahu ya.... kalau ada pendapat lain yang mengatakan hewan punya wewenang mengatur bumi ini. Ini bukan masalah menang-menangan atau siapa yang ada duluan.. > > Mengendalikan populasi satwa kenapa tidak..? sepanjang itu menjadi win-win solution dan dilandasi oleh moral dan pengetahuan. Kalau satwa itu jadi musnah karena pengendalian... itu lain masalah. Itu bukan pengendalian populasi. Itu namanya pembantaian. Saya pikir dalam sejarah konservasi sudah banyak kok ditunjukkan yang namanya pengendalian populasi.. sepanjang ada dasar ilmiah dan etika di dalamnya. Baru-batu ini saya baca juga di Kompas mengenai rencana pengendalian populasi gajah Afrika di Afrika Selatan yang populasi sudah terlalu besar sehingga mengganggu petani. Pengendalian ini kabarnya juga bukan kali ini saja, sebelumnya juga pernah dilakukan (seinget saya ada liputannya di National Geographic edisi sepuluh tahun lalu kali ya...). Kalau saya sih sebagai orang awam setuju aja... sebab kalau saya jadi petani di Afrika Selatan juga saya engga bakal mau keinjek gajah. > > salam damai ah.... > > > --- On Mon, 8/4/08, Kang Bas <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Kang Bas <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [SBI-InFo] Asyiknya berbagi tempat dgn burung2 urban > To: [email protected] > Date: Monday, August 4, 2008, 5:07 AM > > > > > > > > > > > Salam... > > Binatang "mengganggu" kenyamanan manusia? > Binatang "harus dikendalian" dengan cara arif dan bijaksana? > > Hmmm.... bagaimana kalau dilihat dari kacamata si binatang.... . > > Manusia "mengganggu" kenyamanan binatang? > Manusia "harus dikendalikan" dengan cara arif dan bijaksana? > > Kalau mau menang-menangan sih, pertanyaannya siapa yang datang duluan, siapa yang datang belakangan. Siapa yang diganggu, siapa yang mengganggu. > > Pedih sekali ditakdirkan jadi binatang.... . > > Enak sekali jadi Homo sapiens a.k.a Top of The Top Predator.... > > KB > > --- On Mon, 8/4/08, Imanuddin Imanuddin <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > > > > > > > Kalau menurut saya sih coba juga dilihat dari kacamata orang yang engga suka sama burung.Bagaimanapun juga di dunia ini ada juga orang yang tidak terlalu suka dengan burung liar apalagi kalau sudah sampai tingkat mengganggu. Di dunia ini tidak semua manusia adalah pengamat burung dan juga pecinta burung, seperti halnya bahwa Bung Hasto juga tidak suka dengan Macaca. Saya sendiri melihatnya realistis aja, kalau burung > dan binatang lainnya mengganggu kehidupan manusia ya harus dikendalikan dengan cara > yang arif dan bijaksana, seadil-adilnya dan berkelanjutan dan entah apalagi..... .. > > salam damai > > Iman >
