Om Doel
saya juga sering liat itik gunung di Serangan Bali.
yang menarik adalah mereka ini hanya ada di sore hari di titik pengamatan yang 
biasa kami liat. Paginya entah kemana? (mungkin ada migrasi harian)

bedanya : tempatnya di kolam pinggir pantai, sering gabung juga dengan burung 
burung perancah lainnya. dan jumlahnya tidak pernah mencapai 15
seringnya 8 sampai 10 atau sebelas ekor.

tapi sayaaaang, saya ga punya kamera yang layak untuk mendokumentasikannya.

senang sekali bisa berbagi pengalaman

sekedar info, dua minggu yang lalu 10 agustus saya dengan temen temen kokokan 
dan HIMABIO UNUD juga liat undan kacamata 1 ekor

aden



----- Original Message ----
From: muhammad abdullah <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, August 21, 2008 2:42:38 PM
Subject: [SBI-InFo] itik gunung


 
      Ketika melakukan survey
untuk penelitian komposisi jenis tumbuhan di kawasan dataran tinggi
dieng wonosobo, kami mendirikan tenda menjelang magrib persis di tepi
telaga cebong yang terletak di desa sembungan. Malam yang dingin kami
habiskan dengan berpoker ria di dalam tenda, hingga kantuk
menggelayuti kelopak mata.
        Pagi hari ketika skala
di thermometer udara menunjuk angka 11oC kami mengambil
air wudhu di danau. kala itu masih gelap, tiba-tiba kami dikejutkan
oleh “bebek-bebek” yang berterbangan di sekitar danau. awalnya
kami mengira itu “bebek biasa” milik penduduk desa, jadi kami
tidak begitu peduli dan meneruskan sholat subuh  dengan tubuh yang
terus menggigil kedinginan.
     Usai sholat…dan hari
kian terang, “bebek-bebek”pun bertambah jumlahnya. Eiit…tunggu
dulu..waktu itu kami berada di desa tertinggi di pulau jawa (menurut
buku panduan wisata kabupaten wonosobo .red) Desa Sembungan dengan
ketinggian 2077 mdpl (menurut Altimeter SUNTOO yang kami bawa),
so…mungkinkah ada “bebek biasa” milik penduduk desa…???
selain itu kebanyakan penduduk desa sembungan berprofesi sebagai
petani kubis dan kentang. 
        Rasa penasaran kami
makin bertambah ketika terlihat ada ciri yang berbeda dari tubuh si
“bebek”. Binokuler pun disiapkan, tak lupa mencari-cari gambar
yang serupa dengan si “bebek” di buku MacKinnon (maklum belum
lama main2 sama burung,, hehe)

wuih, ada 11 ekor yang teramati dalam
waktu yang hampir bersamaan.

Weee…ketemu…, yang
paling mirip adalah gambar itik gunung (Anas superciliosa),,
tapi ketika kami cari tahu di keterangan status dan distribusi,
bebek, eh maaf  si itik gunung ini sekarang hanya ditemui di Jawa
Timur dan Bali… lha ini…???  warna hijau di spekulumnya
meyakinkan kami kalo mereka adalah itik gunung….

mohon koreksi kalo salah identifikasi
dan tambahan informasi…matur nuwuuunnn..

berhubung  waktu kami mendesak dan
harus menyelesaikan survey, kami tidak bisa bercengkerama lebih lama
lagi dengan si “bebek” gunung ini. 

Tak lama kemudian mereka
pun (kawanan “bebek”) juga menghilang,, , karena sudah banyak
“dieselman” (penduduk yang membawa diesel) yang siap menghidupkan
mesin berisik guna menyedot air dari telaga untuk menyirami
kentang-kentang mereka yang ditanam dengan menggundulkan bukit-bukit
di sekitar danau sampai ke puncak2nya (pilu hatiku ini….)

menurut penduduk lokal, dulu disana
banyak sekali itik gunung, tapi kini semakin langka. kemungkinan
pindah ke telaga2 yang lain di sekitar dieng.

oh ya… disana kami juga melihat
gambaran alam yang sering dilukis oleh kita sewaktu duduk di sekolah
TK : matahari yang terbit diantara dua gunung, Subhanalloh sekali…!!!


salam lestari
OmDoel

* mohon maaf kalo fotonya kurang
bagus,,baru belajar motret-motret sih 
    


      

Kirim email ke