Duh jadi iri neh klo ada orang yg kerjanya bisa sambil jalan2, gak kayak gw neh yg gak bisa kemana2, kerja kayak mesin tiap hari. Maklum, kuli.. hiks hiks... Jadi tertarik neh, secara wonosobo tak terlalu jauh dari kampung halaman gw.. Hmm excited juga gw setelah tau ternyata di sana masih ada bebek liar, padahal setau gw udah gak ada hutan di sono, dimana2 jadi lahan pertanian.. Dulu waktu kecil, untuk bangsa burung, gw sempet terobsesi burung dari famili Anatidae... Aneh ya?.... ya memang kegemaran gw selalu ganjil he he he, jarang banget ada orang yg kayak gt... Dulu waktu anak kecil gw pengen banget punya angsa dan ngeliat dia terbang (padahal angsa sangat amat jarang terbang, kecuali kalo dipaksa).. Weird kid..ha? Karena anak kecil, ya bisanya cuma pengin doang.. Kalo sekarang pengin punya angsa kan tinggal beli (sayangnya sekarang gak pengin lagi). Hmmm 11 derajat Celsius kayaknya bukan suhu yg rendah untuk ukuran altitude di atas 2000 meter ya.... Memang bulan apa sih ke sono? Kalo bulan Juli (pertengahan kemarau kemarin), mestinya lebih rendah dari itu. Karena Juli adalah musim bediding, ketika suhu mencapai titik paling rendah di Jawa... Di kampung saya yg di dataran rendah (kurang lebih 70 meter dpl) aja, suhunya 18 derajat Celsius (kemaren pas gw pulang, terukur 18 Celsius pada dinihari, di pertengahan Juli yg merupakan bulan terdingin). Meski sama2 di dataran rendah, di Jakarta suhu di bulan Juli (yg mustinya bulan terdingin) di kamar gw teteeep aja 32 derajat (siang) dan paling paling turun jadi 28-29 derajat kalau malem. Byeh...jauh banget dibanding suhu di kampung gw di Jateng pada bulan yg sama, meski sama2 dataran rendah. Eh kok jadi ngomongin suhu ya.. Gak nyambung yah ...hwekekek....
--- On Thu, 8/21/08, muhammad abdullah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: muhammad abdullah <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [SBI-InFo] itik gunung To: [email protected] Date: Thursday, August 21, 2008, 2:42 AM Ketika melakukan survey untuk penelitian komposisi jenis tumbuhan di kawasan dataran tinggi dieng wonosobo, kami mendirikan tenda menjelang magrib persis di tepi telaga cebong yang terletak di desa sembungan. Malam yang dingin kami habiskan dengan berpoker ria di dalam tenda, hingga kantuk menggelayuti kelopak mata. Pagi hari ketika skala di thermometer udara menunjuk angka 11oC kami mengambil air wudhu di danau. kala itu masih gelap, tiba-tiba kami dikejutkan oleh “bebek-bebek” yang berterbangan di sekitar danau. awalnya kami mengira itu “bebek biasa” milik penduduk desa, jadi kami tidak begitu peduli dan meneruskan sholat subuh dengan tubuh yang terus menggigil kedinginan. Usai sholat…dan hari kian terang, “bebek-bebek”pun bertambah jumlahnya. Eiit…tunggu dulu..waktu itu kami berada di desa tertinggi di pulau jawa (menurut buku panduan wisata kabupaten wonosobo .red) Desa Sembungan dengan ketinggian 2077 mdpl (menurut Altimeter SUNTOO yang kami bawa), so…mungkinkah ada “bebek biasa” milik penduduk desa…??? selain itu kebanyakan penduduk desa sembungan berprofesi sebagai petani kubis dan kentang. Rasa penasaran kami makin bertambah ketika terlihat ada ciri yang berbeda dari tubuh si “bebek”. Binokuler pun disiapkan, tak lupa mencari-cari gambar yang serupa dengan si “bebek” di buku MacKinnon (maklum belum lama main2 sama burung,, hehe) wuih, ada 11 ekor yang teramati dalam waktu yang hampir bersamaan. Weee…ketemu…, yang paling mirip adalah gambar itik gunung (Anas superciliosa),, tapi ketika kami cari tahu di keterangan status dan distribusi, bebek, eh maaf si itik gunung ini sekarang hanya ditemui di Jawa Timur dan Bali… lha ini…??? warna hijau di spekulumnya meyakinkan kami kalo mereka adalah itik gunung…. mohon koreksi kalo salah identifikasi dan tambahan informasi…matur nuwuuunnn.. berhubung waktu kami mendesak dan harus menyelesaikan survey, kami tidak bisa bercengkerama lebih lama lagi dengan si “bebek” gunung ini. Tak lama kemudian mereka pun (kawanan “bebek”) juga menghilang,, , karena sudah banyak “dieselman” (penduduk yang membawa diesel) yang siap menghidupkan mesin berisik guna menyedot air dari telaga untuk menyirami kentang-kentang mereka yang ditanam dengan menggundulkan bukit-bukit di sekitar danau sampai ke puncak2nya (pilu hatiku ini….) menurut penduduk lokal, dulu disana banyak sekali itik gunung, tapi kini semakin langka. kemungkinan pindah ke telaga2 yang lain di sekitar dieng. oh ya… disana kami juga melihat gambaran alam yang sering dilukis oleh kita sewaktu duduk di sekolah TK : matahari yang terbit diantara dua gunung, Subhanalloh sekali…!!! salam lestari OmDoel * mohon maaf kalo fotonya kurang bagus,,baru belajar motret-motret sih
