Sementara ini belum bisa pengamatan rutin bu, berhubung masih harus ke lokasi 
lain, semoga saja bisa sering-sering mampir ke Sano Nggoang. Untuk elang 
floresnya kemarin belum teramati, karena waktu pengamatan terlalu singkat, 
jenis ini sempat teramati di dekat desa Golo Ndaring, dekat Werang, teramati 3 
ekor (1 individu kemungkinan belum dewasa).
Kondisi hutan Sesok masih baik bu, untuk saat ini masih relatif aman dari 
tangan-tangan jahil dan semoga untuk seterusnya.

salam,
edho

--- On Sun, 8/24/08, Dewi Prawiradilaga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Dewi Prawiradilaga <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [SBI-InFo] itik gunung
To: "edhoehod" <[email protected]>
Date: Sunday, August 24, 2008, 8:15 PM










    
            Senang sekali dapat kabar pengamatan dari danau Sano Nggoang, 
apakah rutin diamati? Apakah hutan diatas danau tersebut masih baik??? Apakah 
pernah melihat pasangan Elang Flores (Spizaetus floris) yang memiliki teritori 
dihutan tersebut? Ditunggu kabarnya.

Terimakasih sebelumnya.
Salam,
Dewi

2008/8/24 w edho <[EMAIL PROTECTED] com>

















    
            
Ikutan nimbrung itik ah...
salam kenal om Doel,

Akhir Juli kemarin juga bertemu dengan kawan air kita yg satu ini, di danau 
Sano Nggoang, bagian barat pulau Flores, berada dalam mixed flocks dengan Itik 
benjut (Anas gibberifrons) , estimasi jumlah total kelompok ini sekitar 60an 
individu.

Kedua jenis ini sebenernya sudah teramati di danau ini sejak awal Mei, waktu 
itu jumlahnya lebih sedikit sekitar 50an individu. Menurut penduduk setempat 
jenis burung air ini paling melimpah saat awal musim penghujan.

Dari kedua jenis ini tampaknya itik gunung lebih peka dan pemalu daripada itik 
benjut, jenis ini lebih mudah terganggu saat pengamat bergerak mendekat.

salam manuk
edho!


--- On Thu, 8/21/08, muhammad abdullah <thedoel_2000@ yahoo.com> wrote:

From: muhammad abdullah <thedoel_2000@ yahoo.com>

Subject: Re: [SBI-InFo] itik gunung
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Date: Thursday, August 21, 2008, 9:48 PM







    
            
wah... alhamdulillah banget kalo gitu,,, kita pas kedapetan suhunya 11 drjt C. 
moga thermohigrometer n altiBarometer  yg kita bawa gak rusak,coz keduanya 
menunjukkan angka yang sama ketika digantung di luar pintu tenda semaleman. 


(maaf pak Bas, alat2nya  belum bisa dibalikin ke undip, hehe... masih mau 
dipake jalan2 lg ke jepara, cari kutu daun), 
oh ya bu dewi...maaf kalo boleh tahu hasil penelitian mhsw UGM 20 th silam itu 
gimana ya,,, perkembangan sampai sekarang..?? ?


(mode on : utk bikin proposal penelitian "pemetaan distribusi si anas di 
dieng",, hehhe...)

salam lestari
OmDoel

--- On Thu, 8/21/08, Hasto P Irawan <hpirawan2005@ yahoo.com> wrote:

From: Hasto P Irawan <hpirawan2005@ yahoo.com>
Subject: Re: [SBI-InFo] itik gunung

To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Date: Thursday, August 21, 2008, 11:19 AM







    
            
Duh jadi iri neh klo ada orang yg kerjanya bisa sambil jalan2, gak kayak gw neh 
yg gak bisa kemana2, kerja kayak mesin tiap hari. Maklum, kuli.. hiks hiks...
 
Jadi tertarik neh, secara wonosobo tak terlalu jauh dari kampung halaman gw.. 
Hmm excited juga gw setelah tau ternyata di sana masih ada bebek liar, padahal 
setau gw udah gak ada hutan di sono, dimana2 jadi lahan pertanian.. Dulu waktu 
kecil, untuk bangsa burung, gw sempet terobsesi burung dari famili Anatidae... 
Aneh ya?.... ya memang kegemaran gw selalu ganjil he he he, jarang banget ada 
orang yg kayak gt... Dulu waktu anak kecil gw pengen banget punya angsa dan 
ngeliat dia terbang (padahal angsa sangat amat jarang terbang, kecuali kalo 
dipaksa).. Weird kid..ha? Karena anak kecil, ya bisanya cuma pengin doang.. 
Kalo sekarang pengin punya angsa kan tinggal beli (sayangnya sekarang gak 
pengin lagi).

 
Hmmm 11 derajat Celsius kayaknya bukan suhu yg rendah untuk ukuran altitude di 
atas 2000 meter ya.... Memang bulan apa sih ke sono? Kalo bulan Juli 
(pertengahan kemarau kemarin), mestinya lebih rendah dari itu. Karena Juli 
adalah musim bediding, ketika suhu mencapai titik paling rendah di Jawa...

 
Di kampung saya yg di dataran rendah (kurang lebih 70 meter dpl) aja, suhunya 
18 derajat Celsius (kemaren pas gw pulang, terukur 18 Celsius pada dinihari, di 
pertengahan Juli yg merupakan bulan terdingin).
 
Meski sama2 di dataran rendah, di Jakarta suhu di bulan Juli (yg mustinya bulan 
terdingin) di kamar gw teteeep aja 32 derajat (siang) dan paling paling turun 
jadi 28-29 derajat kalau malem. Byeh...jauh banget dibanding suhu di kampung gw 
di Jateng pada bulan yg sama, meski sama2 dataran rendah. Eh kok jadi ngomongin 
suhu ya.. Gak nyambung yah ...hwekekek. ...


--- On Thu, 8/21/08, muhammad abdullah <thedoel_2000@ yahoo.com> wrote:

From: muhammad abdullah <thedoel_2000@ yahoo.com>
Subject: [SBI-InFo] itik gunung
To: [EMAIL PROTECTED] s.com

Date: Thursday, August 21, 2008, 2:42 AM









      Ketika melakukan survey untuk penelitian komposisi jenis tumbuhan di 
kawasan dataran tinggi dieng wonosobo, kami mendirikan tenda menjelang magrib 
persis di tepi telaga cebong yang terletak di desa sembungan. Malam yang dingin 
kami habiskan dengan berpoker ria di dalam tenda, hingga kantuk menggelayuti 
kelopak mata.

        Pagi hari ketika skala di thermometer udara menunjuk angka 11oC kami 
mengambil air wudhu di danau. kala itu masih gelap, tiba-tiba kami dikejutkan 
oleh "bebek-bebek" yang berterbangan di sekitar danau. awalnya kami mengira itu 
"bebek biasa" milik penduduk desa, jadi kami tidak begitu peduli dan meneruskan 
sholat subuh dengan tubuh yang terus menggigil kedinginan.

     Usai sholat…dan hari kian terang, "bebek-bebek" pun bertambah jumlahnya. 
Eiit…tunggu dulu..waktu itu kami berada di desa tertinggi di pulau jawa 
(menurut buku panduan wisata kabupaten wonosobo .red) Desa Sembungan dengan 
ketinggian 2077 mdpl (menurut Altimeter SUNTOO yang kami bawa), so…mungkinkah 
ada "bebek biasa" milik penduduk desa…??? selain itu kebanyakan penduduk desa 
sembungan berprofesi sebagai petani kubis dan kentang. 

        Rasa penasaran kami makin bertambah ketika terlihat ada ciri yang 
berbeda dari tubuh si "bebek". Binokuler pun disiapkan, tak lupa mencari-cari 
gambar yang serupa dengan si "bebek" di buku MacKinnon (maklum belum lama main2 
sama burung,, hehe)



wuih, ada 11 ekor yang teramati dalam waktu yang hampir bersamaan.


Weee…ketemu…, yang paling mirip adalah gambar itik gunung (Anas superciliosa),, 
tapi ketika kami cari tahu di keterangan status dan distribusi, bebek, eh maaf 
si itik gunung ini sekarang hanya ditemui di Jawa Timur dan Bali… lha ini…???  
warna hijau di spekulumnya meyakinkan kami kalo mereka adalah itik gunung….



mohon koreksi kalo salah identifikasi dan tambahan informasi…matur nuwuuunnn..


berhubung waktu kami mendesak dan harus menyelesaikan survey, kami tidak bisa 
bercengkerama lebih lama lagi dengan si "bebek" gunung ini. 


Tak lama kemudian mereka pun (kawanan "bebek") juga menghilang,, , karena sudah 
banyak "dieselman" (penduduk yang membawa diesel) yang siap menghidupkan mesin 
berisik guna menyedot air dari telaga untuk menyirami kentang-kentang mereka 
yang ditanam dengan menggundulkan bukit-bukit di sekitar danau sampai ke 
puncak2nya (pilu hatiku ini….)



menurut penduduk lokal, dulu disana banyak sekali itik gunung, tapi kini 
semakin langka. kemungkinan pindah ke telaga2 yang lain di sekitar dieng.


oh ya… disana kami juga melihat gambaran alam yang sering dilukis oleh kita 
sewaktu duduk di sekolah TK : matahari yang terbit diantara dua gunung, 
Subhanalloh sekali…!!!




salam lestari
OmDoel


* mohon maaf kalo fotonya kurang bagus,,baru belajar motret-motret sih





      
      


         
        
        


      
      


         
        
        


      
      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke