Hmm gw jadi tertarik buat njawab lagi neh, tapi jawabnya ngarang lagi boleh 
kan?:)
 
DI kampung saya di Jawa juga keadaannya berkebalikan dari Jakarta, nyaris gak 
bisa dijumpai kutilang, adanya cuma trocokan, tapi itu pun trocokan jarang 
bersinggungan dengan aktivitas manusia, karena mencil di pohon2 tinggi, tidak 
spt kutilang di jakarta yg seprti tak takut pada manusia.
 
Berdasar fakta itu, gw berhipotesis:
Mungkin kutilang itu lebih bisa sukses di daerah urban yg padat/ramai dg 
aktifitas manusia, sedangkan trocokan hanya sukses di tempat2 yg relatif tak 
terlalu terganggu oleh aktivitas manusia. 
 
Penyebabnya: mungkin kutilang (Pycnonotus aurigaster) lebih toleran terhadap 
lingkungan yg terganggu oleh aktifitas manusia, lebih berani turun atau 
mendekat dgn aktifitas manusia, sehingga dia bisa memanfaatkan sumberdaya yg 
ada (pakan) sebaik mungkin, apalagi pakan (di daerah urban) banyak terdapat di 
low storey. Sedangkan trocokan (Pycnonotus goiavier), karena tidak toleran thd 
keramaian atau aktifitas manusia, takut mendekat ke aktifitas manusia, takut 
turun mencari makan sampai ke lower storey, ya akhirnya gak dapat memanfaatkan 
sumberdaya (pakan) secara maksimal, dan akhirnya tidak sukses di daerah urban, 
karena tersaingi oleh ketilang yg lebih adaptable terhadap keramaian. 
 
Karena di jakarta jelas daerah urban dimana nyaris tak ada tempat yg sepi dari 
aktifitas manusia, ya otomatis yg lebih banyak survive di jakrta si ketilang, 
bukan trocokan. Sedangkan di daerah yg relatif bebas dari aktifitas manusia, 
trocokan yg meraja.
 
Kenyataannya, di jakarta ketilang bisa dgn mudah dijumpai di taman2 (yg 
pepohonannya bergerombol), di kawasan pemukiman (yg pepohonanya cuma satu-dua), 
sampe pinggir2 jalan (yg pohonnya cuma berderet memanjang, tidak bergerombol). 
Sedangkan trocokan tidak. Dan ketilang relatif tak takut pada manusia. Kalo 
saya joging di joging track di jaktim, banyak ketilang bergerombol 3-4 ekor yg 
bisa dijumpai dekat dengan manuisa, bertengger di pagar atau di cabang2 pohon 
rendah pada ketinggian 2 meteran, dan gak terbang ketika kita berlari pada 
jarak 3-4 meter dari mereka, pada low storey di ketinggian 3 meter ke bawah, 
jadi tergolong "pemberani" terhadap kehadiran manusia. No wonder kalo dia 
survive di jakarta yg padat dg manusia. Tapi tidak demikian halnya dengan 
trocokan.
 
Mungkin begitu kali..
 Hasto Pratikto

--- On Mon, 1/12/09, dimas haryo pradana <[email protected]> wrote:

From: dimas haryo pradana <[email protected]>
Subject: Re: [SBI-InFo] Sun Bird UI->trocokan vs kutilang
To: [email protected]
Date: Monday, January 12, 2009, 9:34 AM











Hmmm di Bali trocokan lebih umum daripada kutilang yah...menarik juga nih... 
Waktu sy ke pulau Pramuka dan ke kepulauan Krakatau, trocokan juga lebih umum 
ditemukan daripada kutilang. Apa mungkin trocokan lebih dapat beradaptasi 
dengan kondisi lingkungan pulau dibandingkan dengan kutilang? atau 
mungkin temen2 memiliki pengalaman yg berbeda?
 
Dimas H. Pradana    

--- On Sun, 1/11/09, pranotoadiswasono <pranotoadiswasono@ yahoo.co. id> wrote:

From: pranotoadiswasono <pranotoadiswasono@ yahoo.co. id>
Subject: [SBI-InFo] Re: Sun Bird UI
To: sbi-i...@yahoogroup s.com
Date: Sunday, January 11, 2009, 10:33 AM




kang hasto.. jadi tertarik mau nanya.. sebelumnya maap saya malah ga
ngerti apa2 tentang burung wong basicnya cuma pengamat dipasar (pada
awalnya)
kok kalo di bali setau dan sepengamatan saya yg lebih sukses trocokan
dari pada kutilang yaa.. kalo katanya makannya sama pasti ada penyebab
kenapa kok jumlahnya beda?
kalo di jkt katanya kutilang lebih sukses yaa...

makasih
nono


 














      

Kirim email ke