Berarti karangan saya gak berlaku di Bogor he he.. Memang banyak faktor X yg 
misterius di dunia habitat dan populasi burung, spt yg pernah gw posting di 
milis ini tentang kenapa camar tak sukses/tak bisa menjadi banyak di daerah low 
latitude.
 
Untuk menjawabnya memang perlu penelitian, bukan karangan yg ditulis dari dalam 
ruangan oleh orang yg belum pernah birdwatching seperti gw, hiks! 
 
Ada yg punya data dan analisis lain???

 
--- On Tue, 1/13/09, S. Rahardjo <[email protected]> wrote:

From: S. Rahardjo <[email protected]>
Subject: [SBI-InFo] Re: Sun Bird UI->trocokan vs kutilang
To: [email protected]
Date: Tuesday, January 13, 2009, 8:36 PM








Mas, ditempat saya dikampung Bogor , dua-duanya sama banyak nggak takut.
Malah trocokan lebih banyak dan berani. Ada satu trocokan sejak kecil belajar 
terbang sampai sekarang masih suka mampir, matuk-matuk lubang angin kaca. Dulu 
waktu kecil dikira lubang tanpa kaca yang bisa dilewati. Setelah terhalang kaca 
selalu dipatuk-patuk mau lewat. Dan ini kadang masih berlangsung sampai 
sekarang, biarpun suda lebih dari 4 bulan
 
Salam
S.Rahardjo
 




From: sbi-i...@yahoogroup s.com [mailto:sbi- i...@yahoogroups .com] On Behalf 
Of hpirawan2005
Sent: 13 Januari 2009 22:12
To: sbi-i...@yahoogroup s.com
Subject: **SPAM** [SBI-InFo] Re: Sun Bird UI->trocokan vs kutilang
 



Hmm gw jadi tertarik buat njawab lagi neh, tapi jawabnya ngarang lagi 
boleh kan ?:)

DI kampung saya di Jawa juga keadaannya berkebalikan dari Jakarta, 
nyaris gak bisa dijumpai kutilang, adanya cuma trocokan, tapi itu pun 
trocokan jarang bersinggungan dengan aktivitas manusia, karena mencil 
di pohon2 tinggi, tidak spt kutilang di jakarta yg seprti tak takut 
pada manusia.

Berdasar fakta itu, gw berhipotesis:

Mungkin kutilang itu lebih bisa sukses di daerah urban yg padat/ramai 
dg aktifitas manusia, sedangkan trocokan hanya sukses di tempat2 yg 
relatif tak terlalu terganggu oleh aktivitas manusia. 

Penyebabnya: mungkin kutilang (Pycnonotus aurigaster) lebih toleran 
terhadap lingkungan yg terganggu oleh aktifitas manusia, lebih berani 
turun atau mendekat dgn aktifitas manusia, sehingga dia bisa 
memanfaatkan sumberdaya yg ada (pakan) sebaik mungkin, apalagi pakan 
(di daerah urban) banyak terdapat di low storey. Sedangkan trocokan 
(Pycnonotus goiavier), karena tidak toleran thd keramaian atau 
aktifitas manusia, takut mendekat ke aktifitas manusia, takut turun 
mencari makan sampai ke lower storey, ya akhirnya gak dapat 
memanfaatkan sumberdaya (pakan) secara maksimal, dan akhirnya tidak 
sukses di daerah urban, karena tersaingi oleh ketilang yg lebih 
adaptable terhadap keramaian. 

Karena di jakarta jelas daerah urban dimana nyaris tak ada tempat yg 
sepi dari aktifitas manusia, ya otomatis yg lebih banyak survive di 
jakrta si ketilang, bukan trocokan. Sedangkan di daerah yg relatif 
bebas dari aktifitas manusia, trocokan yg meraja.

Kenyataannya, di jakarta ketilang bisa dgn mudah dijumpai di taman2 
(yg pepohonannya bergerombol) , di kawasan pemukiman (yg pepohonanya 
cuma satu-dua), sampe pinggir2 jalan (yg pohonnya cuma berderet 
memanjang, tidak bergerombol) . Sedangkan trocokan tidak. Dan ketilang 
relatif tak takut pada manusia. Kalo saya joging di joging track di 
jaktim, banyak ketilang bergerombol 3-4 ekor yg bisa dijumpai dekat 
dengan manuisa, bertengger di pagar atau di cabang2 pohon rendah pada 
ketinggian 2 meteran, dan gak terbang ketika kita berlari pada jarak 
3-4 meter dari mereka, pada low storey di ketinggian 3 meter ke 
bawah, jadi tergolong "pemberani" terhadap kehadiran manusia. No 
wonder kalo dia survive di jakarta yg padat dg manusia. Tapi tidak 
demikian halnya dengan trocokan.

Mungkin begitu kali..

Hasto Pratikto

NB: gw posting lewat email berkali2 ternyata emailnya gak muncul, so 
gw coba posting via situs yahoogroups neh.


 














      

Kirim email ke