Salam
Rekan-rekan, ini sedikit "oleh-oleh" dari saya. Harap maklum, cuma sekadar
cerita karena saya ke Australia cuma modal dengkul aja....
Imam T
The 5th AOC, Sebuah Catatan Kecil
Minggu (29/11), sekitar pukul 13.30 waktu setempat, pesawat yang membawa M.
Iqbal, Surya Purnama dan saya mendarat di Armidale. Itulah kota kecil, berjarak
sekitar 500 km di utara Sydney, tempat dilangsungkannya The 5th Australasian
Ornithological Conference (The 5th
AOC) yang menjadi tujuan kami. Selama 6 hari, semenjak 29 November-4 Desember
2009, kami berkesempatan mengikuti konferensi ornitologi dua tahunan, yang
diselenggarakan oleh Birds Australia dan
Ornithological Society of New Zealand (OSNZ),
itu.
Seketika bandara menjadi ramai. Maklum, sebagian besar penumpang pesawat
merupakan peserta konferensi. Tidak ada yang kami kenal, tapi seorang panitia
bernama
Hugh Ford, yang mengenakan baju batik tapi bercelana pendek, datang menyambut.
Profesor
gaek bidang ornitologi di University of New England (UNE), Armidale, itu
memperkenalkan
diri dan menyalami kami. Baru kali itu kami bertemu setelah sebelumnya hanya
berkomunikasi melalui e-mail. Ada yang membuat saya heran, namun hanya saya
tanyakan
dalam hati. Dari mana ia mendapatkan batik itu?
Dalam kendaraan yang mengantar kami menuju home stay, Hugh menjelaskan keadaan
kota itu. Rupanya kami hadir di
peralihan menuju musim panas dengan suhu yang bervariasi. “Malam hingga pagi
suhu mencapai 5-100 C. Sedang sepanjang siang suhu berkisar 20-220
C,” jelasnya. Ia lalu menanyakan kesan kami selama penerbangan dalam hembusan
angin yang cukup kuat di musim peralihan. Dalam bahasa Indonesia, Surya
menjelaskan sambil berkelakar, “jalanannya jadi enggak rata.”
Saya pun menimpali, “iya, aspalnya banyak berlubang. Nggrunjal-nggrunjal.” Kami
pun tertawa. Hugh hanya tersenyum, tak
mengerti maksudnya.
Konferensi yang Menginspirasi
Kehadiran Surya dan saya
(Yogyakarta) serta M. Iqbal (Sumatera Selatan) mengawali kesertaan Indonesia di
forum yang telah berlangsung semenjak 2001 tersebut. Penyelenggara menganggap
kehadiran kami dapat memberikan informasi mengenai kondisi ornitologi Indonesia
terkini dan menjadi langkah dalam mempererat hubungan bidang ornitologi kedua
negara. Namun bagi saya, hal tersebut terasa berlebihan. Forum yang dihadiri
para pemerhati, pakar dan akademisi dari berbagai negara, seperti Australia,
New Zealand, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Afrika Selatan tersebut
lebih tepat menjadi ajang saya menimba ilmu, pengetahuan dan pengalaman.
Sungguh merupakan anugerah yang luar biasa bagi saya bisa mengenal dan
mengetahui betapa semaraknya dunia ornitologi yang berkembang di Australia dan
belahan dunia lain. Dalam presentasi-presentasi yang berlangsung, saya dibuat
kagum melihat dedikasi dan kecintaan “orang-orang burung” tersebut. Saya jadi
tahu, sejatinya kemajuan ornitologi yang dicapai negara-negara lain tidak hanya
milik dan sumbangan para pakar, namun juga para relawan dan masyarakat biasa,
bird watcher amatiran seperti saya.
Di awal konferensi misalnya, Jeremy J. D. Greenwood, mantan direktur British
Trust for Ornithology (BTO) bertutur tentang sepak terjang lembaganya yang
selama lebih dari 70 tahun mengembangkan diri di bidang sensus, pencatatan
sarang dan pencincinan burung di Inggris. Dengan 13.500 anggota yang berbasis
voluntary, BTO mampu menyediakan secara detil dan terperinci informasi
mengenai banyaknya jumlah burung yang ada di seantero Inggris, lokasi dijumpai
dan keberadaan sarangnya. Di bidang pencincinan, BTO telah mencincin 34 juta
burung, dilakukan oleh lebih dari 2 ribu orang berpengalaman dan, dari itu,
telah
ada sebanyak 640 ribu catatan perjumpaan burung hasil penandaan mereka.
Demikian juga dengan Peter Dann yang mendedikasikan lebih dari 40 tahun
hidupnya hanya untuk mempelajari Little Penguin di Phillip Island, Victoria.
Mengikuti
presentasinya, yang mengungkap segala bentuk pencapaian dalam mempelajari
setiap aspek biologi dan upaya konservasi spesies tersebut, saya sampai punya
nama sendiri untuknya, Peter Edann!
Banyak lagi orang-orang yang begitu memberi inspirasi. Hugh, memulai
pengamatan burungnya semenjak berumur 3 tahun. Dan diusianya yang saya
perkirakan sudah 70 tahun itu, ia masih begitu lincah dan cekatan mengajak kami
mengenali setiap jenis burung di sela-sela waktu luang konferensi. Saya panggil
dia “si bocah tua nakal”. Adapula Beth Williams, pakar Regent Honeyeater, yang
bahkan untuk berjalan saja ia harus menggunakan kruk. Namun, jangan pernah
sangsikan
keahliannya memandu pengamatan burung, mengidentifikasi dan berkisah tentang
tiap
jenis burung yang kami jumpai. Pengetahuannya luar biasa!
Kembali Ke Sawah
Mengikuti konferensi itu membuat
saya menyadari kalau saya tidak ada apa-apanya dan belum melakukan apa-apa.
Sepertinya
begitu banyak yang ingin dan dapat saya lakukan dalam ornitologi, tanpa saya
harus perduli atau ambil pusing
memikirkan apakah kelak saya akan
menjadi ahli, pakar, akademisi atau bahkan amatir selamanya.
Ibarat petani, saya hanya perlu kembali ke hutan, gunung atau pantai yang
menjadi sawah saya, berbekal teropong, kamera dan buku catatan yang menjadi
cangkul saya. Hingga kemudian kelak saya dapat berbagi hasil yang saya peroleh,
yang semoga dapat memberi manfaat bagi diri saya dan juga orang lain.