Tim AOC Kapan bisa sharing niy kegiatannya di sana.... selamat ya...semoga makin maju aja niy milis SBI-InFo, karena informasinya semakin banyak dan menambah wawasan buat teman2 yang lain.
Salam, ID 2009/12/9 imam rahman <[email protected]> > > > Salam > > Rekan-rekan, ini sedikit "oleh-oleh" dari saya. Harap maklum, cuma sekadar > cerita karena saya ke Australia cuma modal dengkul aja.... > > Imam T > > > ** > > * > * > > *The 5th AOC, Sebuah Catatan Kecil* > > > > Minggu (29/11), sekitar pukul 13.30 waktu setempat, pesawat yang membawa M. > Iqbal, Surya Purnama dan saya mendarat di Armidale. Itulah kota kecil, > berjarak sekitar 500 km di utara Sydney, tempat dilangsungkannya *The 5th > Australasian > Ornithological Conference *(The 5th AOC) yang menjadi tujuan kami. Selama > 6 hari, semenjak 29 November-4 Desember 2009, kami berkesempatan mengikuti > konferensi ornitologi dua tahunan, yang diselenggarakan oleh *Birds > Australia *dan *Ornithological Society of New Zealand *(OSNZ), itu. > > Seketika bandara menjadi ramai. Maklum, sebagian besar penumpang pesawat > merupakan peserta konferensi. Tidak ada yang kami kenal, tapi seorang > panitia bernama Hugh Ford, yang mengenakan baju batik tapi bercelana pendek, > datang menyambut. Profesor gaek bidang ornitologi di University of New > England (UNE), Armidale, itu memperkenalkan diri dan menyalami kami. Baru > kali itu kami bertemu setelah sebelumnya hanya berkomunikasi melalui e-mail. > Ada yang membuat saya heran, namun hanya saya tanyakan dalam hati. Dari mana > ia mendapatkan batik itu? > > Dalam kendaraan yang mengantar kami menuju *home stay*, Hugh menjelaskan > keadaan kota itu. Rupanya kami hadir di peralihan menuju musim panas dengan > suhu yang bervariasi. “Malam hingga pagi suhu mencapai 5-100 C. Sedang > sepanjang siang suhu berkisar 20-220 C,” jelasnya. Ia lalu menanyakan > kesan kami selama penerbangan dalam hembusan angin yang cukup kuat di musim > peralihan. Dalam bahasa Indonesia, Surya menjelaskan sambil berkelakar, > “jalanannya jadi *enggak *rata.” > > Saya pun menimpali, “iya, aspalnya banyak berlubang. *Nggrunjal-nggrunjal*.” > Kami pun tertawa. Hugh hanya tersenyum, tak mengerti maksudnya.** > > * > * > > *Konferensi yang Menginspirasi* > > Kehadiran Surya dan saya (Yogyakarta) serta M. Iqbal (Sumatera > Selatan) mengawali kesertaan Indonesia di forum yang telah berlangsung > semenjak 2001 tersebut. Penyelenggara menganggap kehadiran kami dapat > memberikan informasi mengenai kondisi ornitologi Indonesia terkini dan > menjadi langkah dalam mempererat hubungan bidang ornitologi kedua negara. > Namun bagi saya, hal tersebut terasa berlebihan. Forum yang dihadiri para > pemerhati, pakar dan akademisi dari berbagai negara, seperti Australia, New > Zealand, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Afrika Selatan tersebut > lebih tepat menjadi ajang saya menimba ilmu, pengetahuan dan pengalaman. > > Sungguh merupakan anugerah yang luar biasa bagi saya bisa > mengenal dan mengetahui betapa semaraknya dunia ornitologi yang berkembang > di Australia dan belahan dunia lain. Dalam presentasi-presentasi yang > berlangsung, saya dibuat kagum melihat dedikasi dan kecintaan “orang-orang > burung” tersebut. Saya jadi tahu, sejatinya kemajuan ornitologi yang dicapai > negara-negara lain tidak hanya milik dan sumbangan para pakar, namun juga > para relawan dan masyarakat biasa, *bird watcher *amatiran seperti saya. > > > Di awal konferensi misalnya, Jeremy J. D. Greenwood, mantan direktur > British Trust for Ornithology (BTO) bertutur tentang sepak terjang > lembaganya yang selama lebih dari 70 tahun mengembangkan diri di bidang > sensus, pencatatan sarang dan pencincinan burung di Inggris. Dengan 13.500 > anggota yang berbasis *voluntary*,* *BTO mampu menyediakan secara detil > dan terperinci informasi mengenai banyaknya jumlah burung yang ada di > seantero Inggris, lokasi dijumpai dan keberadaan sarangnya. Di bidang > pencincinan, BTO telah mencincin 34 juta burung, dilakukan oleh lebih dari 2 > ribu orang berpengalaman dan, dari itu, telah ada sebanyak 640 ribu catatan > perjumpaan burung hasil penandaan mereka. > > Demikian juga dengan Peter Dann yang mendedikasikan lebih dari 40 tahun > hidupnya hanya untuk mempelajari Little Penguin di Phillip Island, Victoria. > Mengikuti presentasinya, yang mengungkap segala bentuk pencapaian dalam > mempelajari setiap aspek biologi dan upaya konservasi spesies tersebut, saya > sampai punya nama sendiri untuknya, Peter Edann! > > Banyak lagi orang-orang yang begitu memberi inspirasi. Hugh, memulai > pengamatan burungnya semenjak berumur 3 tahun. Dan diusianya yang saya > perkirakan sudah 70 tahun itu, ia masih begitu lincah dan cekatan mengajak > kami mengenali setiap jenis burung di sela-sela waktu luang konferensi. Saya > panggil dia “si bocah tua nakal”. Adapula Beth Williams, pakar Regent > Honeyeater, yang bahkan untuk berjalan saja ia harus menggunakan kruk. > Namun, jangan pernah sangsikan keahliannya memandu pengamatan burung, > mengidentifikasi dan berkisah tentang tiap jenis burung yang kami jumpai. > Pengetahuannya luar biasa! > > * > * > > *Kembali Ke Sawah* > > Mengikuti konferensi itu membuat saya menyadari kalau saya > tidak ada apa-apanya dan belum melakukan apa-apa. Sepertinya begitu banyak > yang ingin dan dapat saya lakukan dalam ornitologi, tanpa saya harus perduli > atau ambil pusing memikirkan apakah kelak saya akan menjadi ahli, pakar, > akademisi atau bahkan amatir selamanya. > > Ibarat petani, saya hanya perlu kembali ke hutan, gunung atau pantai yang > menjadi sawah saya, berbekal teropong, kamera dan buku catatan yang menjadi > cangkul saya. Hingga kemudian kelak saya dapat berbagi hasil yang saya > peroleh, yang semoga dapat memberi manfaat bagi diri saya dan juga orang > lain. > > > > > > > -- Irma Dana http://dawala.wordpress.com [lagi belajar nulis
