Buat the Three Musketers,
Selamat atas keikutsertaannya dalam konferensi tersebut, mudah-mudahan ini menginspirasi semakin banyak para pengamat burung di indonesia yang bisa mengikuti pertemuan tingkat internasional. Yang jelas, tanggung jawab dan komitmen teman-teman bertiga untuk (bersama-sama) memajukan perburungan di Indonesia semakin tinggi. Yuk, ramein lagi .... Yus From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of imam rahman Sent: Wednesday, December 09, 2009 11:37 PM To: sbi info; bionic; kibc forum; mabur yogya Subject: [SBI-InFo] secuil cerita dari Australia Salam Rekan-rekan, ini sedikit "oleh-oleh" dari saya. Harap maklum, cuma sekadar cerita karena saya ke Australia cuma modal dengkul aja.... Imam T The 5th AOC, Sebuah Catatan Kecil Minggu (29/11), sekitar pukul 13.30 waktu setempat, pesawat yang membawa M. Iqbal, Surya Purnama dan saya mendarat di Armidale. Itulah kota kecil, berjarak sekitar 500 km di utara Sydney, tempat dilangsungkannya The 5th Australasian Ornithological Conference (The 5th AOC) yang menjadi tujuan kami. Selama 6 hari, semenjak 29 November-4 Desember 2009, kami berkesempatan mengikuti konferensi ornitologi dua tahunan, yang diselenggarakan oleh Birds Australia dan Ornithological Society of New Zealand (OSNZ), itu. Seketika bandara menjadi ramai. Maklum, sebagian besar penumpang pesawat merupakan peserta konferensi. Tidak ada yang kami kenal, tapi seorang panitia bernama Hugh Ford, yang mengenakan baju batik tapi bercelana pendek, datang menyambut. Profesor gaek bidang ornitologi di University of New England (UNE), Armidale, itu memperkenalkan diri dan menyalami kami. Baru kali itu kami bertemu setelah sebelumnya hanya berkomunikasi melalui e-mail. Ada yang membuat saya heran, namun hanya saya tanyakan dalam hati. Dari mana ia mendapatkan batik itu? Dalam kendaraan yang mengantar kami menuju home stay, Hugh menjelaskan keadaan kota itu. Rupanya kami hadir di peralihan menuju musim panas dengan suhu yang bervariasi. “Malam hingga pagi suhu mencapai 5-100 C. Sedang sepanjang siang suhu berkisar 20-220 C,” jelasnya. Ia lalu menanyakan kesan kami selama penerbangan dalam hembusan angin yang cukup kuat di musim peralihan. Dalam bahasa Indonesia, Surya menjelaskan sambil berkelakar, “jalanannya jadi enggak rata.” Saya pun menimpali, “iya, aspalnya banyak berlubang. Nggrunjal-nggrunjal.” Kami pun tertawa. Hugh hanya tersenyum, tak mengerti maksudnya. Konferensi yang Menginspirasi Kehadiran Surya dan saya (Yogyakarta) serta M. Iqbal (Sumatera Selatan) mengawali kesertaan Indonesia di forum yang telah berlangsung semenjak 2001 tersebut. Penyelenggara menganggap kehadiran kami dapat memberikan informasi mengenai kondisi ornitologi Indonesia terkini dan menjadi langkah dalam mempererat hubungan bidang ornitologi kedua negara. Namun bagi saya, hal tersebut terasa berlebihan. Forum yang dihadiri para pemerhati, pakar dan akademisi dari berbagai negara, seperti Australia, New Zealand, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Afrika Selatan tersebut lebih tepat menjadi ajang saya menimba ilmu, pengetahuan dan pengalaman. Sungguh merupakan anugerah yang luar biasa bagi saya bisa mengenal dan mengetahui betapa semaraknya dunia ornitologi yang berkembang di Australia dan belahan dunia lain. Dalam presentasi-presentasi yang berlangsung, saya dibuat kagum melihat dedikasi dan kecintaan “orang-orang burung” tersebut. Saya jadi tahu, sejatinya kemajuan ornitologi yang dicapai negara-negara lain tidak hanya milik dan sumbangan para pakar, namun juga para relawan dan masyarakat biasa, bird watcher amatiran seperti saya. Di awal konferensi misalnya, Jeremy J. D. Greenwood, mantan direktur British Trust for Ornithology (BTO) bertutur tentang sepak terjang lembaganya yang selama lebih dari 70 tahun mengembangkan diri di bidang sensus, pencatatan sarang dan pencincinan burung di Inggris. Dengan 13.500 anggota yang berbasis voluntary, BTO mampu menyediakan secara detil dan terperinci informasi mengenai banyaknya jumlah burung yang ada di seantero Inggris, lokasi dijumpai dan keberadaan sarangnya. Di bidang pencincinan, BTO telah mencincin 34 juta burung, dilakukan oleh lebih dari 2 ribu orang berpengalaman dan, dari itu, telah ada sebanyak 640 ribu catatan perjumpaan burung hasil penandaan mereka. Demikian juga dengan Peter Dann yang mendedikasikan lebih dari 40 tahun hidupnya hanya untuk mempelajari Little Penguin di Phillip Island, Victoria. Mengikuti presentasinya, yang mengungkap segala bentuk pencapaian dalam mempelajari setiap aspek biologi dan upaya konservasi spesies tersebut, saya sampai punya nama sendiri untuknya, Peter Edann! Banyak lagi orang-orang yang begitu memberi inspirasi. Hugh, memulai pengamatan burungnya semenjak berumur 3 tahun. Dan diusianya yang saya perkirakan sudah 70 tahun itu, ia masih begitu lincah dan cekatan mengajak kami mengenali setiap jenis burung di sela-sela waktu luang konferensi. Saya panggil dia “si bocah tua nakal”. Adapula Beth Williams, pakar Regent Honeyeater, yang bahkan untuk berjalan saja ia harus menggunakan kruk. Namun, jangan pernah sangsikan keahliannya memandu pengamatan burung, mengidentifikasi dan berkisah tentang tiap jenis burung yang kami jumpai. Pengetahuannya luar biasa! Kembali Ke Sawah Mengikuti konferensi itu membuat saya menyadari kalau saya tidak ada apa-apanya dan belum melakukan apa-apa. Sepertinya begitu banyak yang ingin dan dapat saya lakukan dalam ornitologi, tanpa saya harus perduli atau ambil pusing memikirkan apakah kelak saya akan menjadi ahli, pakar, akademisi atau bahkan amatir selamanya. Ibarat petani, saya hanya perlu kembali ke hutan, gunung atau pantai yang menjadi sawah saya, berbekal teropong, kamera dan buku catatan yang menjadi cangkul saya. Hingga kemudian kelak saya dapat berbagi hasil yang saya peroleh, yang semoga dapat memberi manfaat bagi diri saya dan juga orang lain.
