Dear Lidya Pei, Apakah Bpk tau kenapa yah di KalBar itu tidak ada jalur rel kereta api?
Wah. . . saya jadi tempat tumpuan bertanya nich . . . saya coba menjawab dengan keterbatasan wawasan saya yach . . . ngga apa2 kan ? Karena tempat saya bertanya adalah Pa' Dhe yang katanya sih seorang geologis bukan ahli perkeretaapian lho jadi mohon maaf jika jawabannya tidak mencakup secara detail. Dunia perkeretaapian tahun ini tepatnya nanti tanggal 10 Agustus akan memasuki usia 140 tahun, bertepatan dengan kegiatan SPA (Semarang Pesona Asia). Kota Semarang sebagai kota yang memulai sejarah perkeretaapian di Indonesia Belanda melalui perusahaan Nederlands Indische Spoortram Mascapaj sengaja membangun jaringan kereta api pertama dari Stasiun Kemijen yang tak jauh dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang mulai tahun 1864 hingga Stasiun Tanggung tahun 1867 Hal ini dilakukan utntuk mempermudah pengangkutan hasil tambang, pertanian dll. Seandainya pada waktu2 itu Kalimantan Barat (sepanjang Pontianak - Singkawang - Sambas) yang jaraknya kira2 220 km mempunyai hasil alam yang melimpah tentunya Belanda akan membangun jaringan kereta api di Kalbar atau membangun sarana2 angkutan lain yang dapat mempermudah jasa penganguktan barang atau bahkan mungkin saja membangun pelabuhan yang besar disalah satu kota di Kalbar (ini kata Pa' Dhe lho hehehe). jarak stasiun Kemijen (yang tak jauh dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang) hingga ke stasiun Tanggung hanya kira2 1/3 jarak Pontianak - Sambas. Apa ini sabagai acuan bahwa Kalimantan Barat saat itu belum / tidak / sudah mempunyai hasil tambang, pertanian yang dapat dikeruk oleh Belanda ? atau bahkan mungkin saja hasil tambang emas yg berlimpah di Monterado sudah dikuasai oleh kongsi2 yang kuat sehingga Belanda tidak dapat dominan menguasainya ? hal ini saya tidak tau persis detainya. (mohon dimaklumi atas keterbatasan wawasan saya) Selain di Jawa pembangunan rel KA juga dilakukan di Aceh (1884), Sumatra Utara (1886) Sumatra Barat (1891), Sumatra Selatan (1914)di S bahkan tahun 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar - Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang - Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak - Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, juga pernah dilakukan studi pembangunan jalan KA. Dengan demikian pembangunan jaringan kereta api Pontianak - Sambas mungkin ada kelak nantinya ??? Tapi kapan Pa' Dhe ??? Pernah saya mendapat jawaban katanya sih, karena tanah diKalBar itu tidak cocok buat bantalan rel? Seperti yang pernah saya lihat pada peta geologi Kalimantan Barat yang banyak terdapat jenis tanah Gambut disepanjang aliran sungai kapuas dan sungai landak yang meliputi Pontianak sampai ke muara laut dan selatannya Kubu sampai Ketapang. Tanah Ganbut di beberapa daerah di Pontianak bahkan mencapai kedalaman 20 meter. demikian pula halnya keberadaan Bandara Supadio Pontianak yang Run Way nya berada diatas tanah Gambut yang rutin mendapat tekanan pada saat pesawat landing yang sampai saat ini masih baik2 saja kondisi Run Way nya walaupun berada diatas tanah Gambut. Dengan demikian tidak benar jika tanah di Kalimantan Barat tidak cocok buat bantalan rel kereta api. Demikian pula halnya dengan kemajuan konstruksi bantalan rel kereta api, hampir diseluruh kawasan tanah kering dapat dibangun jaringan rel tsb. Contoh lainnya adalah jaringan rel kereta api yang terdapat di jawa timur (Sidoardjo) yang kita semua tau bahwa rel tersebut berada diatas Mud Vulcano yang sudah menyembur 1 tahun ini, rel kereta api masih berfungsi dengan baik didaerah yang labil ini. Pada tahun 60an di Kota Balikpapan terdapat rel Kereta Api (masyarakat biasa menyebutnya Trem) Rel tsb memanjang dari Rapak - Karang Anyar - Kilang Minyak BPM (waktu itu belum ada Pertamina) Trem tsb. rutin melalui jalur tsb setiap pagi dan sore untuk mengangkut karyawan BPM pulang dan pergi kerja. Seirama dengan perkembangan perubahan dari BPM - Shell - Permina - Pertamina (kini) keberadaan rel tsb sudah menghilang. Mungkin inilah satu2 nya rel kereta api yang ada dipulau kalimantan. Wah . . . di Kalimantan pernah ada Sepur ya Pa' Dhe ? Ya . . . To Le . . . bukan hanya di jawa dan sumatra saja yang pernah ada Sepur. ? Kalo Bandara Singkawang kapan dibangunnya Pa' Dhe ? To Le mau jalan2 kesana liat2 Kelenteng. Wah . . . Pa' Dhe ngga tau kapan mau dibangun, tapi kode bandara Singkawang sudah ada pada pedoman penerbangan kodenya : WIOI Apa arti kode itu Pa' Dhe. ? Wah . . . Pa' Dhe harus nanya dulu sama tetangga Pa' Dhe yang kerjanya nyupir pesawat. Salam Hormat, HB ----- Pesan Asli ---- Dari: Lidya Pei <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Jumat, 29 Juni, 2007 10:34:37 Topik: Re: [Singkawang] Abrasi Pantai Sepanjang Pontianak - Singkawang - Pemangkat. Dear Pak HB, Saya pribadi punya tanda tanya yg belum sepenuhnya mendapat jawaban yg memuaskan. Apakah Bpk tau kenapa yah di KalBar itu tidak ada jalur rel kereta api? Pernah saya mendapat jawaban katanya sih, karena tanah diKalBar itu tidak cocok buat bantalan rel???? apa iya??? Soalnya kok rasanya transportasi antar kota pontianak, mempawah, singkawang, pemangkat, sambas itu akan terasa lebih asyik yah kalo ada kereta api. Apalagi jalurnya sepanjang pantai, membayangkan saja sudah terasa asyik. Alih alih lapangan udara lebih asyik punya jalur rel. Ah mimpi lagi deh. --- Hidayat Boesran <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote: > Dear Rudi Dustika Teja, > > Abrasi di sepanjang pantai Pontianak - Singkawang - > Pemangkat ? > Saya coba menjawab dengan keterbatasan wawasan saya > kalo ada kesulitan menjawabnya saya harus nanya > dengan Pa' Dhe lho > Semoga Pa' Dhe bisa bantu saya karena setahu saya > Pa' Dhe sering bergelut dengan tanah (geologi) > bukan bergelut dengan gelombang > > Ya, memang benar abrasi pantai sudah sedemikian lama > menggeruti pantai sepanjang > Pontianak - Singkawang - Pemangkat > Setahu saya kerusakan pantai tsb. telah ditangani > oleh pemda dengan pemasangan triangle pemecah > gelombang > disekitar pantai Mempawah & Sie. Duri namun seberapa > efektivkah usaha ini ? saya tidak tau persis. > Namun perlu untuk dicermati bahwa pantai2 > disepanjang Pontianak - Singkawang - Pemangkat > adalah pantai > yang terbuka, hanya terdapat sedikit pulau2 kecil > yang dapat menghambat gelombang tsb. > > Gelombang dipengaruhi oleh banyak > faktor : > > Angin : Kecepatan anginPanjang/ jarak hembusan > anginWaktu (lamanya) hembusan anginGeometri laut > (topografi atau profil laut dan bentuk > pantai)Gempa (apabila terjadi tsunami) - sangat > kecil/minor > > Terlihat diatas bahwa pada kenyataan > gelombang laut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor > kondisi atmosfer. Kondisi > angin in tentusaja salah satu-nya cuaca yaitu > kondisi sesaat dari atmosfer > meliputi : suhu, tekanan (angin), uap air (awan) dan > hujan. > > > > > > 1 = Arah angin > > 2 = Puncak gelombang (peak) > > 3 = Lembah gelombang (trough) > > > Bentuk gelombang akan berubah sesuai > dengan kedalaman dasar laut. > > > Pada lokasi B bentuk perputaran > gelombang berupa elips, semakin dangkal maka semakin > elips. Apabila tinggi > gelombang masih cukup tinggi maka gelombang akan > pecah di pantai. > > > Pada gelobang laut ini air hanya > naik turun, namun tidak ada pergerakan atau aliran. > Sedangkan pada gelombang > tsunami, karena gelombangnya cukup panjang (jarak > titik titik puncak (”2 ke 2 > berikutnya”) cukup panjang maka ketika sampai di > pinggir pantai akan semakin > tinggi yang menyebabkan gelombang tsunami ini akan > terkesan menyapu pantai. > > > Pada gelombang tsunami akan > terlihat tinggi gelombang semakin besar di pantai. > Nah karena yang dirasakan > merusak serta yang teramati pada gelombang tsunami > ini sepertinya memiliki > tinggi gelombang yang besar juga di tengah samodra. > Padahal kalau ada kapal > ditengah laut, maka kapal itu hanya merasakan > sedikit sekali gejala gelombang > tsunami yang berupa gelombang yang miliki jarak > antar puncaknya cukup panjang. > > > Jadi gempa tidak banyak mempengaruhi > besarnya gelombang laut pada umumnya. > > Karena : > > - Hanya gempa besar yang menyebabkan tsunami. > > - Akan lebih dirasakan akibatnya di pinggir pantai. > > > > > > Memang tidak aneh kalau ada yang > bertanya-tanya “apakah mungkin besarnya gelombang > laut dipengaruhi oleh > gempa ? Bukankah tsunami yang diakibatkan gempa dua > tahun kemarin gelombangnya > sangat besar menyapu kota-kota besar di Sumatra > Utara ? Juga di Pangandaran ?” > > > Jawaban sederhana saya begini : > Gelombang laut itu lebih dipengaruhi proses > atmospheric ketimbang proses > dari geologic. Artinya proses-proses serta kondisi > udara lebih > berpengaruh terhadap kondisi gelombang ketimbang > proses dasar laut. > > > > > > Tetapi kenapa gelombang tsunami bisa > jauh lebih merusak ketimbang gelombang laut ? > > > Gelombang tsunami > digambarkan sebagai gelombang yang menjalar > sedangkan gelombang laut biasa > adalah gelombang naik-turun biasa, lihat gambar > disebelah. > > > Gelombang laut tidak akan bergerak > kesamping seperti gelombang tsunami. Sehingga daya > rusak gelombang tsunami akan > maksimum pada pinggir pantai. Di laut gelombang > tsunami tidak akan dirasakan > oleh kapal laut. Karena kemarin kita menyaksikan > bagaimana gelombang tsunami > yang diakibatkan oleh gempa besar (skala diatas 6.8 > MI) yang sangat merusak, > tentunya secara intuisi kita melihat bahwa akan ada > gelombang besar ketika ada > gempa besar. > > > Ketika gelombang mencapai pantai, > seringkali diikuti dengan peningkatan ketinggian > gelombang karena laut semakin > dangkal sedangkan volume air yang mengalir dalam > jumlah yang sama. Ketinggian > “tembok gelombang tsunami” (tsunamic wave wall) ini > yang terlihat atau yang > diamati di pantai, namun bukan berarti bahwa tinggi > gelombang di tengah laut > juga setinggi itu. Hal inilah yang sering mengecoh > perkiraan tinggi gelombang > tsunami di tengah laut. > Yang pasti gelombang laut yang disebabkan stunami > tidak pernah terjadi di sepanjang pantai Pontianak - > Singkawang - Pemangkat. > Jadi jangan takut yachh. > > Untung aja si Tole sedang tidur . . . . > Kalo ngga tidur . . . . wah pasti ikut nimbrung > nanya. > Turu sing nyenyak yo Le . . . . (tidur yang nyenyak > ya To Le) > > Salam Hormat, > HB > > > > > > > > Membaca informasi tersebut saya jadi ingat tentang > abrasi, terutama pantai-pantai di KalBar. Saya jadi > teringat akan pantai di tengah perjalanan dari > Pontianak ke Singkawang, dan juga yang di Pemangkat. > Apakah abrasi di kampung halaman kita ini merupakan > dampak dari pemanasan global juga ya Pak Dhe? . > > > > Salam, > > Rudi. > > > > > > > > > > > === message truncated === ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ Choose the right car based on your needs. Check out Yahoo! Autos new Car Finder tool. http://autos. yahoo.com/ carfinder/ <!-- #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;} #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;} #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;} #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;} #ygrp-text{ font-family:Georgia; } #ygrp-text p{ margin:0 0 1em 0;} #ygrp-tpmsgs{ font-family:Arial; clear:both;} #ygrp-vitnav{ padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;} #ygrp-vitnav a{ padding:0 1px;} #ygrp-actbar{ clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;} #ygrp-actbar .left{ float:left;white-space:nowrap;} .bld{font-weight:bold;} #ygrp-grft{ font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;} #ygrp-ft{ font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666; padding:5px 0; } #ygrp-mlmsg #logo{ padding-bottom:10px;} #ygrp-vital{ background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;} #ygrp-vital #vithd{ font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;} #ygrp-vital ul{ padding:0;margin:2px 0;} #ygrp-vital ul li{ list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee; } #ygrp-vital ul li .ct{ font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;} #ygrp-vital ul li .cat{ font-weight:bold;} #ygrp-vital a { text-decoration:none;} #ygrp-vital a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor #hd{ color:#999;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov{ padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;} #ygrp-sponsor #ov ul{ padding:0 0 0 8px;margin:0;} #ygrp-sponsor #ov li{ list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;} #ygrp-sponsor #ov li a{ text-decoration:none;font-size:130%;} #ygrp-sponsor #nc { background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;} #ygrp-sponsor .ad{ padding:8px 0;} #ygrp-sponsor .ad #hd1{ font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;} #ygrp-sponsor .ad a{ text-decoration:none;} #ygrp-sponsor .ad a:hover{ text-decoration:underline;} #ygrp-sponsor .ad p{ margin:0;} o {font-size:0;} .MsoNormal { margin:0 0 0 0;} #ygrp-text tt{ font-size:120%;} blockquote{margin:0 0 0 4px;} .replbq {margin:4;} --> ________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/
