Menurut saya bencana alam itu bukan urusan manusia,
siapa yang bisa menghalangi gunung merapi mau meletus?
(Tapi benar lho hasil photonya indah)
Tapi coba lihat orang-orang di kaki merapi, maukah
mereka dipindahkan dari merapi? Tidak khan? karena
apa, karena tanahnya amat subur, udaranya sejuk. Wah,
jadi pengikutnya mbah Maridjan nih aku. Kalo saya
punya banyak rejeki, saya pasti akan membeli tanah dan
membuat rumah di sekitar kali Adem.
Tahu nggak banyak berkah lho buat penduduk sekitar
merapi setelah merapi meletus, banyak wisatawan yang
datang, sehingga mereka bisa berjualan makanan dan
minuman di sekitar Mbebeng, atau jualan cendera mata
foto-foto letusan merapi, cobalah sekali-kali
jalan-jalan ke jogja, jangan kerja melulu di Jakarta,
terus kalo akhir pekan cuma jalan-jalan ke mall.
he..he..sorry kidding.

Siapa bilang bencana alam cuma ada di Indonesia?
Kebetulan aja kita cukup sial karena berada
dipertemuan banyak lempeng bumi.
Di Australia juga sekarang lagi banjir lho, di
beberapa daerah di Victoria dan New South Wales,
cobalah baca berita kalo nggak percaya.

Selain itu pemerintah sini juga lagi bermasalah dengan
ketersediaan air bersih (terutama di musim panas,
sampai-sampai mereka harus menyuling air laut untuk
minum) dan masalah salinitas permukaan tanah. Karena
apa? karena eksploitasi hutan besar-besaran yang
mereka lakukan di masa-masa lampau. Jadi, jangan
takut, kita nggak sendiri kok.

Masalah kredit macet? Baru-baru ini ada beberapa
perusahaan investasi(seperti dana pensiun gitulah)
yang bangkrut di Australia, meninggalkan banyak
piutang terhadap klien-kliennya yang rata-rata
pensiunan. Jadi, masalah seperti itu bukan cuma bisa
terjadi di Indonesia saja khan?

Kalo homesickness nggak terlalau tuh, waktu saya
terlalu berharga yang bisa saya gunakan buat ngerjain
assignment, baca jurnal, baca buku, atau
bersosialisasi dengan teman-teman saya sesama warga
Indonesia di sini. Oh ya, saya jadi "Lurah" buat
mereka, jadi segala fenomena seperti di Indonesia
kebawa juga ke sini, kayak warga mengadu, berselisih
faham sama teman lain, ada teman lahiran, ataupun
hantar-hantaran makanan. SO, homesickness? Sorry, not
a big deal.
Saya pasti akan pulang begitu kuliah saya kelar, malu
rasanya bolak-balik kalau belum bisa bawa apa-apa yang
bisa saya banggakan.

Regards,
Rini

--- evi novia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Dear Dek Rini ,
>   Sori baru bales yaa aku sekarang di jakarta aja
> joint dengan teman
>   buka agency collection (debt collector) gitulah.
> kita kerjasama dengan
>   bank-bank yang punya kredit macet. 
>   Kamu homesick ya pulang dong ke sini......
>   Aku terakhir ke yogya waktu merapi batuk-batuk itu
> indahnya kalau
>   malam hari ....itu anugerah yaaa makanya benar
> yang rini bilang kalau
>   negara kita negara terindah di dunia....
>    
>   rgds
>    
>    
>   evi novia 
>    
>    
>    
>    
>   
> 
> Rini Yayuk Priyati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Menurut saya, kaya atau miskin tergantung
> bagaimana
> cara kita memandangnya saja. kalau kita melihat ke
> atas terus, maka miskinlah kita, tapi kalau kita
> sesekali melihat ke bawah, pasti kita akan merasa
> lebih beruntung.
> 
> Kalau tolak ukur kaya dan miskin diukur dari
> besaran-besaran ekonomi makro,walaupun saya belajar
> ekonomi (sekarang saya postgraduate student jurusan
> economics di salah satu uni di Australia)menurut
> saya
> ukuran-ukuran makro ekonomi adalah sesuatu yang
> dipaksakan oleh dunia barat dan sangat tidak fair,
> sehingga saya tidak terlalu percaya. Untuk
> negara-negara barat yang seluruh sistem baik
> pemerintah, swasta, bahkan rumah tangga sudah sangat
> tertata dan terdokumentasi dengan baik, mungkin
> ukuran-ukuran makro valid, tapi buat negara seperti
> negara kita, dimana masih banyak penduduknya yang
> menggantungkan diri dari sektor-sektor informal,
> tidak
> akan semudah itu. Coba, pernahkah ada pencatatan
> omset
> penjual pecel lele, bakso, es cendol, dan sebagainya
> dipinggir jalan? Padahal kalau mau jujur berapa juta
> orang yang menggantungkan hidupnya dari
> sektor-sektor
> semacam itu, dan itu nggak pernah tercatat dalam
> PDB,
> GNP, atau apalah namanya.
> 
> Kalau ada yang bilang kita nggak patriotis,
> nasionalisme, atau miskin toleransi, saya rasa salah
> besar. Saya bisa merasakan setelah jauh dari negeri
> sendiri. Paling tidak rasa memiliki terhadap
> tetangga
> dan lingkungan sosial kita masih jauh lebih baik
> daripada yang saya rasakankan di sini.
> 
> Apalagi kalau sampai ada yang bilang kita miskin
> rasa
> persaudaraan, saya tidak tahu, dimanakah dia selama
> ini hidup? Saya adalah salah satu saksi hidup yang
> saat terjadinya gempa di jogja tahun lalu yang saat
> itu sudah melek dari tidur, dan kebetulan rumah
> keluarga besar kami di Bantul, daerah yang paling
> parah terkena gempa. Percaya atau tidak, hampir
> tidak
> ada orang di kampung saya yang menangis waktu itu,
> walaupun rumah kami hancur, kerabat kami tewas,
> karena
> kami masih merasa memiliki satu sama lain. Kami
> bertetangga bersama-sama memikul beban, tanpa ada
> yang
> menyalahkan, dan maaf, tidak pernah mengemis-ngemis
> bantuan. Karena kami tau diluar sana, masih banyak
> orang Indonesia (kecuali yang ngomong kita miskin
> persaudaraan mungkin) yang akan dengan sukarela
> membantu kami.
> 
> Mungkin ini ungkapan kemarahan saya terhadap
> komentar-komentar yang menurut saya (sekali lagi,
> menurut saya) tidak tepat.
> 
> Jadi jangan pernah menyalahkan Indonesia dengan
> semua
> yang terjadi, tanpa lebih dulu bertanya apa yang
> telah
> kita lakukan selama ini secara pribadi buat
> Indonesia
> (he..he..kok jadi njelimet ya....).
> 
> Dulu saya selalu merasa negara lain itu WAH, segala
> sesuatunya pastilah lebih baik dinegeri orang, dan
> saya juga merasa minder terutama dengan western
> people. Tapi itu cerita lalu, di sini,kalau ada
> orang
> bule yang tanya Where're you from? saya akan sangat
> bangga menjawab INDONESIA. Menurut saya, negara saya
> adalah tempat terindah di dunia. Kalaupun misalnya
> sudah tidak ada turis yang mau datang ke Indonesia,
> kenapa tidak kita sendiri yang menikmati keindahan
> alam kita?
> Bayangkan, untuk menanam rumput saja di Australia
> susahnya bukan main, perlu disiram pagi sore dan
> tenaga khusus yang memelihara rumput. Di Indonesia,
> jangankan rumput, mau menanam buah-buahan saja,
> tinggal buang bijinya di pekarangan, tanpa perlu
> dipupuk dan disiram, beberapa tahun lagi pasti sudah
> bisa kita nikmati hasilnya.
> 
> Jadi, kesimpulan saya, Saya sangat bangga jadi orang
> Indonesia. Negeri terkaya dan tempat terindah yang
> selalu saya rindukan.
> Hik..hik..kok saya jadi sentimentil begini ya....
> (Sori kepanjangan).
> 
> Kind Regards,
> Rini
> 
> 
> 
> --- ardy prasetya wrote:
> 
> > 
> > indonesia itu miskin patriotisme, miskin
> > nasionalisme, miskin toleransi, 
> > miskin kebersamaan, miskin
> maintenance/pemeliharaan,
> > miskin rasa kesatuan, 
> > miskin rasa persaudaraan, miskin kejujuran, susah
> > dipungkiri juga miskin 
> > pengetahuan untuk memanfaatkan kekayaannya.
> > 
> > regards,
> > si miskin
> > 
> > >From: Hidayat Boesran 
> 
> > >Reply-To: [email protected]
> > >To: [email protected]
> > >Subject: [Singkawang] Re : Indonesia Miskin atau
> > Kaya ?
> > >Date: Tue, 26 Jun 2007 10:48:09 -0700 (PDT)
> > >
> > >Dear Lidya Pei,
> > >
> > >Menjadi orang penting itu baik.
> > >Namun jauh lebih penting untuk menjadi orang
> baik.
> > >
> > >Semoga banyak ya orang baik nantinya di Indonesia
> > >Agar kekayaan ini dapat terpelihara dengan baik
> > sampai ke anak, cucu bahkan 
> > >ke cicit-cicit, dts.....dts.....hehehe
> > >
> > >Bukan karena bangsawan, aku tertawan.
> > >Bukan karena pangkat, aku terpikat.
> > >Bukan karena cantik, aku tertarik.
> > >Bukan karena harta, aku mencinta.
> > >Namun . . . . . .
> > >Karena Negeri, Aku Mengabdi.
> > >
> > >Semoga kata2 dalam kalimat2 diatas ngga keliru
> ya.
> > >Karena banyak sekali kekeliruan penafsiran yang
> > diungkapkan oleh Jaya 
> > >Suprana dalam bukunya Antologi Kelirumologi
> > >
> > >sseett. . . sseett. . .eh ada ngga yang bisa
> bikin
> > poster kata2 dari 
> > >kalimat2 diatas ?
> > >tapi judulnya apa yach ?
> > >kalo ada, mohon postingkan yach. . . . yach.
> > >biar anak, cucu, cicit, dst. . . dts. ngeliat
> > nantinya hehehe
> > >
> > >upsst , . . . kog anak, cucu, cicit kudu ndelo
> sih
> > pa dhe ? mumet aku 
> > >(kog anak, cucu, cicit harus ngeliat sih om ?
> > pusing saya)
> > >
> > >kan . . . . .
> > >kaya itu harus, sederhana itu wajib.
> > >
> > >walah tambah mumet aku ngartiine dhe. . . . (wah
> > ... wah tambah pusing aku 
> > >mengartikannya)
> > >ben ae mumet . . . . sing penting aku wes
> kandani.
> > (biar aja pusing yang 
> > >penting saya sudah nasehatin)
> > >
> > >Salam Hormat,
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out. 
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545433

Kirim email ke