Semalaman ini saya masih tergelitik dengan definisi
nasionalisme menurut anda. Karena saya kebetulan
belajar di luar negeri berarti saya anda anggap tidak
nasionalis, bukankah banyak pemimpin-pemimpin besar
Indonesia, jago-jago nasionalis sejati juga pernah
belajar di luar negeri? contohnya Bung Hatta (koreksi
kalau saya salah), yang malah belajar di Belanda, yang
notabene penjajah negara kita.

Kalaupun ada orang Indonesia yang belajar, lalu
memutuskan untuk hidup di luar, saya tidak akan
menggeneralisasi mereka tidak nasionalis, bagaimana
kalau mereka mengirimkan uangnya kembali ke Indonesia?
Bukankah Anda menekankan kaya berarti banyak uang dan
tidak punya hutang? Kalau begitu mereka termasuk
pahlawan nasionalis bukan? Dan sayapun setuju.

Dari pertama saya tidak mendefinisikan kaya sama
dengan banyak uang, menurut saya itu sangat sempit
sekali. Punya hati lapang dan pikiran luas menurut
saya akan jauh lebih berarti. Kalau pikiran saya
sesempit itu saya tentu akan mengeluh kalau saya
membanding-bandingkan diri saya dengan teman-teman
seangkatan saya yang banyak diantara mereka bekerja di
Bank-bank besar di Jakarta, dengan gaji mungkin 5 atau
6 kali lebih besar dari saya, padahal saya secara
akademis tidak lebih bodoh dari mereka. Lagipula kalau
saya kerjanya cuma mengeluh kapan saya bekerjanya,
kapan saya belajarnya? Padahal assignment saya
setumpuk. kalau saya jadi pengeluh sejati
(sekali-sekali tak apalah) mungkin saya juga tidak
akan seperti ini sekarang.

Kalau Anda punya 20 ribu, mungkin anda lebih miskin
dari orang yang punya uang 50 ribu, tapi bagaimana
kalau anda bandingkan dengan orang lain yang cuma
punya 10 ribu? Bukankah kaya dan miskin cuma sebatas
cara pandang kita saja?
Ah, anda cuma suka merendah tampaknya, bagaimana bisa
kuliah di Jakarta kalau anda cuma punya uang 20 ribu
rupiah? Tanpa ada nilai rupiah sama sekali di rekening
anda atau keluarga anda? 
Tanpa modal sama sekali, bagaimana anda bisa akses
internet malam-malam, sehingga email saya bisa cepat
anda balas? Bagaimana bisa berkendaraan di Jakarta,
kalau anda tak mampu beli kendaraan? (katanya pernah
menyerempet orang). 
Saya berani jamin kalau keluarga anda pasti lebih
beruntung dari pada keluarga saya, saya kuliah di
Jogja, bukan karena gagah-gagahan (waktu itu kami
masih tinggal di Singkawang), tapi karena cuma di
sanalah orang tua saya mampunya, karena saya bisa
dititip-titipkan di keluarga. Oh ya, sejak pertama,
saya sudah didoktrin cuma bisa kuliah di PTN.
Atau mungkin saya lebih beruntung dari Anda, karena
SPP yang dibayarkan oleh pemerintah Australia terhadap
saya sudah termasuk akses internet gratis, bahkan
sampai ke rumah saya, saya cuma cukup membayar koneksi
telpon per sambungan yang besarnya cuma 50 sen, yang
bisa saya gunakan selama yang saya mau.

Dan tahukah anda? kalau hutang dalam bentuk obligasi
dan surat-surat berharga lainnya juga anda kategorikan
sebagai hutang (perlukah saya mendefinisikan apa itu
obligasi?), maka hutangnya Amerika Serikat akan jauh
lebih besar daripadanya hutangnya Indonesia.

Siapa bilang orang kaya nggak ngutang? bukankah pake
kartu kredit itu sama dengan ngutang? dan setahu saya
kalau kita dianggap tidak kaya dan dianggap tidak
layak, mana ada bank yang mau approve permohonan kartu
kredit kita. Mana ada orang memberi hutang orang yang
dianggap nggak mampu bayar hutang?

Saya bukan menteri atau presiden yang omongannya akan
dengan mudah didengar orang, kalaupun saya
berteriak-teriak di jalan, "Berantas Korupsi"
"Berantas Hutang", dan menuliskannya dengan tinta
darah di spanduk sepanjang satu kilometer di sepanjang
jalan Istana Merdeka sekalipun, saya yakin tidak akan
ada yang mendengarkan saya dan sama sekali tidak akan
merubah keadaan, jadi menurut saya itu buang-buang
energi. 
Kalau mau memberantas Korupsi akan jauh lebih baik dan
lebih mudah kalau kita mulai dari diri sendiri. 
Sudahkan kita mencoba untuk tidak bersikap damai kalau
ditilang polisi di jalan? 
Sudahkan kita mencoba untuk mengambil "jalan depan"
dari pada mengambil "jalan belakang" kalau mengurus
surat-menyurat? sehingga "jalan belakang" tidak
menjadi budaya.
Sudahkan mencoba untuk tidak mencari "koneksi" untuk
memasukkan anak-anak kita ke sekolah-sekolah yang
bagus?
Kalau kita semua sudah bisa melakukan hal-hal kecil
semacam itu dimulai dari diri kita sendiri, insyaallah
korupsi tidak menjadi budaya, dan yang besar-besar
juga tidak akan menyusul.

Kalau Anda merasa para pemimpin itu tidak ada yang
benar semua, maka carilah pemimpin-pemimpin yang benar
(masak di antara lebih dari 200 juta penduduk
Indonesia, tak ada satupun yang baik menurut Anda),
bukankah mereka duduk di sana juga atas aspirasi
individu-individu seperti kita-kita ini?
Atau anda termasuk "golput"? Kalau benar, maka anda
tidak berhak sama sekali untuk protes, ibarat sebuah
perusahaan, anda tidak punya saham sama sekali. Atau
kalau anda fikir hanya anda satu-satunya orang
Indonesia yang benar, maka calonkanlah diri Anda, saya
yakin kalau Anda memang benar pasti akan ada yang
mendukung anda, kalaupun tidak sekarang mungkin suatu
saat. Saya sangat yakin, banyak pemimpin-pemimpin yang
sekarang berkuasa dulunya juga bukan siapa-siapa.

Saya tau apa itu homesickness, sedikit banyak siapapun
yang jauh dari rumah pasti akan merasakannya. Tapi
saya jamin intensitas homesickness saya tidak sampai
mempengaruhi cara berfikir saya, apalagi berhalusinasi
tentang Indonesia. Kebetulah kami punya komunitas di
sini, yang hampir semuanya keluarga-keluarga penerima
beasiswa seperti saya (jadi bukan kaum-kaum borju),
dan baru saja minggu kemarin saya diangkat menjadi
"Lurah" oleh mereka, jadi saya tidak kehilangan "sense
of Indonesia" sama sekali.
Lagi pula kalau pagi, saya masih sarapan pakai Indomie
telor kok, kalau masak masih tumis sawi, tumis tauge,
lauknya kadang-kadang telor ceplok,tahu goreng, ayam
goreng, daging rendang, sambal terasi, malah
kadang-kadang sambal goreng pete campur rempelo ati
(jeroan di sini murah sekali) dan kentang dipotong
dadu, dan sangat jarang makan keju, karena anak dan
suami saya nggak doyan.
Pinginnya sih bisa menggoreng tempe, tapi tempe mahal
sekali,sepotong kecil harganya 5 dollar, bisa buat
beli daging sekilo. Tapi saya dan teman-teman pernah
berhasil membuat tempe lo, cuma nggak diteruskan lagi
karena repot dan lama. 
Lagi pula saya masih bisa menanyakan ibu saya masak
apa hari ini, thank God, karena ada yang namanya
handphone. Ngomong dua menit di telpon nggak membuat
saya bangkrut kok.

Sejak pertama saya tidak pernah menekankan hal-hal
yang sifatnya makro dalah hal miskin dan kaya
(sehingga saya tidak berminat menghitung-hitung
hutang, daripada memikirkan hutang, bukankah lebih
baik berkarya sendiri, sehingga paling tidak kita
tidak berhutang buat kebutuhan kita sendiri).
Bagaimana kalau anda mencoba merubah pola fikir anda
tentang "bekerja"? bekerja bukan berarti dapat posisi
empuk di perusahaan atau instansi pemerintah, bukankah
berwiraswasta kecil-kecilan juga bekerja namanya? atau
ngamen sekalipun menurut saya itu sudah termasuk
kategori bekerja (di Australia juga banyak pengamen
lho).

Bolehkah saya bercerita bagaimana optimisme itu bisa
merubah nasib orang?
Dulu, Simbah saya di Bantul cuma petani kecil, yang
cuma punya sedikit sawah, yang mungkin kalau hasilnya
dimakan hanya menyisakan sedikit untuk disimpan. Tapi
saya kagum, bagaimana panjangnya pikiran beliau
sehingga mau menyekolahkan Ayah saya, padahal
tetangga-tetangga beliau yang sama miskinnya, mungkin
ada yang sedikit lebih kaya, tapi kebanyakan dari
mereka tidak mau menyekolahkan anak-anaknya. Kemauan
simbah saya merupakan mukjizat buat kami semua. Dan
menurut saya itu karena beliau yakin suatu hari,
walaupun nasibnya tidak akan berubah, tapi paling
tidak dia sudah berusaha memberi yang terbaik buat
anak-anaknya. Coba bayangkan, bagaimana keadaan ayah
saya kalau dulu tidak sekolah sampai universitas,
tentunya ayah saya tidak akan pernah menjadi seorang
guru dan mungkin pikiran ayah saya juga akan sesempit
orang-orang lain di desanya. 
Coba kalau dulu ayah saya cuma jadi petani yang
menggarap sawah yang sangat sempit yang itupun harus
dibagi rata dengan saudara-saudaranya yang lain,
kemudian punya anak saya, pastilah sayapun akan
berarkhir jadi buruh tani atau tukang cetak batu bata
di Bantul sana. Tapi cuma karena sedikit optimisme
dari simbah saya dulu maka nasib seketurunannya semua
bisa berubah.

Saya yang kembali tanya nih, pernahkah anda ke Bantul?
Saya tidak bisa berbicara mewakili warga Aceh dan
Sidoarjo, karena saya tidak pernah ke sana dan tidak
punya kepentingan. Tapi saya cukup bisa mewakili
keluarga besar saya (keluarga ayah, ibu, dan keluarga
besar suami saya) di Bantul sana, yang bagaimanapun
menderitanya kami, tapi tak pernah menyalahkan
siapa-siapa, kami semua sepakat kalau itu bencana
alam, kiriman yang di atas (istilahnya orang Jogja:
wis digariske karo Gusti Allah, kalau diIndonesiakan:
sudah ditakdirkan sama Allah), mungkin saja karena
selama ini kami kurang bersyukur. Apakah apa yang
dialamai keluarga kami masih kurang pedih dibanding
masyarakat Bantul yang lain menurut Anda?, padahal
kami berdiri di tanah yang sama (hampir semua keluarga
besar kami bermukim di Banguntapan dan Pleret), dan
mengalami hal yang sama persis. 

Anyway, saya rasa cukup sudah berdebat dengan Anda,
bukan karena saya takut (saya belajar mempertahankan
pendapat di Australia, karena pada dasarnya tidak ada
pendapat yang benar atau salah, yang ada hanya
pendapat yang kuat dan lemah), cuma karena saya merasa
ini nggak akan ada ujungnya, dan tidak memberi manfaat
apapun buat saya dan seantero milis ini, hanya debat
kusir. Dan mungkin saya tidak punya energi lagi
melayani keingintahuan jiwa muda Anda. 

Ngomong-ngomong lagi, saya juga dulu pernah muda lho
(lagipula saya sekarang belum tua-tua amat,
jadi,janggal kalau dipanggil Ibu), saya jadi saksi
sejarah pergerakan mahasiswa tahun-tahun 97-98, waktu
itu saya baru di tahun kedua kuliah saya di UGM, jadi
masih seger-segernya. Saya senang mendengarkan
teman-teman saya orasi dan ikut bertepuk-tepuk tangan
dan bernyanyi-nyanyi di Balairung UGM, tapi cuma
sebatas itu (kalo istilah kerennya saya cuma jadi
penggembira). Saya bukan tipe mahasiswa aktivis. Tapi
saya juga pernah ikut-ikutan di kejar-kejar sama
polisi di bunderan UGM lho, kalo nggak salah tanggal 2
Mei 97. Kalo dipikir-pikir sih lucu juga, jadi ada
nantinya yang bisa saya ceritakan ke anak cucu saya.
Tapi yang membuat saya bangga sama mahasiswa di Jogja
adalah tidak adanya amuk massal, tidak ada keributan,
kami tetap hidup dengan aman dan damai di sana, tidak
seperti apa yang terjadi di Jakarta dan Solo (menurut
saya itu sejarah buruk yang nggak perlu terulang lagi,
horor yang menakutkan, mohon maaf kalau mengingatkan
pada hal-hal buruk).

Atau Anda mau Indonesia berubah seperti tahun-tahun
tersebut? Kalau begitu Anda harus berfikir untuk
mengumpulkan massa nih (asalkan tidak memakan korban
aja). Tapi menurut saya momentumnya sudah hilang, atau
mungkin anda hanya harus bersabar sepuluh sampai dua
puluh tahun lagi.
Kalau kita telusuri sejarah Modern Indonesia, revolusi
akan berulang dengan jarak antara 20 - 30 tahunan:
Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Perang
kemerdekaan 1945-49, revolusi ORBA 1966-1968,
Reformasi 1997-1998, Jadi kalo hitung-hitungan saya
benar (saya bukan peramal lho), baru akan ada sesuatu
yang besar paling cepat 10 tahun lagi, jadi
bersabarlah. Sambil menunggu, belajarlah yang rajin,
cepat selesai kuliah, jadi nggak menyusahkan orang
tua, walaupun belum bisa bekerja, paling tidak udah
nggak dibiayai, tul nggak!

Regards,
Rini
 
--- ardy prasetya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Ibu udah hitung belum utang luar negerinya ? kalau
> belum, diitung dulu lah, 
> saya yang miskin ini cuma ingin tau aja gimana
> perhitungannya, kebetulan 
> saya belum pernah dengar orang kaya yang ngutang,
> kecuali orang yang sok 
> kaya.
> 
> Saya tidak perlu membaca ulang email anda, sama
> seperti anda tidak perlu 
> membaca ulang email saya, kalau anda sudah tau apa
> yang saya bicarakan sejak 
> awal (dan menyalahbesarkan). Oh ya coba dicek, arti
> kata “miskin” dan “tidak 
> ada”, coba cari bedanya, tapi tidak perlu baca ulang
> email saya. Coba 
> analogikan dengan tetangga2, pecel lele, cendol dan
> pak RT anda yang 
> patriotis, nasionalis, kaya, toleransi tinggi,
> bandingkan dengan seabrek 
> orang indonesia.
> 
> Anggota DPR / MPR yang jumlahnya 1000an itu mewakili
> 200an juta orang 
> indonesia, coba deh cariin sebanyak jari saya ini
> yang gak pentingin kantong 
> berapa, yang gak nyogok waktu rebutan kursi, yang
> gak nego waktu rebutan 
> tempat, yang gak ribut naik tunjangan, yang gak
> ribut minta laptop. Itung 
> deh moral orang per orangnya, itung ada berapa (jari
> saya jumlahnya 10). 
> Baru habis itu kita ngomong soal pak RT dan pak RW,
> kita itung jumlah pak RT 
> dan pak RW di daerah anda, lalu kita bandingin sama
> di daerah saya, dan 
> lihat siapa sebenarnya yang mengeneralisasi.
> 
> Kalau belum tau arti homesick biar saya yang miskin
> ini jelasin, bahwa 
> homesick itu bukan hanya artinya kangen “suami dan
> anak”, tapi kangen 
> “kampung halaman” (yang sangat indah). Baguslah
> kalau anda sangat 
> nasionalis, ini dia orang pertama yang saya dengar
> dengan sangat berani 
> mengumumkan bahwa dia sangat nasionalis. Mudah2an
> hati dan perkataannya bisa 
> bekerja seiring…
> 
> Saya tidak tau tau apanya yang dibilang
> generalisasi, yang pasti sampai 
> sekarang setelah 10 tahun keterpurukan krisis,
> indonesia ini belum bangun2, 
> dan tiap hari di teve, koran, majalah, selalu
> masalah2 yang sama, kalau 
> istilah anda masalah “moral orang per orang”, yang
> kalau dihitung orang per 
> orangnya mungkin anda akan kaget, sampai saya malas
> baca koran. Kalau perlu 
> tanyain sama korban-korban bencana alam di seluruh
> jogja-bantul (bukan cuman 
> sebagian bantul tetangga2 anda), berapa orang yang
> nangis, kita taruhan aja 
> ada gak yang nangis, tanya orang2 di porong, berapa
> yang nangis. tanya 
> orang-orang di aceh yang sampai sekarang masih
> ngungsi, berapa yang nangis, 
> berapa yang gila. Bukan hanya sekitaran bantul,
> pecel lele dan cendol yang 
> jumlahnya katanya "luar biasa besar" (di jogja
> mungkin iya). Nilai sendiri 
> aja. Saya pikir saya tidak perlu mengeneralisasi.
> 
> Terus terang saja, saya memang belum bisa berbuat
> apa2 buat Indonesia, 
> karena saya tidak tau apa yang mau dibuat, saya
> nanti lulus mau kerja apa 
> aja saya belum tau, ada tidak kerjaan buat saya aja
> saya gak tau. Uang di 
> kantong Cuma 20 ribu, tabungan gak sampai ½ juta.
> Kerjaan saya sekarang ya 
> hanya bisa mengkritik (istilah anda “menyalahkan”,
> coba dicari arti kata 
> kritik yang benar), biar ada orang-orang seperti ibu
> ini (yang sudah punya 
> kemampuan untuk berbuat apa2) terusik dan terbangun
> rasa nasionalisme dan 
> patriotismenya. Saya yakin kalau tidak ada bola
> panas yang dilempar, pasti 
> akan adem ayem saja, tidak ada yang merasa marah,
> tidak ada yang merasa 
> tersinggung, tidak ada rasa nasionalisme yang
> bangkit, dan saya juga gak 
> akan tau ada seorang nasionalis sejati di sini.
> 
> Kalau memang ada yang pesimis dengan kritikan saya,
> berarti kritikan saya 
> ada benarnya, bukan salah besar, tanggapan pesimis
> mengindikasikan miskin, 
> miskin optimisme, miskin moral, miskin usaha, miskin
> mental. Kalau anda 
> merasa optimis buktikan saja, kita lihat saja nanti.
> Biar saya tau suatu 
> saat kalau indonesia sudah maju dan makmur, saya
> akan ingat anda, saya kasih 
> batas waktunya, sampai saya mati, apa cukup ?
> 
> Semua orang tau indonesia itu indah, tapi di zaman
> ini, itu bukan sesuatu 
> yang membuat saya bangga.
> 
> Regards,
> 
> Alwaysimiskin
> 
> 
> 
> >From: Rini Yayuk Priyati <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: [email protected]
> >To: [email protected]
> >Subject: RE: [Singkawang] Re : Indonesia Miskin
> atau Kaya ? Dear Ardy,
> >Date: Mon, 2 Jul 2007 01:55:13 -0700 (PDT)
> >
> >Dear Ardy,
> >
> >Kalau tanya kenapa saya belajar ke luar negeri,
> bukan
> >karena saya tidak nasionalis (justru kebalikannya,
> >karena saya sangat nasionalis), karena saya abdi
> >negara (PNS), ditugaskan oleh negara, dengan paspor
> >dinas pula (paspor biru), dan dibiayai oleh
> pemerintah
> >Australia (perlu dicatat tanpa ada unsur KKN,
> karena
> >saya harus melewati serangkaian tes baik tes bahasa
> >Inggris, maupun tes kemampuan akademik).
> >Jadi, jangan pernah mengira saya belajar di luar
> >karena gaya dan banyak uang (mungkin kalau saya
> >memilih sekolah di dalam negeri, saya malah harus
> >membayar sendiri, paling tidak nombok, karena saya
> >tidak bisa bekerja sambil kuliah).
> >Saya berasal dari keluarga biasa, ayah saya hanya
> >pensiunan guru, dulu mengajar di SPG lalu berubah
> >menjadi SMAN 3 Singkawang, dan setelah pensiun
> beliau
> >kembali ke Jogja, dan menjadi petani, tanpa modal,
> >karena kami pindah kembali ke Jogja memang tidak
> >membawa apa-apa, kecuali sedikit uang dari hasil
> >menjual rumah kami di Roban.
> >
> >Dan karena tugas saya sebagai pendidik (saya dosen
> di
> >salah satu Universitas Negeri di Jakarta), jadi
> nggak
> >ada salahnya jika saya mengambil kesempatan yang
> >sangat langka ini, dan perlu dicatat bahwa saya
> tidak
> >ada keinginan sedikitpun untuk bermukin di
> Australia,
> >apalagi menjadi warga negara Australia.
> >Jadi ungkapan menuntut ilmu untuk membangun
> Indonesia
> >amat sangat tidak klise untuk saya, karena tentunya
> >mahasiswa-mahasiswa saya akan mendapat nilai tambah
> >dari apa yang saya pelajari di sini.
> >
> >Kalu masalah homesickness sih nggak terlalu tuh,
> >karena saya diperbolehkan membawa serta suami dan
> anak
> >saya selama saya belajar di sini.
> >
> >Saya memberikan contoh rumput, bukan karena di sini
> >nggak ada rumput, tapi betapa sulitnya menanam
> rumput
> >di Australia, ada yang kesulitan menanam rumput di
> >Indonesia?
> >Wah kalau buah di sini banyak sekali, saya
> >mencontohkan rumput dan buah, karena buat menanam
> >rumput di Australia aja susahnya bukan main,
> apalagi
> >menanam buah. Mungkin anda perlu membaca ulang
> email
> >saya nih.
> >Wah kalau masalah impor buah, karena iklimnya
> >Indonesia memang nggak cocok untuk beberapa buah
> >tertentu. Tapi juga bayak macam-macam buah yang di
> >Indonesia melimpah, tapi tidak ada di sini.
> >Tapi kalu soal kesuburan, pasti semua orang setuju
> >kalau Indonesia jauh lebih subur.
> >
> >Jangan dikira orang di sini nggak menyumpah dan
> >menyerapah kalau melihat orang lain nggak bener di
> >jalan raya, cuma istilahnya lain aja, bl***y,
> f****ng,
> >id**t, sama aja khan? dan mungkin intensitasnya
> lebih
> >jarang,karena jalanan di sini memang lebih lengang.
> >Jadi, supaya nggak disumpahin orang di jalan, lain
> >kali anda perlu hati-hati di jalan.
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware 
protection.
http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/norton/index.php

Kirim email ke