Ibu udah hitung belum utang luar negerinya ? kalau belum, diitung dulu lah, 
saya yang miskin ini cuma ingin tau aja gimana perhitungannya, kebetulan 
saya belum pernah dengar orang kaya yang ngutang, kecuali orang yang sok 
kaya.

Saya tidak perlu membaca ulang email anda, sama seperti anda tidak perlu 
membaca ulang email saya, kalau anda sudah tau apa yang saya bicarakan sejak 
awal (dan menyalahbesarkan). Oh ya coba dicek, arti kata “miskin” dan “tidak 
ada”, coba cari bedanya, tapi tidak perlu baca ulang email saya. Coba 
analogikan dengan tetangga2, pecel lele, cendol dan pak RT anda yang 
patriotis, nasionalis, kaya, toleransi tinggi, bandingkan dengan seabrek 
orang indonesia.

Anggota DPR / MPR yang jumlahnya 1000an itu mewakili 200an juta orang 
indonesia, coba deh cariin sebanyak jari saya ini yang gak pentingin kantong 
berapa, yang gak nyogok waktu rebutan kursi, yang gak nego waktu rebutan 
tempat, yang gak ribut naik tunjangan, yang gak ribut minta laptop. Itung 
deh moral orang per orangnya, itung ada berapa (jari saya jumlahnya 10). 
Baru habis itu kita ngomong soal pak RT dan pak RW, kita itung jumlah pak RT 
dan pak RW di daerah anda, lalu kita bandingin sama di daerah saya, dan 
lihat siapa sebenarnya yang mengeneralisasi.

Kalau belum tau arti homesick biar saya yang miskin ini jelasin, bahwa 
homesick itu bukan hanya artinya kangen “suami dan anak”, tapi kangen 
“kampung halaman” (yang sangat indah). Baguslah kalau anda sangat 
nasionalis, ini dia orang pertama yang saya dengar dengan sangat berani 
mengumumkan bahwa dia sangat nasionalis. Mudah2an hati dan perkataannya bisa 
bekerja seiring…

Saya tidak tau tau apanya yang dibilang generalisasi, yang pasti sampai 
sekarang setelah 10 tahun keterpurukan krisis, indonesia ini belum bangun2, 
dan tiap hari di teve, koran, majalah, selalu masalah2 yang sama, kalau 
istilah anda masalah “moral orang per orang”, yang kalau dihitung orang per 
orangnya mungkin anda akan kaget, sampai saya malas baca koran. Kalau perlu 
tanyain sama korban-korban bencana alam di seluruh jogja-bantul (bukan cuman 
sebagian bantul tetangga2 anda), berapa orang yang nangis, kita taruhan aja 
ada gak yang nangis, tanya orang2 di porong, berapa yang nangis. tanya 
orang-orang di aceh yang sampai sekarang masih ngungsi, berapa yang nangis, 
berapa yang gila. Bukan hanya sekitaran bantul, pecel lele dan cendol yang 
jumlahnya katanya "luar biasa besar" (di jogja mungkin iya). Nilai sendiri 
aja. Saya pikir saya tidak perlu mengeneralisasi.

Terus terang saja, saya memang belum bisa berbuat apa2 buat Indonesia, 
karena saya tidak tau apa yang mau dibuat, saya nanti lulus mau kerja apa 
aja saya belum tau, ada tidak kerjaan buat saya aja saya gak tau. Uang di 
kantong Cuma 20 ribu, tabungan gak sampai ½ juta. Kerjaan saya sekarang ya 
hanya bisa mengkritik (istilah anda “menyalahkan”, coba dicari arti kata 
kritik yang benar), biar ada orang-orang seperti ibu ini (yang sudah punya 
kemampuan untuk berbuat apa2) terusik dan terbangun rasa nasionalisme dan 
patriotismenya. Saya yakin kalau tidak ada bola panas yang dilempar, pasti 
akan adem ayem saja, tidak ada yang merasa marah, tidak ada yang merasa 
tersinggung, tidak ada rasa nasionalisme yang bangkit, dan saya juga gak 
akan tau ada seorang nasionalis sejati di sini.

Kalau memang ada yang pesimis dengan kritikan saya, berarti kritikan saya 
ada benarnya, bukan salah besar, tanggapan pesimis mengindikasikan miskin, 
miskin optimisme, miskin moral, miskin usaha, miskin mental. Kalau anda 
merasa optimis buktikan saja, kita lihat saja nanti. Biar saya tau suatu 
saat kalau indonesia sudah maju dan makmur, saya akan ingat anda, saya kasih 
batas waktunya, sampai saya mati, apa cukup ?

Semua orang tau indonesia itu indah, tapi di zaman ini, itu bukan sesuatu 
yang membuat saya bangga.

Regards,

Alwaysimiskin



>From: Rini Yayuk Priyati <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [email protected]
>To: [email protected]
>Subject: RE: [Singkawang] Re : Indonesia Miskin atau Kaya ? Dear Ardy,
>Date: Mon, 2 Jul 2007 01:55:13 -0700 (PDT)
>
>Dear Ardy,
>
>Kalau tanya kenapa saya belajar ke luar negeri, bukan
>karena saya tidak nasionalis (justru kebalikannya,
>karena saya sangat nasionalis), karena saya abdi
>negara (PNS), ditugaskan oleh negara, dengan paspor
>dinas pula (paspor biru), dan dibiayai oleh pemerintah
>Australia (perlu dicatat tanpa ada unsur KKN, karena
>saya harus melewati serangkaian tes baik tes bahasa
>Inggris, maupun tes kemampuan akademik).
>Jadi, jangan pernah mengira saya belajar di luar
>karena gaya dan banyak uang (mungkin kalau saya
>memilih sekolah di dalam negeri, saya malah harus
>membayar sendiri, paling tidak nombok, karena saya
>tidak bisa bekerja sambil kuliah).
>Saya berasal dari keluarga biasa, ayah saya hanya
>pensiunan guru, dulu mengajar di SPG lalu berubah
>menjadi SMAN 3 Singkawang, dan setelah pensiun beliau
>kembali ke Jogja, dan menjadi petani, tanpa modal,
>karena kami pindah kembali ke Jogja memang tidak
>membawa apa-apa, kecuali sedikit uang dari hasil
>menjual rumah kami di Roban.
>
>Dan karena tugas saya sebagai pendidik (saya dosen di
>salah satu Universitas Negeri di Jakarta), jadi nggak
>ada salahnya jika saya mengambil kesempatan yang
>sangat langka ini, dan perlu dicatat bahwa saya tidak
>ada keinginan sedikitpun untuk bermukin di Australia,
>apalagi menjadi warga negara Australia.
>Jadi ungkapan menuntut ilmu untuk membangun Indonesia
>amat sangat tidak klise untuk saya, karena tentunya
>mahasiswa-mahasiswa saya akan mendapat nilai tambah
>dari apa yang saya pelajari di sini.
>
>Kalu masalah homesickness sih nggak terlalu tuh,
>karena saya diperbolehkan membawa serta suami dan anak
>saya selama saya belajar di sini.
>
>Saya memberikan contoh rumput, bukan karena di sini
>nggak ada rumput, tapi betapa sulitnya menanam rumput
>di Australia, ada yang kesulitan menanam rumput di
>Indonesia?
>Wah kalau buah di sini banyak sekali, saya
>mencontohkan rumput dan buah, karena buat menanam
>rumput di Australia aja susahnya bukan main, apalagi
>menanam buah. Mungkin anda perlu membaca ulang email
>saya nih.
>Wah kalau masalah impor buah, karena iklimnya
>Indonesia memang nggak cocok untuk beberapa buah
>tertentu. Tapi juga bayak macam-macam buah yang di
>Indonesia melimpah, tapi tidak ada di sini.
>Tapi kalu soal kesuburan, pasti semua orang setuju
>kalau Indonesia jauh lebih subur.
>
>Jangan dikira orang di sini nggak menyumpah dan
>menyerapah kalau melihat orang lain nggak bener di
>jalan raya, cuma istilahnya lain aja, bl***y, f****ng,
>id**t, sama aja khan? dan mungkin intensitasnya lebih
>jarang,karena jalanan di sini memang lebih lengang.
>Jadi, supaya nggak disumpahin orang di jalan, lain
>kali anda perlu hati-hati di jalan.
>BTW, wah Anda beruntung sekali masih bisa bermotor dan
>bermobil di Jakarta, kalo saya cuma bisa naik KOPAJA
>ha..ha..
>
>Kalau masalah anggota DPR atau pejabat, itu masalah
>moral orang per orang, jadi kita tidak juga
>menggeneralisasi.
>Kalau ditanya kenal pejabat nggak? saya kenal
>beberapa, Pak RT dan Pak RW saya di Pamulang sana,
>mereka semangat sekali kalau tujuh belasan dan saya
>bangga sekali dengan beliau-beliau, tanpa bayaran
>masih mau meluangkan waktu mengurus warganya, bukankah
>itu salah satu contoh nasionalis dalam lingkup kecil?
>
>Masalah pakaian bekas dan sebaginya, wah terima kasih
>sekali sudah mengirimkan kami, karena itulah saya
>mengatakan bahwa orang Indonesia masih kuat rasa
>persaudaraannya, betul khan?
>
>Buat membuat Indonesia lebih baik, saya kira setiap
>kita harus mulai berfikir untuk maju, mulailah dengan
>pikiran optimis, paling tidak untuk diri kita sendiri.
>Saya kira, kalau separuh orang Indonesia mulai mau
>berfikir lebih optimis, membangun dari unsur yang
>paling kecil (diri kita sendiri) akan jauh lebih baik
>dari pada menyesali kesialan dan menyalahkan sesuatu
>yang nggak nyata, apalagi ditambah mengucapkan
>kata-kata yang malah membuat orang lain menjadi
>ikut-ikutan pesimis.
>
>Regards,
>Rini
>
>--- ardy prasetya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > nih sensor kalo diblok sama moderator...
> >
> > ada juga yang kesentil... bagus lah kalau gitu...
> >
> > masalah ekonomi memang anda lebih ahli, saya tidak
> > bisa berkomentar
> > soal itu (saya masih S1), kuliah aja belum kelar...
> > tapi saya rakyat
> > biasa yang merasakan perasaan saya yang mungkin gak
> > seberapa terhadap
> > indonesia...
> >
> > patriotisme, nasionalisme ? tanyakan pada pejabat2,
> > anggota MPR maupun
> > DPR, kalau anda kenal beberapa pejabat, anda akan
> > mengerti kenapa saya
> > bilang tidak ada nasionalisme, btw, kalau memang
> > nasionalis, mengapa
> > anda kuliah di luar ? apa gak ada postgraduate
> > ekonomi di sini ? apa
> > itu sikap nasionalis ? atau biar lebih hebat lagi
> > untuk pulang
> > membangun indonesia ? ah klise, yah saya harap anda
> > konsisten aja...
> >
> > saya mengkritik indonesia dengan harapan agar dia
> > bisa lebih baik lagi
> >
> > saya hidup di jakarta mbak, yang kalo bawa
> > motor/mobil gak sengaja
> > nyenggol orang, terus orang yang kena 'gue' senggol
> > bilang, "oi lu mau
> > m***** ?!?!?!?!" atau "oi b******", atau yang lebih
> > parah bawa tang
> > dari bagasi terus ancurin kaca jendela,padahal gue
> > dah turun... apa
> > itu persaudaraan ? saya hidup di jakarta, bukan di
> > australia dan
> > sedang merasakan "homesick" secara luar biasa dan
> > merasakan indonesia
> > tiba2 sangat indah...
> >
> > soal bantul, kebetulan saya menyumbang sejumlah
> > pakaian bekas dan
> > tongkat buat jalan orang lumpuh karena saya pernah
> > ditabrak lari
> > oleh sesama saya orang indonesia, apakah tongkat dan
> > pakaian bekas
> > saya ada sampai ke mbak ? kalau nggak, mungkin rasa
> > persaudaraan
> > pengumpul dana di sini atau di sana perlu
> > dipertanyakan... mungkin...
> >
> > saya tidak menyalahkan indonesia, "sekali lagi"
> > tidak menyalahkan
> > indonesia, tapi saya bilang indonesia itu "miskin",
> > dan saya tidak
> > pernah tertekan tinggal di indonesia yang "miskin"
> > ini...
> >
> > di australia tinggal di mana ? masa sih gak ada
> > rumput... masa sih...
> > masa sih gak ada buah, masa sih, masa sih gak ada
> > apel yang sampai ke
> > sini...masa sih..
> >
> > terus terang saya sentimentil...apalagi yang
> > berhubungan ama
> > indonesia...
> > dan saya gak bangga2 amat jadi orang indonesia,
> > karena blum ada
> > sesuatu selain "kekayaan sumber daya yang luar
> > biasa" (yang kebanyakan
> > dimanfaatkan oleh negara lain) yang bisa bikin saya
> > bangga...
> >
> > regards...
> >
> > si miskin
> >
> >
> > >From: "ardy prasetya" <[EMAIL PROTECTED]>
> > >Reply-To: [email protected]
> > >To: [email protected]
> > >Subject: RE: [Singkawang] Re : Indonesia Miskin
> > atau Kaya ?
> > >Date: Sun, 01 Jul 2007 21:40:58 +0700
> > >
> > >makanya miskin, kebawa nyantai sih, biji dibuang
> > langsung tumbuh, bisa
> > >nikmatin hasil lagi, gak perlu usaha, kebawa
> > nyantai terus, makanya
> > >miskin... di osi,harus dirawat, hasil yang didapat
> > pasti lebih manis karena
> > >ada bekas keringat di sana...
> > >
> > >di sini ? yaaaaaaaaaaa... langsung tumbuh...
> > terusin aja langsung nikmatin
> > >terus, indah sih, eksploitasi semua, babat hutan,
> > logging terus, ya terusin
> > >aja, toh bisa tumbuh lagi...
> > >
> > >di osi, nanam payah2, panen, kirim kualitas terbaik
> > ke indonesia (ada
> > >stikernya wow), orang indonesia makan apelnya,
> > lempar bijinya, gak dirawat,
> > >tumbuh sih... tapi yaaaaaaaaaa... makan buahnya
> > (sukur2 kalo berbuah)...
> > >yaaaaaaaaa.....terusin aja, toh tumbuh lagi...
> > >
> > >mungkin perlu ditambahin lagi, indonesia itu miskin
> > usaha...terusin aja...
> > >toh tumbuh lagi...
> > >
> > >regards,
> > >si miskin...
> > >
> > >
> > > >From: Rini Yayuk Priyati <[EMAIL PROTECTED]>
> > > >Reply-To: [email protected]
> > > >To: [email protected]
> > > >Subject: RE: [Singkawang] Re : Indonesia Miskin
> > atau Kaya ?
> > > >Date: Thu, 28 Jun 2007 02:12:35 -0700 (PDT)
> > > >
> > > >Menurut saya, kaya atau miskin tergantung
> > bagaimana
> > > >cara kita memandangnya saja. kalau kita melihat
> > ke
> > > >atas terus, maka miskinlah kita, tapi kalau kita
> > > >sesekali melihat ke bawah, pasti kita akan merasa
> > > >lebih beruntung.
> > > >
> > > >Kalau tolak ukur kaya dan miskin diukur dari
> > > >besaran-besaran ekonomi makro,walaupun saya
> > belajar
> > > >ekonomi (sekarang saya postgraduate student
> > jurusan
> > > >economics di salah satu uni di Australia)menurut
> > saya
> > > >ukuran-ukuran makro ekonomi adalah sesuatu yang
> > > >dipaksakan oleh dunia barat dan sangat tidak
> > fair,
> > > >sehingga saya tidak terlalu percaya. Untuk
> > > >negara-negara barat yang seluruh sistem baik
> > > >pemerintah, swasta, bahkan rumah tangga sudah
> > sangat
> > > >tertata dan terdokumentasi dengan baik, mungkin
> > > >ukuran-ukuran makro valid, tapi buat negara
> > seperti
> > > >negara kita, dimana masih banyak penduduknya yang
> > > >menggantungkan diri dari sektor-sektor informal,
> > tidak
> > > >akan semudah itu. Coba, pernahkah ada pencatatan
> > omset
> > > >penjual pecel lele, bakso, es cendol, dan
> > sebagainya
> > > >dipinggir jalan? Padahal kalau mau jujur berapa
> > juta
> > > >orang yang menggantungkan hidupnya dari
> > sektor-sektor
> > > >semacam itu, dan itu nggak pernah tercatat dalam
> > PDB,
> > > >GNP, atau apalah namanya.
> > > >
> > > >Kalau ada yang bilang kita nggak patriotis,
> > > >nasionalisme, atau miskin toleransi, saya rasa
> > salah
> > > >besar. Saya bisa merasakan setelah jauh dari
> > negeri
> > > >sendiri. Paling tidak rasa memiliki terhadap
> > tetangga
> > > >dan lingkungan sosial kita masih jauh lebih baik
> > > >daripada yang saya rasakankan di sini.
> > > >
> > > >Apalagi kalau sampai ada yang bilang kita miskin
> > rasa
> > > >persaudaraan, saya tidak tahu, dimanakah dia
> > selama
> > > >ini hidup? Saya adalah salah satu saksi hidup
> > yang
> > > >saat terjadinya gempa di jogja tahun lalu yang
> > saat
> > > >itu sudah melek dari tidur, dan kebetulan rumah
> > > >keluarga besar kami di Bantul, daerah yang paling
> > > >parah terkena gempa. Percaya atau tidak, hampir
> > tidak
> > > >ada orang di kampung saya yang menangis waktu
> > itu,
> > > >walaupun rumah kami hancur, kerabat kami tewas,
> > karena
> > > >kami masih merasa memiliki satu sama lain. Kami
> > > >bertetangga bersama-sama memikul beban, tanpa ada
> > yang
> > > >menyalahkan, dan maaf, tidak pernah
> > mengemis-ngemis
> > > >bantuan. Karena kami tau diluar sana, masih
> > banyak
> > > >orang Indonesia (kecuali yang ngomong kita miskin
> > > >persaudaraan mungkin) yang akan dengan sukarela
> > > >membantu kami.
> >
>=== message truncated ===
>
>
>
>
>____________________________________________________________________________________
>Need a vacation? Get great deals
>to amazing places on Yahoo! Travel.
>http://travel.yahoo.com/

_________________________________________________________________
Try it now! Live Search: Better results, fast. 
http://get.live.com/search/overview



=====================================================
Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply

United Singkawang - [http://www.singkawang.us]
Friendster - [http://www.friendster.com/singkawang]
===================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/singkawang/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/singkawang/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke