16/07/2006 19:00 Sigi Prancis Mengeruk Uranium Melawi? Liputan6.com, Melawi: Melawi, sebuah kabupaten di Kalimantan Barat yang dimekarkan setahun silam ternyata menyimpan cerita besar. Wilayah ini memiliki kandungan uranium sekitar 24 ribu ton yang setara dengan kebutuhan listrik sebesar 9.000 megawatt selama 125 tahun ke depan. Namun potensi itu telah dikeruk negara lain. Prancis disebut-sebut telah menguras kandungan uranium di Desa Kalan, Kecamatan Ella Hilir, Melawi. Informasi yang diperoleh Tim Sigi SCTV menyebut Prancis masuk ke pedalaman Kalbar mendompleng Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), sejak 1973. Aktivitas dan keberadaan perusahaan yang mengeruk kekayaan alam Melawi selama 33 tahun itu tak pernah diketahui pemerintah setempat. Benarkah, uranium Melawi telah dicuri? Berbekal informasi itu Tim Sigi SCTV menelisik langsung ke pedalaman Melawi, baru-baru ini. Desa Kalan adalah salah satu dari enam titik wilayah yang menyimpan kandungan uranium. Lokasi eksplorasi uranium bisa dicapai melalui jalan sepanjang sekitar 22 kilometer dengan medan yang berat. Di tempat itu terdapat Pos Keamanan Batan yang menjaga lokasi penambangan bahan pembuat bom nuklir itu. Bersama dua mantan karyawan Komisariat Energi Atom Prancis (CEA) dan beberapa petugas Batan, Tim Sigi SCTV menelusuri pengeboran di Desa Kalan. Setelah mendaki hampir dua jam, tim tiba di mulut terowongan. Goa sepanjang kurang lebih 600 meter ini dibangun untuk menghubungkan titik-titik pengeboran uranium. Di sekitar terowongan, sesekali didapati batu sampel uranium yang tertutup alang-alang. Menurut mantan ahli geologi CEA Said Marjan, sampel batu tersebut berkadar uranium rendah. Sementara yang berkadar uranium tinggi sudah raib sekitar 30 tahun silam. Nanga Kalan dan sekitarnya hanyalah bagian kecil dari proyek raksasa eksplorasi dan eksploitasi uranium di Kalimantan. Dari luas wilayah 175 ribu kilometer persegi yang diteliti, 39 ribu kilometer persegi terbukti mengandung uranium sebesar 24.112 ton uranium. Ratusan ton di antaranya telah diboyong ke luar negeri. Indonesia telah kecolongan uranium. Kesadaran yang seolah terlambat datang itu kini ramai dilantangkan para tokoh masyarakat Melawi. Eksplorasi uranium di hutan Nanga Pino, Nanga Elah, dan Nanga Kalan dilakukan selama delapan tahun sejak 1969. Eksplorasi dilakukan oleh perusahaan Prancis yang tergabung dalam CEA dengan berkerja sama dengan Batan. Menurut Ketua DPRD Melawi Sukirman, ekplorasi uranium di wilayahnya menjadi sebuah proyek yang sangat misterius. "Sampai sekarang kita tak bisa ikut mengakses ataupun memahami apa kegiatan itu," jelas Sukirman. Sejauh ini, pihaknya hanya mengetahui penambangan itu untuk penelitian. Lantas, ke mana larinya uranium Melawi? Seorang petugas bandar udara di Melawi mengaku mengetahui persis uranium Melawi diangkut orang-orang Prancis. "Mereka kalau terbang pasti bawa sampel batu itu," ujar pria yang enggan disebut namanya itu. Setiap pemberangkatan, orang-orang Prancis itu membawa sampel batu tiga hingga lima kotak dengan berat masing-masing 20-35 kilogram. Namun hal ini dibantah Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kalbar Aryanto B.H. Menurutnya, sangat tidak mungkin uranium bisa lolos begitu saja. "Ada regulasi yang harus dipenuhi," tambah Aryanto. Pasalnya, uranium adalah suatu bahan galian yang memancarkan sinar alfa, beta, dan gamma yang cukup kuat. Batan juga membantah jika uranium Indonesia dibawa lari ke luar negeri. Direktur Pusat Pengembangan Geologi Nuklir Batan Sanwijaya Sastratenaya menjelaskan memang ada sejumlah sampel batu uranium untuk diteliti di Prancis. Namun jumlahnya tak terlalu besar bahkan tak nyaris tak berarti. Lebih jauh, Sanwijaya menjelaskan bahwa kehadiran CEA di Kalbar adalah murni kerja sama dua negara yang berlangsung sejak 1969 hingga 1977. CEA hengkang karena Indonesia saat itu belum ingin mengeksploitasi uraniumnya. "Kerja sama ini berakhir kurang smooth, kurang enak," ungkap Sanwijaya. Tapi, tuntutan keterbukaan tetap saja muncul. Sukirman berharap adanya satu koordinasi soal pengelolaan uranium di Melawi. "Daerah paling tidak mengetahui," tambah Sukirman. Demikian juga dengan pembangunan saran dan prasara wilayah ke daerah eksplorasi seperti jalan. Hal ini tampaknya sulit dipenuhi. Batan menyebut kewenangan atas urusan barang strategis seperti uranium berada di tangan pemerintah pusat. Meski demikian, Sanwijaya mengaku lembaganya menyimpan 740 kg uranium asal Melawi untuk bahan penelitian. "Sebanyak 200 kilogram itu kita simpan di sini [Jakarta] sisanya kita kirim ke pusat Batan di Yogyakarta," jelas Sanwijaya. Pemerintah saat ini memang tengah mengkaji kemungkinan memanfaatkan uranium sebagai alternatif energi untuk memenuhi kebutuhan listrik di masa mendatang. Namun Batan belum terpikir untuk mengeksploitasi uranium di Melawi. Sebab, keperluan uranium dalam negeri untuk tiga reaktor yang terdapat di Bandung, Yogyakarta, dan Serpong belum terlampau besar. "Tidak masuk akal konsumsi yang begitu [sedikit] kita harus menambang, jelas Kepala Batan Soedyartomo Soentono sambil menambahkan bahwa uranium banyak dijual di pasar internasional dengan harga murah. Terlepas dari semua ini, menjaga uranium untuk kebutuhan energi sangatlah penting dilakukan. Namun jauh lebih penting lagi untuk memagari uranium Indonesia agar tidak dicolong dan digunakan untuk merusak perdamaian dunia. Apalagi Indonesia adalah salah satu penandatangan konsensus internasional uranium untuk perdamaian.(TOZ)
----- Pesan Asli ---- Dari: Hidayat Boesran <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sabtu, 5 Juli, 2008 12:53:05 Topik: Bls: [Singkawang] PRIHATIN YA..... Gimana dengan tulisan dibawah ini ya . . . ? Salam Hormat, HB Equator Rabu, 28 Desember 2005 Kalbar Tidur di Atas Uang Kalbar tidur di atas uang? Jawabannya iya bagi Ir Syamsul Usman, MT. Mantan orang penting di Bappeda Kalbar ini menyajikan data serta fakta kekayaan-kekayaan alam di Kalbar. “Ini batu bara, siapa bilang belum matang? Saya punya contohnya,” ungkap Syamsul di ruang kerjanya yang sudah mirip laboratorium di PT Kalindo, Pontianak. Equator yang bertandang ke ruang kerja Syamsul terpana dengan penataan bebatuan dan mineral yang diteliti Syamsul dan SDA itu milik Kalbar. “Menurut saya bukan investor tidak mau masuk menambang kekayaan-kekayaan alam seperti batubara di Sintang atau Bouksit di Tayan, tapi infrastruktur kita yang nihil di daerah tersebut,” ungkapnya. Kata Syamsul, untuk bisa mendatangkan investor sehingga roda ekonomi bisa bergerak di daerah, Pemprov atau Pemkab harus mencari jalan bagaimana caranya agar infrastruktur bisa tersedia di sana. “Jika kemampuan terbatas setidaknya memberikan kemudahan dan konsesi yang menarik. Untuk ini pemerintah mesti kreatif,” ujarnya. Kata Syamsul, jika roda ekonomi bergerak di bidang pertambangan, Kalbar benar-benar terasa “tidur di atas duit” karena cadangan tambang itu begitu besar. Seperti batubara dan bouksit cadangannya jutaan metrik kubik. Ia bisa ditambang untuk waktu berpuluh-puluh tahun. Belum lagi yang ditambang itu adalah uranium, yakni bahan baku energi atom. Sementara Kalbar kata Syamsul mesti berhati-hati karena tidak menutup kemungkinan kekayayaan tambangnya dicuri pihak asing. Hal ini sudah tampak di depan mata pada praktik illegal logging maupun illegal fishing (kehutanan dan kelautan). (kan) ----- Pesan Asli ---- Dari: Budi Rahayu <[EMAIL PROTECTED] com> Kepada: [EMAIL PROTECTED] ups.com Terkirim: Kamis, 3 Juli, 2008 11:52:51 Topik: Re: [Singkawang] PRIHATIN YA..... wah..akuratnya mesti tanya ke data Statistik daerah lo.. mereka pasti punya lengkap. wasalam Budi R 2008/7/3 Bong Sau Liong <sap.finance06@ sankencorp. com>: Mas budi, klo daerah yang angka kemiskinannya paling tinggi dimana ya? apakah ada info? Budi Rahayu wrote: Rabu, 2 Juli 2008 Kalbar Tetap Termiskin di Kalimantan Pontianak,- Kalimantan Barat memiliki jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan sebanyak 508,8 ribu orang. Kondisi tersebut mempertahankan posisi provinsi ini sebagai daerah termiskin di Pulau Kalimantan. "Ini posisi pada Maret 2008. ada penurunan dari Maret 2007 yang berjumlah 584,3 ribu orang. Berarti berkurang sekitar 75,5 ribu atau menurun 12,92 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik Kalbar Nyoto Widodo di Pontianak Selasa (1/7). Data BPS Kalbar menunjukan, persentase penduduk miskin periode Maret 2007 ke Maret 2008 menurun sekitar 12,92 persen. Pada periode tahun 2007 ke tahun 2008 jumlah penduduk miskin turun dari 584,3 ribu orang menjadi 508,8 ribu orang. Hal ini berarti bahwa jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 75,5 ribu orang. Di Kalbar, garis kemiskinan sebesar Rp158.834 per kapita per bulan dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 508,8 ribu orang dan tingkat kemiskinan mencapai 11,07 persen. Indeks kedalaman kemiskinan di Kalbar sebesar 1,66 dan indeks keparahan kemiskinan 0,42. Di Kalteng, garis kemiskinan sebesar Rp186.003 perkapita perbulan dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 200 ribu jiwa dan tingkat kemiskinan mencapai 8,71 persen. Di Kalsel, garis kemiskinan sebesar Rp180.263 perkapita perbulan dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 218,9 ribu jiwa dan tingkat kemiskinan mencapai 6,48 persen. Di Kaltim, garis kemiskinan sebesar Rp237.979 perkapita perbulan dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 286,4 ribu jiwa dan tingkat kemiskinan mencapai 9,51 persen. Sementara Indonesia, garis kemiskinan sebesar Rp182.636 perkapita per bulan dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 34,96 juta orang dan tingkat kemiskinan sekitar 15,42 persen. "Ini kondisi sebelum pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak. Saat ini sedang dilakukan pendataan di lapangan untuk melihat kondisi kemiskinan masyarakat setelah kebijakan pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak. Hasilnya akan diumumkan pada awal Januari 2009," jelas Nyoto. Menurut dia, penurunan jumlah penduduk miskin yang cukup pesat terjadi di perdesaan, yaitu dari 440,20 ribu orang pada Maret 2007 menjadi 381,3 ribu orang pada Maret 2008. Jumlah itu berkurang sekitar 58,9 ribu orang, sementara di perkotaan berkurang 16,6 ribu orang yaitu dari 144 ribu orang pada 2007 menjadi 127,5 ribu orang tahun 2008. Garis kemiskinan pada 2007 sebesar Rp142.529 perkapita per bulan selanjutnya tahun 2008 meningkat menjadi Rp158.834. Peranan pengeluaran makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan pengeluaran bukan makanan. Nyoto menjelaskan, garis kemiskinan Maret 2008, provinsi yang berbatasan dengan Malaysia ini masih terendah di regional Kalimantan. Jumlah dan persentase penduduk miskin juga masih tinggi. Kondisi ini sama dengan tahun sebelumnya. (mnk) ________________________________ Nama baru untuk Anda! Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. Cepat sebelum diambil orang lain! ___________________________________________________________________________ Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga. http://id.toolbar.yahoo.com/
