Sumber : www.kompas.com
 
Kompas/Ingki Rinaldi
Tjhin Nen Sin
/Selasa, 2 Desember 2008 | 00:40 WIB
Oleh Ingki Rinaldi

Tidak mudah mempertahankan seni tradisi di tengah derasnya arus modernisasi. 
Akan tetapi, Tjhin Nen Sin (66) membuktikan, untuk mempertahankan wayang 
gantung, semangat bajanya tak luntur selama 30 tahun. Selama itu pula ia 
bertempur menghadapi siaran televisi dan radio yang menjadi magnet baru 
industri hiburan, termasuk di pedesaan.

Tjhin Nen Sin adalah pewaris terakhir kesenian wayang gantung di Kota 
Singkawang, Kalimantan Barat, dan bahkan di Indonesia. Akan tetapi, sayang, 
khazanah wayang gantung tidak tercatat dalam buku Peta Wayang di Indonesia 
(1993) dan juga di Direktori Seni Pertunjukan Tradisional (1998/1999).

Sekitar 30 tahun silam, sejumlah kelompok kesenian di Singkawang yang juga 
memainkan wayang gantung mengambil keputusan radikal. Mereka menjual 
wayang-wayang yang terbuat dari kayu ”chong su” tersebut ke Singapura. Sebab 
order pentas sepi. Kala itu, televisi dan radio muncul sebagai magnet hiburan 
baru bagi masyarakat dan mengambil peran wayang gantung sebagai penyampai pesan.

”Saya mempertahankan wayang gantung kepunyaan saya karena menginginkan anak 
keturunan saya punya kebanggaan bahwa mereka punya warisan budaya,” kata Tjhin 
Nen Sin dalam bahasa China dialek Kek yang diterjemahkan Tai Siuk Jan, 
istrinya. Mulai saat itulah Tjhin Nen Sin mengandalkan panggilan untuk 
berpentas bersama sekitar 20 koleksi wayang gantungnya.

Pentas di berbagai kota

Sejumlah kota di Indonesia, seperti Semarang, Surabaya, dan Jakarta, kerap 
disinggahi Nen Sin untuk mementaskan wayang gantung. Bersama sekitar sembilan 
anggota kelompoknya, termasuk istrinya, Nen Sin terus berpindah dari satu 
pentas ke pentas lain.

Nen Sin adalah generasi keempat keturunan pembawa wayang gantung ke Singkawang. 
Nen Sin hanya sempat mengecap pendidikan dasar bernama Cung Cin Hok Kau di 
Singkawang. Itu pun tidak tamat, hanya sampai kelas dua.

Sebagai bungsu dari sembilan bersaudara, Nen Sin kecil kemudian menghabiskan 
waktu membantu orangtuanya menyadap karet dan menanam padi. Pada usia 15 tahun, 
orangtua Nen Sin mendatangkan dua orang suhu (si fu) wayang gantung dari 
Kabupaten Sambas dan Pontianak, untuk mengajari Nen Sin. Mereka adalah Chai 
Piang Shiu dan Ho Lin Fu, yang setiap malam mulai pukul 19.00 mengajari Nen Sin 
memainkan wayang gantung.

”Setiap kali belajar sekitar dua jam. Jika capek, ya istirahat, tidur,” kata 
Nen Sin, kali ini diterjemahkan oleh anaknya yang keenam, Tjhin Khui Jan. Hanya 
dalam tempo setahun, Nen Sin sudah mahir dan diperbolehkan bergabung sebagai 
pemain pemula.

Namun, sebelum berpentas, sejumlah ritual perlu dilakukan. Di antaranya, 
sejumlah tokoh wayang gantung yang hendak dimainkan lebih dulu harus 
dibersihkan menggunakan jengger ayam.

Lantas, bagian mulut wayang gantung yang bisa digerak-gerakkan dilumuri darah 
ayam. ”Tetapi, sesajian darah ini tidak mutlak, tergantung tempatnya. Kalau 
untuk pentas di kota-kota cukup dengan mantra-mantra,” kata Nen Sin. Jika 
ritual itu tidak dilakukan, Nen Sin percaya pentas pasti gagal. Entah benang 
pada bagian-bagian tubuh wayang gantung yang kusut atau hambatan lainnya.

Setiap kali pentas, yang didukung penampilan sejumlah alat musik, lakon dan 
jalan cerita selalu disesuaikan dengan pengundang. Misalnya, pentas di acara 
ulang tahun, maka jalan ceritanya adalah nasihat soal umur dan kebajikan. 
Sumbernya berbagai karya sastra China klasik.

Durasi pentas biasanya sekitar tiga jam. Pergelangan tangan Nen Sin biasanya 
jadi satu-satunya bagian tubuh yang menyembul dari balik dekorasi latar 
belakang pentas untuk menggerakkan wayang gantung lewat jalinan 
benang-benangnya.

Honor yang diperolehnya tidak bisa dibilang cukup. Besarnya honor pentas 
tergantung jarak. Sebagai ilustrasi, untuk pentas di sekitar Singkawang, Nen 
Sin mematok harga Rp 2,6 juta, yang dibagi rata untuk seluruh anggota 
kelompoknya. Jumlah itu tentu saja belum bisa mencukupi hidup sehari-hari. 
Karena itu pula, Nen Sin tetap bertani. Terlebih lagi panggilan untuk pentas 
tidak bisa dipastikan ada dalam setiap bulan. Nen Sin pun terus melanglang 
pentas, sekalipun dalam jumlah sangat terbatas.

Rumah terbakar

Di tengah kerja kerasnya untuk melestarikan wayang gantung, dia pun harus 
menerima tatkala bencana datang pada awal Agustus 2008. Saat itu, Nen Sin 
bersama istri dan kelompok keseniannya tengah berpentas di Festival Bercerita 
ASEAN 2008 yang digelar di Bentara Budaya Jakarta.

Suatu malam, rumah Nen Sin di Dusun Gunung Besi, Desa Sedau, Kecamatan 
Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalbar, ludes terbakar. ”Kejadian sekitar 
pukul 01.00 dini hari. Waktu itu di rumah ada dua adik saya, istri saya, dan 
anak saya. Saya sedang mengambil sayur untuk berjualan. Ketika pulang, rumah 
sudah habis terbakar,” kata Tjhin Kui Jan, anak Nen Sin.

Namun, belasan koleksi wayang gantung Nen Sin yang merupakan warisan dan ada 
yang dibuat langsung di China tidak ikut terbakar. Kata Lay Shau Cung, tokoh 
warga Kampung Jam Thang, Kaliasin, Sedau, yang jadi penghubung dengan Nen Sin, 
wayang-wayang gantung itu ”meminta” pertolongan pada orang sekitar.

”Ada orang di sekitar rumah itu yang merasa dipanggil-panggil agar mengeluarkan 
wayang- wayang gantung tersebut,” kata Shau Cung. Maka, tidak kurang 20 koleksi 
wayang gantung yang selalu dipreteli bagian-bagian tubuhnya saat hendak 
bepergian itu pun luput dari amukan si jago merah. Namun, tidak bagi rumah Nen 
Sin.

Akibatnya, kini Nen Sin dan istrinya harus menumpang di rumah menantu mereka, 
Chong Kun Fat, di sebuah rumah sederhana di Dusun Sedau Pasar, Desa Sedau.

Runyamnya lagi, beberapa hari sebelum musibah itu, Pemerintah Kota Singkawang 
berjanji menjadikan rumah Nen Sin sebagai pusat informasi dan kegiatan wayang 
gantung. Dengan begitu, kemungkinan ada pihak- pihak di luar yang tertarik 
mempelajari wayang gantung bisa langsung difasilitasi, mengingat tidak ada satu 
pun dari sembilan anak Nen Sin yang mau mewarisi keahlian memainkan wayang 
gantung.

”Saya sedih, anak saya tidak ada yang mau meneruskan,” kata Nen Sin. Tjhin Khui 
Jan, sang anak, punya alasan mengapa ia dan saudara lainnya tidak mau 
meneruskan jejak ayahnya. ”Sekarang, kan sudah tidak ramai lagi (permintaan 
pentas). Saya sekarang berdagang sayur,” katanya. Alhasil, nasib wayang gantung 
kini bergantung pada sosok Tjhin Nen Sin.


Biodata

Nama: Tjhin Nen Sin

Lahir: Singkawang, 6 Juli 1942

Pendidikan: Cung Cin Hok Kau (setingkat SD di Singkawang, hanya sampai kelas II)

Istri: Tai Siuk Jan

Anak: 9 orang

<<005950p.jpg>>

Kirim email ke