Bravo.... bravo... aparat kepolisian, bapak2 Herman Buching, Bong Cing Nen dan 
Noreseng Yosef dan masyarakat Singkawang yg membuat pagar betis mengelilinggi 
patung naga. Terima kasih banyak. Doa dan dukungan saya akan selalu bersama 
kalian.

Tadinya saya tidak peduli apakah patung naga itu dibongkar atau tidak. Tetapi 
setelah "keramaian" hari Jumaat ini, saya berpendapat (sikap saya) patung naga 
ini harus dipertahankan.
Kalau hiasan sebuah PATUNG aja mau dirobohkan secara kekerasan - what next? 
kuil? gereja? dsb.

Sudah bukan masanya utk memaksakan kehendak melalui penggerakan massa, melalui 
kekerasan dan konflik. Kan ada proses hukumnya. Kalo terjadi anarki atau 
pengrusakkan, yg harus di seret, di proses hukum dan diusir adalah mereka yg 
mengimbau utk beramai-ramai ke lokasi pembangunan patung naga. Yg menganggu 
kerukunan umat beragama itu siapa? Patung atau mereka ini?

Mudah2-an yg ingin merobohkan patung naga itu adalah sarjana2. Sebagai seorang 
sarjana, seharusnya mencari tahu dulu apa artinya sebuah hiasan patung naga. 
Kalau tidak ngerti, sebagai seorang sarjana, seharusnya cari tahu dulu, seperti 
bertanya ke bapak Simon Takdir.

Sudah waktunya penduduk kota Singkawang untuk bangkit dan melawan mereka yang 
cuma tahu menyelesaikan perbedaan pendapat atau persoalan melalui jalan 
kekerasan dan konflik - terutam melawan mereka yg cuma numpang tinggal di kota 
Singkawang ( Kalbar pada umumnya), yg maunya hanya untuk merusak kerukunan 
hidup antara tiga suku terbesar di Kalbar.

Can we get along????

Clement

--- On Sat, 12/6/08, United Singkawang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: United Singkawang
 <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Singkawang] [Equator] Ricuh Patung Naga, Nyaris Bentrok
To: [email protected]
Date: Saturday, December 6, 2008, 3:23
 AM










    
            Sabtu, 06 Desember 2008 , 12:08:00
            Ricuh Patung Naga Singkawang
Dua Kelompok Massa Nyaris Bentrok


         
                        
                                                                                
        
                                    
                                
Kerumunan
warga memenuhi perempatan Jalan Niaga dan Kempol Mahmud guna
menyaksikan aksi pembongkaran patung naga, Jumat (5/12) siang.
Pembangunan patung di fasilitas umum memicu konflik. Isu agama merembes
masuk. Simbol estetika kota pariwisata bercampur politis.



Singkawang. Gara-gara pembangunan Patung Naga di perempatan Jalan Niaga
dan Jalan Kempol Mahmud Kota Singkawang, dua kelompok massa nyaris
bentrok, Jumat (5/12) kemarin. Polisi bertindak cepat, bentrokan bisa
dihindari. Pembangunan Patung Naga untuk sementara dihentikan.


Ketegangan berawal dari rencana Front Pembela Islam (FPI), Front
Pembela Melayu (FPM) dan Aliansi LSM Perintis Singkawang ingin
merobohkan patung naga usai salat Jumat, kemarin. Mereka mendatangi
tempat Patung Naga yang belum selesai dibuat itu. Aksi ini mengundang
ribuan warga dari penjuru Kota Singkawang dan sekitarnya untuk
menyaksikan rencana merobohkan patung tersebut.


Massa dari berbagai elemen mulai berdatangan dan memadati teras ruko di
sekitar TKP sejak pukul 11.00. Mereka langsung membuat pagar betis
mengelilingi Patung Naga itu. Pihak Polres Singkawang di-back up Kompi
I Pelopor Brimob langsung mengamankan situasi.


Puncak konsentrasi massa yang sempat melumpuhkan arus lalu lintas itu
terjadi ketika rombongan FPI, FPM dan Aliansi tiba mengendarai pick up
dilengkapi sound system serta poster bertuliskan aspirasi. Hanya saja
di perempatan Jalan Sejahtera, iring-iringan massa ini dihadang Pasukan
Huru Hara Brimob yang menggunakan tameng, rotan dan senjata laras
panjang.


Blokade aparat dan kerumunan massa yang membuat pagar betis semakin
menghambat pergerakan rombongan yang hendak membongkar patung naga
setinggi lima meter tersebut. 

Di sela-sela usaha menerobos blokade, orator FPI meneriakkan tuntutan
dan unek-uneknya. Mereka secara tegas meminta penghentian dan
pembongkaran patung naga. Alasannya, belum memiliki izin dari instansi
terkait, menyalahi peraturan dan berada di tengah-tengah ruang publik.
"Seret dan proses hukum pengusaha Benny Setiawan yang mendanai
pembangunan, " seru para pria bersorban dan berkopiah tersebut.


FPI yang mencapai ratusan orang juga mendapat umpatan dan cacian dari
massa yang tidak dikenali identitasnya. "Ayo! Masuk kalau berani.
Silakan terobos," teriak sekelompok pemuda yang berbaju lusuh tersebut.
Mengantisipasi adu fisik dengan sigap aparat keamanan melokalisir dan
mengusir para pemuda yang bersuara lantang tersebut.


Sementara kelompok lain, terkonsentrasi di sekitar patung naga. Mereka
yang berjarak hanya lima meter dari patung naga antara lain Ketua III
DAD Singkawang Herman Buhing, anggota DPRD Bong Cing Nen dan Noreseng
Yosef.


Karena tidak mengajukan surat pemberitahuan, Waka Polres Singkawang
Kompol Ridwansyah memerintahkan Aliansi LSM Perintis dan FPM
membubarkan diri. Sedangkan FPI bertahan hingga pukul 15.00 sesuai izin
yang diberikan. Massa mulai meninggalkan TKP sekitar pukul 14.30
setelah diarahkan petugas untuk pulang. Masyarakat tidak hanya sekadar
menonton dari jalan. Sebagian bersusah payah mengabadikan momen langka
tersebut dengan handy cam, telepon selular dan kamera dari ketinggian
ruko. 


Setelah berkoordinasi dengan Polres Singkawang, Ketua DPW FPI
Singkawang Yudha R Hand bersama FPM dan Aliansi LSM Perintis menggelar
pertemuan di Kantor Pemkot Singkawang. Walaupun diminta untuk hadir,
Wali Kota Singkawang Hasan Karman berhalangan. 


Demi kondusivitas Singkawang, akhirnya Polres memerintahkan penghentian
sementara pembangunan patung naga di persimpangan Jalan Kempol
Machmud-Niaga Singkawang. Karena nihil kesepakatan dan keputusan
tertulis dari Pemkot dan para demonstran, pertemuan akan dijadwalkan
kembali. Dari Pemkot tampak hadir Asisten Kebijakan Pemerintahan Sofyan
Fachri, Kadis Perhubungan Yohanes Urip, Kadis Tata Kota Agus ArifinĀ 
dan Kadis PU Sueb A Hamid.


Sekjen Aliansi LSM M Syaifuddin menyatakan telah melaporkan donator
pembangunan patung naga Beny Setiawan terkait pengrusakan fasilitas
umum. Senada dengan itu, Yudha menolak tegas pembangunan patung naga di
fasilitas umum. Sebaliknya, memberi toleransi di rumah ibadah. 


"Demi keamanan, terpaksa pembangunan patung naga dihentikan sementara.
Dari hasil pembicaraan Kapolres AKBP Parimin Warsito dengan Beny
Setiawan akhirnya disepakati untuk dihentikan," ujar Kasat Reskrim
Polres Singkawang AKP Sarjono SH. 


Sementara itu, di tempat terpisah Ketua DAD Singkawang Aloysius Kilim
menyatakan, mendukung penuh pembangunan yang digagas pemerintah.
Keamanan diserahkan sepenuhnya kepada kepolisian dan TNI. "Pernyataan
sikap ini sudah melalui rapat pengurus DAD," ungkapnya.


Patung naga menurut salah satu warga, Arnol Madasahar sebuah karya seni
yang dihasilkan kebudayaan manusia dan setara dengan karya lainnya.
"Lebih baik kita saling mawas diri dan saling berkomunikasi demi
tatanan kehidupan masyarakat plural yang harmonis, berbudaya dan
bermartabat, " tukasnya. 


Polemik pendirian patung naga di tengah kota sudah dua kali terjadi di
Singkawang. Pada tahun 2002, duet pengusaha Beny Setiawan dan Iwan
Gunawan juga gagal merealisasikan pembangunan patung naga karena
penolakan massa. 


Naga sebetulnya telah sering dijadikan sebagai ciri khas Kota
Singkawang. Event sepak bola antar klub se-Kalbar saja menggunakan nama
piala naga. Klub sepak bola Singkawang (Persiwang) pun berjuluk
'ksatria naga'. Dalam karnaval juga sering dimunculkan festival naga
dan lainnya.


Dari pantauan Equator, di perempatan Jalan Niaga dan Kempol Mahmud pada
Jumat malam semua telah berjalan normal dan lancar. Seluruh masyarakat
sudah beraktivitas dengan normal. "Masyarakat Singkawang haus hiburan
sehingga berbondong-bondong menyaksikan rencana merobohkan patung
naga," beber Aktivis Gemawan Kalbar Agus Sutomo mengomentari fenomena
membanjirnya ribuan massa yang terkonsetrasi. (man) 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke