Hehehe... lucu juga. Saya malah gak suka dipanggil ibu padahal udah punya anak 
dua, kayaknya berasa udah tua aja seperti ibu saya. Mending dipanggil mbak deh. 
Dulu waktu masih ngajar, saya malah minta dipanggil mahasiswa/i saya dengan 
nama saja, gak pake embel2 ibu atau mbak biar serasa sama mudanya .  

"Lusiana M. Hevita" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                  Nona Vs Nyonya
   
    Salah satu yang sempat membuat sebal begitu mendapat jabatan baru adalah, 
orang-orang dan teman-teman di kantor yang biasa memanggil saya dengan sebutan 
Mbak, berubah jadi Ibu. Pertama, sebal karena seolah-olah saya jadi berjarak 
dengan teman-teman saya itu; kedua, sebal karena saya ngerasa belum cukup 
‘tuaEkayak ibu-ibu *sewot*; ketiga, pasaran bisa turun dong.. padahal saya kan 
masih single gitu loh hihihi.
   
  Padahal, sebutan Ibu atau Bu, sebenarnya sudah sangat akrab di telinga sejak 
saya masih SMA malah. Tepatnya sejak saya memutuskan untuk berkerudung. Yah, 
bisa dimaklumi sih kalau perempuan berkerudung or jilbab cenderung mirip 
ibu-ibu (meski umur masih 17 tahun ;). Sebutan itu biasa dipakai oleh kenek, 
“tunggu..tunggu ibu-ibu yang turun,Eatau “ongkosnya Bu,Eatau oleh abang-abang 
yang jualan kayak, “nyari apa, Bu,Eatau “ini aja Bu, barang baruE 
WelehEaling ogah deh dengernya.
   
  Di daerah saya masih mendingan sih, supir angkot lebih sering nyebut saya 
“eneng,Eatau kalo angkot deket-deket kampus nyebut saya,”kakak,Elumayan 
lahETapi, satu hal yang bikin saya mau nggak mau kudu ridho dipanggil Ibu 
adalah saat saya harus mengajar di kelas. Wuih, masak sih saya tetep maksa 
mereka manggil saya Embak. Nggak enak dan risih ajaEDipanggil Ibu aja, 
mahasiswa saya yang cowok masih suka agak-agak kurang ajar. Misalnya mereka 
jadi ribut kalau ada satu mahasiswa mendapat perhatian lebih dari sayaEdasar 
anak-anak ya :))
   
  Waktu mondar-mandir di bagian migrasi baik di dalam maupun luar, sebutan 
“MissEsering saya tekankan. Biar mereka tahu kalau saya masih single. Eh tapi 
ujung-ujungnya malah saya pernah diinterograsi dengan pertanyaan, “datang 
dengan siapa?Elt;SPAN style="mso-spacerun: yes">  Begitu saya jawab dengan 
teman, eh malah senyum-senyum simpul, “friend?Edia pikir seorang perempuan 
berjilbab nggak boleh jalan sendiri bareng temen apa? Atau mereka sudah kadung 
memahami bahwa perempuan berjilbab kalau pergi jauh harus bersama mahramnya? 
Entahlah.. yang jelas petugas yang satu ini perempuan berwajah India dan cukup 
tegas (baca:galak). Sepanjang jalan akhirnya mikir juga, memang seharusnya (dan 
idealnya) saya jalan bersama mahramEsemacam suami begitu kali yaED
   
  Tapi itu dulu, sekarang saya menikmati sebutan Ibu. Malah kok jadi bangga ya, 
berasa lebih terhormat, menurut saya lhoE Dengan embel-embel ibu di depan 
nama, kok jadi merasa sering diingatkan bahwa sikap dan perilaku saya harus 
mencerminkan seorang IbuE*uhuk-uhuk* (itung-itung latihan sampe sebutan itu 
nggak cuma sekedar gelar semata hihihiEiks)
   
  Have a nice day!








    
---------------------------------
  Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.  

 
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get 
things done faster.

Kirim email ke