Noon Coffee Break
Dulu saya suka sekali dengan hujan, dan musim hujan selalu mengingatkan
pada peristiwa-peristiwa berkesan di masa kecil, waktu masih tinggal sama kakek
nenek di desa pinggiran Yogya. Ya main hujan-hujanan; menghanyutkan perahu
kertas di saluran air depan rumah sambil terus mengikuti jalannya sampe jauh;
memerhatikan aneka katak di persawahan tempat kami, saya dan teman-teman biasa
bermain; bernyanyi sekencang-kencanganya nyaingin suara hujan di depan jendela
kamar; melihat pelangi; sampai saat abg, maen ciprat-cipratan air sama cowok
gacoan saya masa itu..ha..ha..ha.. Romantis ya
Dia emang anak yang bandel.
Selalu mengayuh kencang sepedanya di kubangan air pinggir jalan dan menciprati
saya dengan sengaja.
Saat SMA, saya masih bersahabat dengan hujan, meski tiap musimnya datang
harus ekstra hati-hati karena kalau tidak jilbab panjang menjuntai di kepala
saya serta kaus kaki bisa terkena percikan air yang meninggalkan warna
kecoklatan..wah keliatan jorok dan nggak keren kan? Hehehe
Dan ketika kuliah,
lagi-lagi saya masih sangat menyukai hujan. Pemandangan Kampus UI Depok yang
juga daerah resapan air serta hutan kota ini setelah hujan, seperti lukisan
alam yang catnya masih basah. Segar dan indah. Saya bahkan selalu bisa melihat
keindahan itu saat memejamkan mata *duilecintabangetyak*
Kata orang, hujan membuat suasana romantis, dan emang iya *suiitsuitt*. Saya
selalu ingin melukiskannya meski nggak pernah bisa (yang ada cat malah jadi
bleber nggak karuan :( Kata guru ngaji saya, hujan yang turun adalah Rahmat,
berkah bagi alam. Malaikat turun bersama tetesan-tetesan air hujan dan membantu
menghidupkan bumi yang kering dan hampir mati jadi hijau lagi. Ustadz saya
mengajarkan untuk memanjatkan doa ketika melihat hujan lebat, sesuatu yang juga
diajarkan Nabi. Konon doa lebih makbul saat itu.
Dan kemarin, baru saja saya ingin kembali menikmati hujan, bahkan saat
terjebak macet sekalipun, juga saat harus berbasah kuyub. Tapi saat kemudian
jadi musibah banjir yang luar biasa, bagaimana menikmatinya??? Hujan membuat
banjir yang menenggelamkan rumah. Tak terhitung berapa harta dan nyawa yang
jadi korban. Ribuan anak-anak dan para orang tua mengungsi tanpa bekal apapun.
Sudah basah, tak ada baju ganti, kedinginan tidak ada selimut, kelaparan, haus,
dan ancaman penyakit. Sederet penderitaan menanti. Memikirkannya saja sampai
sesak, apalagi mengalaminya sendiri? :((((
Tapi hujan rasanya, (seperti juga musibah alam yang lainnya, seharusnya) tak
pernah kehilangan berkahnya. Kalau dulu dia menghidupkan dan menyuburkan tanah
yang kering dan hampir mati, sekarang semoga bisa menghidupkan hati kita yang
kurang peka, kering dan hampir mati ya
Masih sedikit yang bisa kita lakukan
untuk menolong bahkan sekedar berempati. Masih jauh dari kewajiban sebagai
sesama manusia yang seharusnya turun tangan dan langsung membantu meringankan.
Jika malaikat turun ke bumi bersama tetesan-tetesan hujan, semoga para
malaikat itu kali ini (atas izin Allah) membantu menenangkan dan menguatkan
hati saudara-saudara kita yang terkena banjir ya
Amiiin.
Ps. guys, sudah pernah nonton film (dvd) an inconvenient truth? Isinya soal
pemanasan global. Sangat recommended untuk ditonton, moga2 kita bisa lebih
aware dengan lingkungan. (kalo ada yang mau pinjem, saya ada tuh :D) or bisa
diliat di http://imdb.com/title/tt0497116/usercomments?start=220
---------------------------------
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question
on Yahoo! Answers.