iya, anak saya yang pertama pake baby walker, jalan pas umur 10 bulan
  anak kedua saya gak pake, jalannya juga pas umur 10 bulan
  sama aja
   
  tapi menurut gw sih gpp pake baby walker soalnya dulu cukup ngebantu juga 
  buat gw. gw ngerjain pekerjaan rt en anak gw sibuk maen di baby walkernya 
yang ada bunyi2an/musik gitu. so tergantung kitanya juga !

Papa Bravo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Sorry ikutan ngebahas,...
   
  Hal bahaya atau tidak itu tergantung pengawasan orang tua.... anak saya pake 
baby walker,..
  biarpun begitu,.. tetap harus ada pengawasan,... bukannya di lepas saja...
  

 
  ----- Original Message ----
From: Noverto Aji Prasetyo <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, January 3, 2008 1:23:21 PM
Subject: [sma1bks] BABY WALKER TIDAK MEMBUAT BAYI CEPAT BERJALAN

       
    BABY WALKER TIDAK MEMBUAT BAYI CEPAT BERJALAN
  Selain rentan kecelakaan, penggunaan baby walker juga diduga dapat 
mengakibatkan kelainan kaki. 
  Berikut adalah petikan sebuah e-mail dari orang tua Indonesia yang tinggal di 
  Australia: Di sini baby walker sangat tidak direkomendasi penggunaannya 
karena banyak kecelakaan terjadi akibat penggunaan yang tidak diawasi dengan 
ketat. Dengan tidak adanya rekomendasi tersebut, otomatis barang ini jadi 
langka. Kalaupun ada yang beli dan sampai terjadi kecelakaan, konsumen enggak 
bisa menyeret produsen ke pengadilan (ibaratnya sudah tahu bahayanya, kok masih 
dipakai.. yah salah sendiri). Lagi pula kalau si anak udah siap jalan, dia akan 
jalan kok... malah baby walker bikin anak menjadi malas untuk berjalan.... . 
  Bunyi surat itu sangat pas mewakili kesadaran orang tua akan bahaya yang bisa 
ditimbulkan baby walker. Sayang, kesadaran orang tua di Indonesia akan keamanan 
baby walker yang kurang tampaknya masih minim. Nyatanya di sini baby walker 
masih saja digunakan, atau setidaknya produk ini masih banyak dijual di 
pasaran. Padahal, seperti dijelaskan dr. Karel A.L. Staa. M.D., dari Rumah 
Sakit Pondok Indah, Jakarta , kalau mau melirik kembali ke negara-negara barat, 
Amerika katakanlah, soal keamanan baby walker ini sudah menjadi ajang 
perdebatan seru sejak lama. 
  Sampai-sampai, desain "alat bantu" belajar jalan ini, tidak pernah sama dari 
tahun ke tahun dan diberi semacam masa "kedaluwarsa" oleh pihak pemerintahnya. 
Jika setelah diteliti, desainnya dianggap tidak cukup baik untuk bayi, anjuran 
pemakaiannya akan ditinjau kembali bahkan kalau perlu dihapuskan. Pada tahun 
1997, umpamanya, desain baby walker pernah diubah menjadi lebih besar dari 
ukuran sebelumnya dengan maksud agar benda itu tidak bisa menerobos pintu rumah 
 
  Sayang, ukuran yang diubah tersebut tetap tidak dapat mencegah terjadinya 
kecelakaan lain. Oleh karena alasan inilah akhirnya produksi baby walker di 
negeri Paman Sam tersebut dihentikan. "Sementara desain baby walker yang 
beredar di Indonesia merupakan desain kuno yang sebenarnya sudah ditinggalkan 
di negara asalnya," ujar Karel. Akhirnya, kecelakaan pada bayi yang sudah 
dialami beberapa tahun lalu di Amerika Serikat sampai kini masih terjadi di 
Indonesia. 
  TERKESAN PRAKTIS 
  Lalu kenapa alat bantu jalan ini tetap diminati? Menurut Karel karena baby 
walker secara sekilas terkesan praktis. Si kecil tinggal dimasukkan ke 
dalamnya, lalu ia pun bisa berjalan ke sana kemari dengan leluasa. Bagi bayi 
berusia 7-12 bulan yang sedang tidak bisa diam dan tengah melatih kemampuannya 
berjalan, baby walker merupakan penyelamat tenaga orang tua. Bukankah dengan 
begitu orang tua jadi tak perlu capek-capek menatih si kecil? 
  Apalagi di balik bahaya tersembunyi yang ada, baby walker tampak sebagai 
benda yang bermanfaat. Ketika bayi duduk atau berdiri dalam baby walker-nya, ia 
bisa menggerakkan kaki-kakinya dengan lincah. Jadilah orang tua berpikir, "Ah, 
kaki anakku jadi terlatih untuk bergerak. Ini kan baik untuk persiapan fase 
berjalannya! " Namun, alasan penggunaan baby walker yang paling utama biasanya 
berkaitan dengan upaya mengatasi keinginannya bergerak ke sana kemari. Dengan 
bisa bergerak leluasa ia menjadi lebih tenang dan tidak bosan. Sementara bagi 
orang tua, ketenangan si bayi memberi kesempatan kepadanya untuk mengurus 
berbagai pekerjaan rumah tangga tanpa harus mendampingi si kecil setiap saat. 
  RIBUAN KASUS 
  Kenyataannya, menurut penelitian di Amerika Serikat sekitar 14.000 kasus bayi 
masuk rumah sakit diakibatkan oleh kecelakaan saat menggunakan baby walker. 
Antara lain karena si kecil suka bereksplorasi ke setiap sudut rumah, komposisi 
roda yang tidak mendukung keamanan, komposisi rangka kurang kokoh, dan 
bentuknya yang membuat anak rentan jatuh. 
  Namanya juga bayi, tentu saja ia belum bisa mengenal situasi lingkungan; 
belum bisa membedakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau lantai, 
benda berbahaya atau aman. Inilah beberapa kecelakaan yang sering terjadi 
akibat penggunaan baby walker: 
  * Menggelinding di tangga 
  - kecelakaan ini kemungkinan besar mengakibatkan patah tulang dan luka serius 
pada kepala. 
  * Terkena benda panas 
  - ketika duduk dalam baby walker anak jadi bisa meraih benda-benda yang dapat 
membahayakan dirinya. Contohnya secangkir kopi panas di atas meja. 
  * Tenggelam 
  - tanpa disadari anak meluncur (dengan menggunakan baby walker-nya) ke dalam 
kolam renang, bath tub, atau toilet lalu tercemplung. 
  * Meraih obyek berbahaya 
  - dengan baby walker, anak lebih mudah meraih obyek berbahaya seperti 
gunting, pisau, atau garpu yang tergeletak di atas meja misalnya. 
  * Terjepit 
  - ketika melewati permukaan yang bercelah, kaki bayi bisa terjepit dan 
terkilir. Tangannya juga bisa saja terjepit saat meraih celah daun pintu. 
  Yang mengejutkan, penelitian menyatakan bahwa mayoritas kecelakaan baby 
walker terjadi ketika orang tua atau pengasuh sedang mengawasi anaknya. Mengapa 
demikian? Karena kita seringkali kalah cepat dengan kecepatan bayi dalam baby 
walker yang dapat meluncur lebih dari 1 meter dalam 1 detik. Untuk itulah baby 
walker sama sekali tidak aman untuk digunakan, meskipun di bawah pengawasan 
orang dewasa. 
  MENYEBABKAN KELAINAN KAKI 
  Karel masih menambahkan soal penggunaan baby walker yang dari sisi medis pun 
tidak cukup bermanfaat, malah cenderung merugikan. Soalnya, aktivitas motorik 
yang terjadi pada saat anak menggunakan baby walker hanya melibatkan sebagian 
serabut motorik otot saja, yaitu otot-otot betis. Padahal untuk bisa berjalan 
dengan lancar dan benar, fungsi otot paha dan otot pinggul juga perlu dilatih. 
  Kemampuan berjalan, lanjut Karel, merupakan salah satu keterampilan motorik 
kasar (gerakan yang dihasilkan oleh koordinasi otot-otot besar), yang umumnya 
harus sudah bisa dilakukan anak 1 tahun dengan toleransi waktu 3 bulan. Bila 
proses pelatihannya tidak benar maka akan membuat anak justru jadi lambat 
berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat stimulasi fisiknya maka 
perkembangannya pun semakin pesat. Bila dibarengi dengan asupan gizi yang 
seimbang, mungkin saja di usia 9-10 bulan bayi sudah bisa berjalan. 
  Jadi manfaat pemakaian baby walker tidak cukup membantu anak latihan 
berjalan. Di tempat berbeda Dra. Jacinta F. Rini, M.Si., dari e-psikologi. com, 
menambahkan, secara psikologis penggunaan baby walker memang tidak 
menguntungkan, "Secara psikologis baby walker akan membuat anak malas untuk 
belajar berjalan sendiri karena anak sudah keburu merasa enak bisa bergerak ke 
mana pun tanpa harus susah payah menjejakkan kakinya." 
  Penggunaan baby walker bahkan dicurigai bisa mengakibatkan kelainan kaki pada 
anak. Memang belum ada penelitian yang menunjang. Namun, kenyataan bahwa bayi 
duduk sambil mengangkang dalam baby walker&shy;nya diduga bisa menyebabkan 
kelainan tulang paha. Nah, berdasarkan pemahaman inilah, banyak ahli menduga 
penggunaan baby walker dapat menyebabkan anak berjalan seperti bebek alias agak 
mengangkang. 
  Terbiasa berjalan dengan baby walker juga bisa menimbulkan kelemahan 
otot-otot tungkai. Ketika diajarkan berjalan anak cenderung jatuh yang akhirnya 
sering membuatnya trauma dan tidak mau mencoba melakukannya lagi sehingga 
kemampuan berjalannya pun menjadi lebih lambat. 
  ALAMI LEBIH BAIK 
  Jadi menurut Karel, tinggalkan baby walker. Juga, ketimbang mencari-cari 
alternatif alat bantu jalan lainnya, ia lebih menyarankan agar si kecil diajak 
berenang, karena dengan begitu semua otot tubuhnya bergerak, dari otot kaki, 
lengan, dan leher. Kalaupun tidak, cara melatih anak berjalan yang terbaik 
adalah yang alami. "Sangat baik anak belajar berjalan secara alami karena dapat 
melatih 100 persen serabut motorik otot. Mulai otot betis, paha, maupun 
pinggul. Bila keseluruhan serabut otot dilatih maka anak bisa berjalan dengan 
lebih baik. Jadi secara medis lebih menguntungkan kalau kita pakai cara alami 
daripada cara penunjang." Meskipun si kecil harus jatuh bangun, anggaplah hal 
ini sebagai pelajaran dari pengalamannya sendiri. 
  Yang patut dicermati, sebaiknya latihan berjalan dilakukan dengan 
bertelanjang kaki. Cara ini akan melatih jari-jari kakinya agar lebih 
terkoordinasi. Tentu, lantainya pun harus bersih dari partikel atau benda yang 
dapat melukainya. Juga hindari lantai yang terlalu licin karena bisa membuatnya 
terpeleset yang mungkin saja membuat anak trauma dan takut dilatih berjalan. 
  TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN FISIK ANAK 
  S udah seharusnya, orang tua mengetahui tahap demi tahap proses perkembangan 
kemampuan fisik anak sehingga bila terjadi keterlambatan pertumbuhan kita bisa 
segera mendeteksinya. Berikut, perkembangan motorik kasar anak secara garis 
besar: 
  0 - 1,5 bulan: Sudah bisa mengangkat kepala sekitar 45 derajat. 
  1,5 - 3,5 bulan: Kemampuan mengangkat kepalanya meningkat sampai 90 derajat. 
Kemudian bila bayi didudukkan dengan disandarkan ke tubuh kita maka kepalanya 
harus sudah bisa tegak. 
  3,5 - 4,5 bulan: Sudah bisa mengangkat dadanya bila diposisikan tengkurap. 
Bayi pun sudah bisa melakukan tengkurap sendiri dan membolak-balik tubuhnya. 
  5 bulan: Bayi sudah dapat duduk dengan hanya ditopang punggungnya. 
  6 - 8 bulan: Sudah dapat duduk sendiri tanpa bantuan. Di usia ini pun 
kebanyakan bayi sudah mulai belajar merangkak. Namun, merangkak bukan merupakan 
tonggak perkembangan utama. Bila bayi tidak merangkak maka bukan suatu kelainan 
karena beberapa bayi yang tidak melaluinya terbukti mengalami perkembangan 
motorik yang normal. 
  7,5 - 10 bulan: Bayi sudah mulai berusaha belajar berdiri dengan berpegangan 
pada tepi meja atau kursi. Beberapa anak ada yang sudah mulai belajar berjalan 
dengan cara merambat maupun berjalan beberapa langkah. 
  12 - 15 bulan: Anak sudah bisa berjalan tanpa harus berpegangan. 

    Noverto Aji Prasetyo 
Sales Planner

PT Frisian Flag Indonesia
Jl. Raya Bogor Km. 5 Pasar Rebo
Jakarta 13760 
Phone  +62 (21) 8410945, 8400611 (ext. 245) 
Fax     +62 (21) 8410895, 8400225
  mailto:noverto. prasetyo@ frieslandfoods. co.id
www.frieslandfoods. co.id


   
This e-mail message has been scanned for Viruses and Content and cleared by 
NetIQ MailMarshal 

  



  
---------------------------------
  Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.  

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke