betul, saya sependapat sama magsi dan evida, ga semuanya yg kita  baca itu
bener deh, apalagi misalnya neh  posting blom pernah punya ato belum prnah
merasakan fase dimana anak belajar jalan,

ga ngaruh lah pake baby walker apa gak...itu smua cuam alat bantu koq, anak
gw juga skitar 11 bulan dah mulai blajar jalan walo masih tertatih2,,,bener
kata magsi,,yg  penting pengawasan nya , terutama di usia2
pertumbuhan...karna anak umur2 sgitu tuh banyak keingin tauannnya..
betul, saya sependapat sama magsi dan evida

ini milis sma1 apa ayahbunda sehh, ko jd ngebahas bginian pagi2....

hehehehehe

On 1/3/08, evida kartini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   iya, anak saya yang pertama pake baby walker, jalan pas umur 10 bulan
> anak kedua saya gak pake, jalannya juga pas umur 10 bulan
> sama aja
>
> tapi menurut gw sih gpp pake baby walker soalnya dulu cukup ngebantu juga
> buat gw. gw ngerjain pekerjaan rt en anak gw sibuk maen di baby walkernya
> yang ada bunyi2an/musik gitu. so tergantung kitanya juga !
>
> *Papa Bravo <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
>  Sorry ikutan ngebahas,...
>
> Hal bahaya atau tidak itu tergantung pengawasan orang tua.... anak saya
> pake baby walker,..
> biarpun begitu,.. tetap harus ada pengawasan,... bukannya di lepas saja...
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Noverto Aji Prasetyo <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Thursday, January 3, 2008 1:23:21 PM
> Subject: [sma1bks] BABY WALKER TIDAK MEMBUAT BAYI CEPAT BERJALAN
>
>
>  *BABY WALKER** TIDAK MEMBUAT BAYI CEPAT BERJALAN*
> *S**elain rentan kecelakaan, penggunaan baby walker juga diduga dapat
> mengakibatkan kelainan kaki.*
> Berikut adalah petikan sebuah *e-mail* dari orang tua Indonesia yang
> tinggal di
> Australia: *Di sini baby walker sangat tidak direkomendasi penggunaannya
> karena banyak kecelakaan terjadi akibat penggunaan yang tidak diawasi dengan
> ketat. Dengan tidak adanya rekomendasi tersebut, otomatis barang ini jadi
> langka. Kalaupun ada yang beli dan sampai terjadi kecelakaan, konsumen
> enggak bisa menyeret produsen ke pengadilan (ibaratnya sudah tahu bahayanya,
> kok masih dipakai.. yah salah sendiri). Lagi pula kalau si anak udah siap
> jalan, dia akan jalan kok... malah baby walker bikin anak menjadi malas
> untuk berjalan.... .*
> Bunyi surat itu sangat pas mewakili kesadaran orang tua akan bahaya yang
> bisa ditimbulkan *baby walker.* Sayang, kesadaran orang tua di Indonesia
> akan keamanan *baby walker *yang kurang tampaknya masih minim. Nyatanya di
> sini *baby walker* masih saja digunakan, atau setidaknya produk ini masih
> banyak dijual di pasaran. Padahal, seperti dijelaskan *dr. Karel A.L.
> Staa. M.D*., dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta , kalau mau melirik
> kembali ke negara-negara barat, Amerika katakanlah, soal keamanan *baby
> walker* ini sudah menjadi ajang perdebatan seru sejak lama.
> Sampai-sampai, desain "alat bantu" belajar jalan ini, tidak pernah sama
> dari tahun ke tahun dan diberi semacam masa "kedaluwarsa" oleh pihak
> pemerintahnya. Jika setelah diteliti, desainnya dianggap tidak cukup baik
> untuk bayi, anjuran pemakaiannya akan ditinjau kembali bahkan kalau perlu
> dihapuskan. Pada tahun 1997, umpamanya, desain *baby walker *pernah diubah
> menjadi lebih besar dari ukuran sebelumnya dengan maksud agar benda itu
> tidak bisa menerobos pintu rumah
> Sayang, ukuran yang diubah tersebut tetap tidak dapat mencegah terjadinya
> kecelakaan lain. Oleh karena alasan inilah akhirnya produksi *baby walker
> *di negeri Paman Sam tersebut dihentikan. "Sementara desain *baby walker *yang
> beredar di Indonesia merupakan desain kuno yang sebenarnya sudah
> ditinggalkan di negara asalnya," ujar Karel. Akhirnya, kecelakaan pada bayi
> yang sudah dialami beberapa tahun lalu di Amerika Serikat sampai kini masih
> terjadi di Indonesia.
> *TERKESAN PRAKTIS*
> Lalu kenapa alat bantu jalan ini tetap diminati? Menurut Karel karena *baby
> walker *secara sekilas terkesan praktis. Si kecil tinggal dimasukkan ke
> dalamnya, lalu ia pun bisa berjalan ke sana kemari dengan leluasa. Bagi bayi
> berusia 7-12 bulan yang sedang tidak bisa diam dan tengah melatih
> kemampuannya berjalan, *baby walker *merupakan penyelamat tenaga orang
> tua. Bukankah dengan begitu orang tua jadi tak perlu capek-capek menatih si
> kecil?
> Apalagi di balik bahaya tersembunyi yang ada, *baby walker *tampak sebagai
> benda yang bermanfaat. Ketika bayi duduk atau berdiri dalam *baby walker*-nya,
> ia bisa menggerakkan kaki-kakinya dengan lincah. Jadilah orang tua berpikir,
> "Ah, kaki anakku jadi terlatih untuk bergerak. Ini kan baik untuk persiapan
> fase berjalannya! " Namun, alasan penggunaan *baby walker* yang paling
> utama biasanya berkaitan dengan upaya mengatasi keinginannya bergerak ke
> sana kemari. Dengan bisa bergerak leluasa ia menjadi lebih tenang dan tidak
> bosan. Sementara bagi orang tua, ketenangan si bayi memberi kesempatan
> kepadanya untuk mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga tanpa harus
> mendampingi si kecil setiap saat.
> *RIBUAN KASUS*
> Kenyataannya, menurut penelitian di Amerika Serikat sekitar 14.000 kasus
> bayi masuk rumah sakit diakibatkan oleh kecelakaan saat menggunakan *baby
> walker*. Antara lain karena si kecil suka bereksplorasi ke setiap sudut
> rumah, komposisi roda yang tidak mendukung keamanan, komposisi rangka kurang
> kokoh, dan bentuknya yang membuat anak rentan jatuh.
> Namanya juga bayi, tentu saja ia belum bisa mengenal situasi lingkungan;
> belum bisa membedakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau lantai,
> benda berbahaya atau aman. Inilah beberapa kecelakaan yang sering terjadi
> akibat penggunaan *baby walker*:
> **** Menggelinding di tangga*
> - kecelakaan ini kemungkinan besar mengakibatkan patah tulang dan luka
> serius pada kepala.
> **** Terkena benda panas*
> - ketika duduk dalam *baby walker* anak jadi bisa meraih benda-benda yang
> dapat membahayakan dirinya. Contohnya secangkir kopi panas di atas meja.
> **** Tenggelam*
> - tanpa disadari anak meluncur (dengan menggunakan *baby walker*-nya) ke
> dalam kolam renang, bath tub, atau toilet lalu tercemplung.
> *** *Meraih obyek berbahaya*
> - dengan *baby walker*, anak lebih mudah meraih obyek berbahaya seperti
> gunting, pisau, atau garpu yang tergeletak di atas meja misalnya.
> *** *Terjepit*
> - ketika melewati permukaan yang bercelah, kaki bayi bisa terjepit dan
> terkilir. Tangannya juga bisa saja terjepit saat meraih celah daun pintu.
> Yang mengejutkan, penelitian menyatakan bahwa mayoritas kecelakaan *baby
> walker* terjadi ketika orang tua atau pengasuh sedang mengawasi anaknya.
> Mengapa demikian? Karena kita seringkali kalah cepat dengan kecepatan bayi
> dalam *baby walker* yang dapat meluncur lebih dari 1 meter dalam 1 detik.
> Untuk itulah *baby walker* sama sekali tidak aman untuk digunakan,
> meskipun di bawah pengawasan orang dewasa.
> *MENYEBABKAN KELAINAN KAKI*
> Karel masih menambahkan soal penggunaan *baby walker* yang dari sisi medis
> pun tidak cukup bermanfaat, malah cenderung merugikan. Soalnya, aktivitas
> motorik yang terjadi pada saat anak menggunakan *baby walker* hanya
> melibatkan sebagian serabut motorik otot saja, yaitu otot-otot betis.
> Padahal untuk bisa berjalan dengan lancar dan benar, fungsi otot paha dan
> otot pinggul juga perlu dilatih.
> Kemampuan berjalan, lanjut Karel, merupakan salah satu keterampilan
> motorik kasar (gerakan yang dihasilkan oleh koordinasi otot-otot besar),
> yang umumnya harus sudah bisa dilakukan anak 1 tahun dengan toleransi waktu
> 3 bulan. Bila proses pelatihannya tidak benar maka akan membuat anak justru
> jadi lambat berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat stimulasi
> fisiknya maka perkembangannya pun semakin pesat. Bila dibarengi dengan
> asupan gizi yang seimbang, mungkin saja di usia 9-10 bulan bayi sudah bisa
> berjalan.
> Jadi manfaat pemakaian *baby walker* tidak cukup membantu anak latihan
> berjalan. Di tempat berbeda *Dra. Jacinta F. Rini, M.Si*., dari
> e-psikologi. com, menambahkan, secara psikologis penggunaan *baby 
> walker*memang tidak menguntungkan, "Secara psikologis
> *baby walker* akan membuat anak malas untuk belajar berjalan sendiri
> karena anak sudah keburu merasa enak bisa bergerak ke mana pun tanpa harus
> susah payah menjejakkan kakinya."
> Penggunaan *baby walker* bahkan dicurigai bisa mengakibatkan kelainan kaki
> pada anak. Memang belum ada penelitian yang menunjang. Namun, kenyataan
> bahwa bayi duduk sambil mengangkang dalam *baby walker*­nya diduga bisa
> menyebabkan kelainan tulang paha. Nah, berdasarkan pemahaman inilah, banyak
> ahli menduga penggunaan *baby walker* dapat menyebabkan anak berjalan
> seperti bebek alias agak mengangkang.
> Terbiasa berjalan dengan *baby walker* juga bisa menimbulkan kelemahan
> otot-otot tungkai. Ketika diajarkan berjalan anak cenderung jatuh yang
> akhirnya sering membuatnya trauma dan tidak mau mencoba melakukannya lagi
> sehingga kemampuan berjalannya pun menjadi lebih lambat.
> *ALAMI LEBIH BAIK*
> Jadi menurut Karel, tinggalkan *baby walker*. Juga, ketimbang mencari-cari
> alternatif alat bantu jalan lainnya, ia lebih menyarankan agar si kecil
> diajak berenang, karena dengan begitu semua otot tubuhnya bergerak, dari
> otot kaki, lengan, dan leher. Kalaupun tidak, cara melatih anak berjalan
> yang terbaik adalah yang alami. "Sangat baik anak belajar berjalan secara
> alami karena dapat melatih 100 persen serabut motorik otot. Mulai otot
> betis, paha, maupun pinggul. Bila keseluruhan serabut otot dilatih maka anak
> bisa berjalan dengan lebih baik. Jadi secara medis lebih menguntungkan kalau
> kita pakai cara alami daripada cara penunjang." Meskipun si kecil harus
> jatuh bangun, anggaplah hal ini sebagai pelajaran dari pengalamannya
> sendiri.
> Yang patut dicermati, sebaiknya latihan berjalan dilakukan dengan
> bertelanjang kaki. Cara ini akan melatih jari-jari kakinya agar lebih
> terkoordinasi. Tentu, lantainya pun harus bersih dari partikel atau benda
> yang dapat melukainya. Juga hindari lantai yang terlalu licin karena bisa
> membuatnya terpeleset yang mungkin saja membuat anak trauma dan takut
> dilatih berjalan.
> *TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN FISIK ANAK*
> S udah seharusnya, orang tua mengetahui tahap demi tahap proses
> perkembangan kemampuan fisik anak sehingga bila terjadi keterlambatan
> pertumbuhan kita bisa segera mendeteksinya. Berikut, perkembangan motorik
> kasar anak secara garis besar:
> *0 - 1,5 bulan:* Sudah bisa mengangkat kepala sekitar 45 derajat.
> *1,5 - 3,5 bulan:* Kemampuan mengangkat kepalanya meningkat sampai 90
> derajat. Kemudian bila bayi didudukkan dengan disandarkan ke tubuh kita maka
> kepalanya harus sudah bisa tegak.
> *3,5 - 4,5 bulan:* Sudah bisa mengangkat dadanya bila diposisikan
> tengkurap. Bayi pun sudah bisa melakukan tengkurap sendiri dan
> membolak-balik tubuhnya.
> *5 bulan:* Bayi sudah dapat duduk dengan hanya ditopang punggungnya.
> *6 - 8 bulan:* Sudah dapat duduk sendiri tanpa bantuan. Di usia ini pun
> kebanyakan bayi sudah mulai belajar merangkak. Namun, merangkak bukan
> merupakan tonggak perkembangan utama. Bila bayi tidak merangkak maka bukan
> suatu kelainan karena beberapa bayi yang tidak melaluinya terbukti mengalami
> perkembangan motorik yang normal.
> *7,5 - 10 bulan: *Bayi sudah mulai berusaha belajar berdiri dengan
> berpegangan pada tepi meja atau kursi. Beberapa anak ada yang sudah mulai
> belajar berjalan dengan cara merambat maupun berjalan beberapa langkah.
> *12 - 15 bulan:* Anak sudah bisa berjalan tanpa harus berpegangan.
>  *Noverto Aji Prasetyo*
> Sales Planner
>
> PT Frisian Flag Indonesia
> Jl. Raya Bogor Km. 5 Pasar Rebo
> Jakarta 13760
> Phone  +62 (21) 8410945, 8400611 (ext. 245)
> Fax     +62 (21) 8410895, 8400225
> mailto:noverto. prasetyo@ frieslandfoods. co.id<[EMAIL PROTECTED]>
> www.frieslandfoods. co.id <http://www.frieslandfoods.co.id/>
>
> This e-mail message has been scanned for Viruses and Content and cleared
> by *NetIQ MailMarshal *
>
>
> ------------------------------
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! 
> Search.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping>
>
>
> ------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your 
> homepage.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs>
> 
>



-- 
regards,
Adji Pratomo
KPP Pratama Jakarta Kelapa Gading

Kirim email ke