Bolehlah.... Kalau fikiran temen saya.....yang seneng banget dengan gadget dan computer... dan masih bujang walau dah mau kepala 4... Dia punya Laptop 4.... 3 Windows base... 1 yang Mac.... tetep yang di Mac bisa di-switch ke Windows... karena cuma alasan dah familiar/get used dan 'nggak semua software bisa compatible the Mac...
Dia bilang: "So far semua yang berbasis Windows banyak di-incer virus.... Dari Outlooknya... Internet explorer... even MS Officepun kena.... Tapi Mac.... he.e.e.e.e.. Orang bilang.... makin tinggi kita... makin keras anginnya.... Dengan makin ngetop Windows... makin banyak yang pengen nyaingin...baik dengan cara positif.. maupun negatif...(kayak bikin virus buat barang2 MS..he..e.e.) Nah Mac kenapa sebagian bilang anti virus....he.e.e.e.e Karena masih belum tinggi amat.... kalau udah ada yang bisa ngejangkitin virus di Mac.... baru artinya Mac itu dah tinggi.....dan nyaingin MS.....he.e..e.e.e." Kayaknya omongan temen saya masuk akal....cukup logis... Dan suatu ketika... kejadian juga Mac kena virus... belum aja.... So.... anda yang nentuin..... Salam, Morry Infra +966-533214840 2008/10/8 Lusiana M. Hevita <[EMAIL PROTECTED]> > *Kata orang bijak, perbedaan antara orang yang sukses dengan orang > yang gagal adalah: orang yang sukses mengalami kegagalan jauh lebih banyak > dari orang yang gagal. Benarkah?*** > > > > Jawabannya: benar (sekali). Paling tidak itu yang didapat ketika membaca > buku The Apple Way. Buku ini memang bukan buku baru, tapi di Indonesia baru > diterjemahkan oleh group penerbit Erlangga, Esensi. Kesan pertama ketika > melihat buku ini hampir sama ketika melihat buku The IBM Way, The Trump Way, > The Toyota Way, The Google Story.., The Starbuck Experience. Pasti soal > kisah suksesnya, biasa ah... Tapi karena belakangan lagi tertarik dengan > perseteruan 'abadi' antara Bill (Gates) dan Steve (Jobs) akhirnya jadilah > buku itu menemani perjalanan Bekasi-Depok... :D > > > > Orang banyak terkagum-kagum dengan Apple. Ternyata dibalik kesuksesannya > siapa yang menyangka kalau otak di dalamnya adalah seorang perfectionist > sekaligus visioner sejati yang demi memuaskan pelanggan harus keluar masuk > pasar, survai berbagai produk rumah tangga yang ramah, efisien sekaligus > cantik dilihat. Tujuannya untuk ditiru (prinsip-prinsipnya) menjadi produk > Apple berteknologi tinggi. Yah, kira-kira kasarnya begitu. Pantas saja ya… > menggunakan Mac, sama mudahnya seperti menjalankan mesin pemanggang roti :p > (kira-kira inilah harapan Steve Jobs). > > > > Buat seorang perempuan yang lebih sering kena tuduhan gatek (padahal nggak > bener lho…;), sering merepotkan orang lain karena serangan virus mendadak di > PC, dan lain sebagainya masalah tipikal para pengguna Win OS; beralih ke Mac > memang jalan keluar yang gampang (selagi ada anggaran lumayan atau promo, > bahkan sukur-sukur suntikan dana dari pihak luar :p). Ungkapan hiperbolanya > adalah: komputer Mac ini seperti kado terindah (untuk para pengguna (dan > penggemar)nya, lebih-lebih yang merasa dirinya gatek ) yang dikirim lengkap > dengan kartu cantik bertuliskan: from Cupertino* with love…. Hehehe… > > > > Petunjuknya grafis sekali, penuh warna, cara kerja yang cuma drag and drop > plus… tidak perlu install hard drive ini itu, seperti kata penulisnya > (Jeffrey L. Cruikshank): isi komputer mac dilengkapi dengan hantu 'Casper' > dan 'Aladdin' (kok bukan Jin-nya ya?). Alias, apa mau kita biarkan komputer > ini melakukan dan memikirkannya sendiri (segampang itu??) > > > > Untuk menciptakan produk sangat ramah ini, pastinya nggak gampang. Saya > selalu merasa bersalah tiap kali meminta kemudahan ini itu ke programmer > pengembang software untuk urusan kantor – "kalau bisa, ada menu ini dan itu > ya..."; "Bisa ini dan itu, nggak?"; "Bisa terhubung langsung dengan > sistem ini, biar memudahkan pekerjaan itu…" Sang programmer, meski nggak > sampe manyun, pastinya rada sebel karena itu artinya pekerjaan itu akan > sulit dan makan waktu lama sementara pastinya ada deadline yang musti > dikejar. (software/aplikasi komputer yang semakin 'ramah' dan mudah > digunakan, semakin sulit dibuat, kan?) > > > > Sebagai perusahaan paling inovatif di dunia, menurut penulis, Apple > berkomitmen memberikan yang terbaik dan terdepan bagi para penggunanya. Dana > ratusan juta dolar mengalir ke litbangnya, angka yang fantastic untuk > perusahaan komputer saat itu karena berkali lipat angkanya dibanding dengan > perusahaan sejenis lainnya. Saya pikir, kok segitu 'gila'nya Apple dengan > riset ya? Tapi ya memang sih, untuk sebuah temuan baru, inovasi baru, > pastinya butuh dana yang besar untuk riset. (btw, riset itu seperti candu, > sekali kita melakukannya dan berhasil, rasanya pengen terus-terusan deh…:p) > > > > Jangankan untuk produk berteknologi tinggi macam Apple, menulis fiksi aja > butuh riset. Dan Brown perlu 'berkelana' di Eropa sebelum menuliskan Da > Vinci Code. Dan meski lulusan SD reyot, Andrea perlu kuliah di Perancis dan > keliling Eropa (meski untuk ini dia nggak sengaja riset), kalau nggak, mana > akan tercipta buku tetralogi itu. Hanya bermodalkan imajinasi saja? Bisa aja > sih, tapi jelas akan sangat beda 'rasanya' dan tentunya beresiko nggak laku. > > > > Pak Ismail Marahimin, dosen Penulisan Populer di FIB UI, pernah memberi > tugas membuat tulisan tentang suasana pasar. Untuk itu kami harus melakukan > pengamatan ke pasar (langsung) bagaimana suasana pagi, siang, sore dan > malamnya. Di karang-karang bisa sih, tapi tentu tidak memberikan kepuasan > karena banyak detail yang pastinya luput (dan Pak Ismail tau mana yang > ngarang dan mana yang pake survei beneran). Saya cuma dapet nilai standar, > soalnya nggak survei beneran sih… nyesel juga karena merasa membohongi > pembaca. Dan jadi garing tulisannya. Untuk yang satu ini saya jadi ingat > dengan buku karya Kuntowijoyo yang berjudul Pasar. Pas sekali deskripsinya, > dan hidup. > > > > Bedanya dengan fiksi, riset untuk fiksi kalaupun salah-salah dikit or > dikarang-karang dikit tidak akan fatal akibatnya. Tapi riset untuk sebuah > produk teknologi, salah dikit bisa fatal. Dalam buku ini disebutkan bahwa > ada beberapa kasus yang 'memalukan' buat Apple. Mulai dari sistem yang lelet > bin lemot, baterai yang mudah panas dan menimbulkan kebakaran, sampai > komputer yang meledak dan menghancurkan ruangan/rumah (kasus ini terjadi di > Jepang). Pendek kata, tidak sedikit kegagalan demi kegagalan menimpa > perusahaan ini. > > > > Kalau saya jadi Steve Jobs, mungkin akan melarikan diri dan menyepi ke > hutan saking malunya hehehe. Tapi hebatnya perusahaan yang sudah berhasil > ini, kegagalan tidak membuat jera. Produk yang bermasalah ini segera ditarik > dari pasaran, atau pelanggan menerima produk pengganti yang baru. Tidak > hanya itu, ada juga lho produk gagal Apple yang bernasib malang karena harus > dikubur hidup-hidup di dalam 'liang lahat' begitu melihat suasana pasar > sudah tidak mendukung lagi dan akan merugikan pelanggan. Konsekuensinya, > meski sekali lagi perlu melakukan riset yang makan waktu, produk baru yang > lebih canggih (lebih stabil dan lebih cantik) segera diluncurkan sebagai > penggantinya. (penulis membandingkan software lain yang sebenarnya sudah > jelas-jelas banyak bugs-nya tapi masih tetap diluncurkan ke pasaran :) > > > > Kesan bahwa perusahaan ini sangat mementingkan pelanggan sangat terasa. > Pembeli adalah raja, benar-benar diterapkan. Perusahaan mana yang paling > sering dikritik pedas oleh penggunanya selain Apple. Tapi kritik dan masukan > pengguna Apple adalah kekuatan perusahaan ini. Inilah gunanya Apple membuat > Apple Store dimana-mana. Sekedar untuk mendekati pelanggan, dan 'nguping' > tanggapan, kritik dan saran mereka untuk terus melakukan inovasi tiada > henti. Tidak heran kalau penggemar fanatiknya semakin banyak. Ingin > sukses? Ikuti lah cara-cara Apple! :) > > > > Have a nice day! > > > > *Cupertino, CA adalah markasnya Apple, sementara Microsoft bersemayam di > Redmond, WA. > > > ps. tulisan ini sama sekali tidak bermaksud promo, apalagi menyinggung para > pengguna non mac.... ;) > > >
