Usulan aja ... coba dech nonton "Pirates of silicon Valley" keluaran tahun 
1999. Difilm itu bener2 cerita jadul dan cupunya Bill Gates dan Steve Jobs, 
yang saling contek dan curi ide. Ternyata orang sukses bukan melulu orang yang 
inspiratif, akan tetapi bisa juga orang yang tukang copy dan penjiplak ide 
orang lain. Akan tetapi yang jelas adalah orang sukses adalah orang -orang yang 
punya visi dan buka pisi (PC) maksudnya....:P serta bekerja keras....

--- On Wed, 10/8/08, Morry Infra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Morry Infra <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [sma1bks] Noon Coffee Break: The Apple Way
To: [email protected]
Date: Wednesday, October 8, 2008, 5:15 AM










 






    
            Bolehlah....
 
Kalau fikiran temen saya.....yang seneng banget dengan gadget dan computer... 
dan masih bujang walau dah mau kepala 4... 
Dia punya Laptop 4....
3 Windows base... 1 yang Mac.... tetep yang di Mac bisa di-switch ke Windows... 
karena cuma alasan dah familiar/get used dan 'nggak semua software bisa 
compatible the Mac...
 
Dia bilang:
"So far semua yang berbasis Windows banyak di-incer virus....
Dari Outlooknya.. . Internet explorer... even MS Officepun kena....
 
Tapi Mac.... he.e.e.e.e..
 
Orang bilang.... makin tinggi kita... makin keras anginnya....
Dengan makin ngetop Windows... makin banyak yang pengen nyaingin...baik dengan 
cara positif.. maupun negatif...(kayak bikin virus buat barang2 MS..he..e.e. )
 
Nah Mac kenapa sebagian bilang anti virus....he. e.e.e.e
Karena masih belum tinggi amat.... kalau udah ada yang bisa ngejangkitin virus 
di Mac.... baru artinya Mac itu dah tinggi.....dan nyaingin MS.....he.e. 
.e.e.e."

Kayaknya omongan temen saya masuk akal....cukup logis...
 
Dan suatu ketika... kejadian juga Mac kena virus... belum aja....
 
So.... anda yang nentuin.....
 
Salam,
Morry Infra
+966-533214840

2008/10/8 Lusiana M. Hevita <[EMAIL PROTECTED] com>









Kata orang bijak, perbedaan antara orang yang sukses dengan orang yang gagal 
adalah: orang yang sukses mengalami kegagalan jauh lebih banyak dari orang yang 
gagal. Benarkah?

 
Jawabannya: benar (sekali). Paling tidak itu yang didapat ketika membaca buku 
The Apple Way. Buku ini memang bukan buku baru, tapi di Indonesia baru 
diterjemahkan oleh group penerbit Erlangga, Esensi. Kesan pertama ketika 
melihat buku ini hampir sama ketika melihat buku The IBM Way, The Trump Way, 
The Toyota Way, The Google Story.., The Starbuck Experience.  Pasti soal kisah 
suksesnya, biasa ah... Tapi karena belakangan lagi tertarik dengan perseteruan 
'abadi' antara Bill (Gates) dan Steve (Jobs) akhirnya jadilah buku itu menemani 
perjalanan Bekasi-Depok. .. :D

 
Orang banyak terkagum-kagum dengan Apple. Ternyata dibalik kesuksesannya siapa 
yang menyangka kalau otak di dalamnya adalah seorang perfectionist sekaligus 
visioner sejati yang demi memuaskan pelanggan harus keluar masuk pasar, survai 
berbagai produk rumah tangga yang ramah, efisien sekaligus cantik dilihat. 
Tujuannya untuk ditiru (prinsip-prinsipnya ) menjadi produk Apple berteknologi 
tinggi. Yah, kira-kira kasarnya begitu. Pantas saja ya… menggunakan Mac, sama 
mudahnya seperti menjalankan mesin pemanggang roti :p (kira-kira inilah harapan 
Steve Jobs).

 
Buat seorang perempuan yang lebih sering kena tuduhan gatek (padahal nggak 
bener lho…;), sering merepotkan orang lain karena serangan virus mendadak di 
PC, dan lain sebagainya masalah tipikal para pengguna Win OS; beralih ke Mac 
memang jalan keluar yang gampang (selagi ada anggaran lumayan atau promo, 
bahkan sukur-sukur suntikan dana dari pihak luar :p). Ungkapan hiperbolanya 
adalah: komputer Mac ini seperti kado terindah (untuk para pengguna (dan 
penggemar)nya, lebih-lebih yang merasa dirinya gatek ) yang dikirim lengkap 
dengan kartu cantik bertuliskan: from Cupertino* with love…. Hehehe…

 
Petunjuknya grafis sekali, penuh warna, cara kerja yang cuma drag and drop 
plus… tidak perlu install hard drive ini itu, seperti kata penulisnya (Jeffrey 
L. Cruikshank): isi komputer mac dilengkapi dengan hantu 'Casper' dan 'Aladdin' 
(kok bukan Jin-nya ya?). Alias, apa mau kita biarkan komputer ini melakukan dan 
memikirkannya sendiri (segampang itu??)

 
Untuk menciptakan produk sangat ramah ini, pastinya nggak gampang. Saya selalu 
merasa bersalah tiap kali meminta kemudahan ini itu ke programmer pengembang 
software untuk urusan kantor – "kalau bisa, ada menu ini dan itu ya...";  "Bisa 
ini dan itu, nggak?"; "Bisa terhubung langsung dengan sistem ini, biar 
memudahkan pekerjaan itu…" Sang programmer, meski nggak sampe manyun, pastinya 
rada sebel karena itu artinya pekerjaan itu akan sulit dan makan waktu lama 
sementara pastinya ada deadline yang musti dikejar. (software/aplikasi komputer 
yang semakin 'ramah' dan mudah digunakan, semakin sulit dibuat, kan?)

 
Sebagai perusahaan paling inovatif di dunia, menurut penulis, Apple berkomitmen 
memberikan yang terbaik dan terdepan bagi para penggunanya. Dana ratusan juta 
dolar mengalir ke litbangnya, angka yang fantastic untuk perusahaan komputer 
saat itu karena berkali lipat angkanya dibanding dengan perusahaan sejenis 
lainnya. Saya pikir, kok segitu 'gila'nya Apple dengan riset ya? Tapi ya memang 
sih, untuk sebuah temuan baru, inovasi baru, pastinya butuh dana yang besar 
untuk riset. (btw, riset itu seperti candu, sekali kita melakukannya dan 
berhasil, rasanya pengen terus-terusan deh…:p)

 
Jangankan untuk produk berteknologi tinggi macam Apple, menulis fiksi aja butuh 
riset. Dan Brown perlu 'berkelana' di Eropa sebelum menuliskan Da Vinci Code. 
Dan meski lulusan SD reyot, Andrea perlu kuliah di Perancis dan keliling Eropa 
(meski untuk ini dia nggak sengaja riset), kalau nggak, mana akan tercipta buku 
tetralogi itu. Hanya bermodalkan imajinasi saja? Bisa aja sih, tapi jelas akan 
sangat beda 'rasanya' dan tentunya beresiko nggak laku.

 
Pak Ismail Marahimin, dosen Penulisan Populer di FIB UI, pernah memberi tugas 
membuat tulisan tentang suasana pasar. Untuk itu kami harus melakukan 
pengamatan ke pasar (langsung) bagaimana suasana pagi, siang, sore dan 
malamnya. Di karang-karang bisa sih, tapi tentu tidak memberikan kepuasan 
karena banyak detail yang pastinya luput (dan Pak Ismail tau mana yang ngarang 
dan mana yang pake survei beneran). Saya cuma dapet nilai standar, soalnya 
nggak survei beneran sih… nyesel juga karena merasa membohongi pembaca. Dan 
jadi garing tulisannya. Untuk yang satu ini saya jadi ingat dengan buku karya 
Kuntowijoyo yang berjudul Pasar. Pas sekali deskripsinya, dan hidup. 

 
Bedanya dengan fiksi, riset untuk fiksi kalaupun salah-salah dikit or 
dikarang-karang dikit tidak akan fatal akibatnya. Tapi riset untuk sebuah 
produk teknologi, salah dikit bisa fatal. Dalam buku ini disebutkan bahwa ada 
beberapa kasus yang 'memalukan' buat Apple. Mulai dari sistem yang lelet bin 
lemot, baterai yang mudah panas dan menimbulkan kebakaran, sampai komputer yang 
meledak dan menghancurkan ruangan/rumah (kasus ini terjadi di Jepang). Pendek 
kata, tidak sedikit kegagalan demi kegagalan menimpa perusahaan ini.

 
Kalau saya jadi Steve Jobs, mungkin akan melarikan diri dan menyepi ke hutan 
saking malunya hehehe. Tapi hebatnya perusahaan yang sudah berhasil ini, 
kegagalan tidak membuat jera. Produk yang bermasalah ini segera ditarik dari 
pasaran, atau pelanggan menerima produk pengganti yang baru. Tidak hanya itu, 
ada juga lho produk gagal Apple yang bernasib malang karena harus dikubur 
hidup-hidup di dalam 'liang lahat' begitu melihat suasana pasar sudah tidak 
mendukung lagi dan akan merugikan pelanggan. Konsekuensinya, meski sekali lagi 
perlu melakukan riset yang makan waktu, produk baru yang lebih canggih (lebih 
stabil dan lebih cantik) segera diluncurkan sebagai penggantinya. (penulis 
membandingkan software lain yang sebenarnya sudah jelas-jelas banyak bugs-nya 
tapi masih tetap diluncurkan ke pasaran :)

 
Kesan bahwa perusahaan ini sangat mementingkan pelanggan sangat terasa. Pembeli 
adalah raja, benar-benar diterapkan. Perusahaan mana yang paling sering 
dikritik pedas oleh penggunanya selain Apple. Tapi kritik dan masukan pengguna 
Apple adalah kekuatan perusahaan ini. Inilah gunanya Apple membuat Apple Store 
dimana-mana. Sekedar untuk mendekati pelanggan, dan 'nguping' tanggapan, kritik 
dan saran mereka untuk terus melakukan inovasi tiada henti. Tidak heran kalau 
penggemar fanatiknya semakin banyak.  Ingin sukses? Ikuti lah cara-cara Apple! 
:)

 
Have a nice day!
 
*Cupertino, CA adalah markasnya Apple, sementara Microsoft bersemayam di 
Redmond, WA.


ps. tulisan ini sama sekali tidak bermaksud promo, apalagi menyinggung para 
pengguna non mac.... ;)


 


      

    
    
        
         
        
        




        




        
        


        
        
        




      

Kirim email ke