JANUARI

Kenapa Januari? Karena tidak mau bicara soal Desember.
Desember adalah kemarin. Tahun lalu. Bulan yang memberikan warna putih juga
hitam dalam lembaran hidup. Dan itu tidak mau diingat-ingat lagi, meski kadang
kenangan itu muncul. Tidak apa-apa kalau tidak disengaja. Karena manusia, punya
memori bergiga-giga byte.
 
Januari adalah awal. Lembaran baru. Harapan baru. Pagi pada
hari yang panjang. Matahari pada ufuk Timur. Dimulainya kehidupan. Siapa tidak
suka harapan? Siapa tidak suka pagi? Saat masih ada embun yang menetes, bunga
kuncup yang siap merekah, dan kicau burung terbang keluar sarang mencari makan.
 
Ustadz pernah bilang, mengutip perkataan Nabi. Tawakal/taqwa
itu seperti burung yang pergi keluar sarang di pagi hari untuk mencari makan,
dan pulang di sore hari dalam keadaan kantung penuh dengan makanan dan kenyang.
Menyambut pagi dengan suka cita, penuh harapan, semangat. Lihat saja. Belum
terbang saja dia berkicau, berjingkat-jingkat di dahan, mengepakan sayap,
berkicau lagi. Memanggil anak-anaknya, atau pasangannya atau teman-temannya.
Lalu terbang bersama. Meluncur ke atas, menyambut benang-benang sinar terang
dari Timur. Memenuhi rongga dada dan sayapnya dengan udara pagi. Lepas sekali.
 
Perkara bahwa di luar sana musuh atau bahaya menghadang, dia
tidak ambil pusing. Tetap terbang keluar sarang. Perkara persediaan biji-bijian
dan buah-buahan semakin menipis, dia tidak peduli. Tetap mengepak ke sana-sini.
Perkara tak ada dahan dan batang pohon serta daun-daun yang menyediakan ulat,
dia tidak ragu. Tetap hinggap di mana pun dia mau. Kabel telepon, tiang
listrik, tali jemuran, antena tv atau atap-atap bangunan. 
 
“Burung tetap aja burung, dan manusia tetap manusia. Burung
nggak bisa melawan kalau manusia memotong lehernya…” kata Ibu satu ruangan,
dulu di pertengahan tahun 2001. Waktu saya mengamati burung-burung dari kaca 
jendela
dan bilang pengen jadi binatang yang punya sayap itu. (Haha.. dasar ketahuan
deh lagi frustasinya).
Sejak itu saya menganggap beliau sebagai ibu saya sendiri.
Hanya karena nasehatnya tentang burung..how come? Yes, but that’s right!
Manusia makluk yang ‘kuat’, memiliki segala yang tidak dimiliki binatang,
apalagi burung. Akal, pikiran, imajinasi, hati nurani…*halah.. (kalau burung
kelebihannya cuma karena dia punya sayap aja simpul saya akhirnya :-)
 
Mengapa Januari? Karena hujan di Januari berkesan romantis
(Glen Fredly kalee :), sedangkan di Desember berkesan kelabu. Karena Januari
adalah angka 1 (satu) dan Desember 12 (duabelas). Karena Januari adalah awal
dan Desember akhir. Tapi, tidak sesederhana itu lah… Januari dan Desember
adalah sama saja, hanya bagaimana manusia memandangnya. Tidak percaya kalau
sama?
“Bapakku meninggal tanggal 16 Januari, Vit. Dan Papa-mu
tanggal 16 Desember. Kita sama-sama kehilangan Ayah di tahun yang sama. Aku di
awal, kamu di akhir tahun…” kata teman
seperjalanan dinas (dan apa saja itu).
Kepiluan yang sama, bukan?
 
Jadi kenapa Januari? Sekali lagi cara pandang. Dia bisa jadi
romantis atau kelabu. Dia bisa jadi awal yang baru, atau kelanjutan dari akhir
yang belum berakhir. Dan, silakan memilih. 10 kata (-kata) untuk Januari 
pilihan saya adalah: Optimisme, harapan, impian, cita-cita, resolusi, lebih 
baik, hujan yang
romantis, angka 1, matahari pagi, burung dengan tawakalnya.
 
So guys, apa arti Januari bagimu?


      

Kirim email ke