kalo untuk golput ada dalilnya gak sih?
soale dulu sempet ada wacana MUI untuk mengeluarkan fatwa haram buat golput
terus terang, ane termasuk orang yg kemungkinan besar gak akan milih pada
pemilu besok. ada beberapa alasan (pribadi) yg membuat ane mengambil sikap
tersebut
1. sistem pemilu yg menurut ane memang akan semakin menjauhkan para wakil
rakyat dari rakyatnya. butuh modal gede untuk bisa duduk sebagai anggota
legislatif. dan, pastinya modal itu harus kembali.
2. di dapil ane, gak ada caleg yg ane kenal dan tahu reputasinya. ketimbang
tebak2 buah manggis, mending kagak milih sekalian.
3. partai yg sedikit ane lirik (jujur aja PKS) mengarah utk mencalonkan
presiden saat ini utk kembali duduk di kursi presiden. padahal, menurut ane
beliau telah melakukan kesalahan yg sangat fatal (khususnya untuk umat
muslim) karena tidak berani mengambil keputusan tegas dalam kasus
Ahmaddiyah! masih ragukan beliau terhadap RASULULLAH Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam? sedangkan partai lain gak ane lirik sama sekali

karena alasan itu, sekarang ane memilih untuk tidak memilih. mungkin nanti
kalo pas pilpres dan ada calon lain (selain yg sekarang) yg menurut
(pribadi) ane cukup layak, ane akan ikut milih


2009/4/7 komarudin ibnu mikam <[email protected]>

>   syukran abu ali....
> Terimakasih atas masukannya. Ente bilang saya gak komprehensif, ok saya
> terima. tapi coba deh, suruh baca orang lain dan tanya apa kesimpulan
> mereka. Percaya sama saya, mereka pasti bilang tidak memilih adalah pilihan
> paling tepat. Mana ada pemimpin yang sesuai syarat Ibnu
> taymiyah, terus mana cara sesuai tuntutan syariah...
>
> Jujur, Gak nyangka ada alumni yang penguasaan dalil-nya ngelotok bangets.
> Top deh! namun, kayaknya perlu keluasan bahasan dan ilmu ente yang bagai
> langit tak berbatas itu dicarikan 'kaki' sehingga membumi dan bisa menjadi
> rahmatan lil alamin. Bagaimana merealisasikannya? [mohon maaf karena
> kebodohan saya jadi bingung... ]
>
> terimakasih...
>
> 2009/4/7 joko untoro <[email protected]>
>
>     Bang Komar cukup panggil ane abu 'ali.
>> Mohon maaf sebelumnya klo tanggapannya terlalu banyak, tp ini sekadar
>> sharing aja. Klo ada yang nrimo ALHAMDULILLAAH, klo ada yang belum nrimo yo
>> wis monggo, laa iqroha fiddiin (QS. Ali Imron : 20).
>>
>> KOMENTAR ANE:
>> 1. Menurut ane kesimpulan bang Komar kurang komprehensif terhadap
>> substansi dalil tersebut. Karena Rasulullah tidak secara mutlak melarang
>> memilih pemimpin. Akan tetapi caranya sesuai dengan tuntunan syariah serta
>> jelas siapa yang memilih dan dipilih. Artinya yang memilih adalah ahlul
>> halli wal aqdi dan yang dipilih adalah diantara syaratnya (dari sekian belas
>> syarat sebagai pemimpin yang kesemuanya harus dipenuhi_lihat kitab siyasah
>> syar'iyah karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sudah ada terjemahannya)
>> tidak mencalonkan diri sebagai pemimpin.
>> 2.     Ane nggak men-tazkiyah diri ane sebagai orang sholeh akan tetapi
>> semoga Allah masukkan ane ke dalam golongan orang-orang yang sholeh,
>> shiddiqin dan syuhada.
>> 3.  Klo orang yang bang komar anggap SHOLEH memilih pemimpin, apakah ada
>> jaminan pemimpin yang dipilih adalah orang yang sholeh dan akan mendapat
>> pertolongan dari Allah dalam melaksanakan amanahnya..? KALLA TSUMMA KALLA...
>> sekali-kali mereka tidak akan ditolong oleh Allah, karena RASULULLAH
>> Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang telah menyatakan demikian. Dan tidaklah
>> keluar dari lisan RASULULLAH Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kecuali
>> kebenaran.
>> 4. Klo orang yang bang Komar anggap TIDAK SHOLEH memilih dan ternyata
>> pemimpin terpilihnya orang yang tidak sholeh, kita tetap harus rela dan taat
>> selama pemimpin tersebut masih muslim dan tidak memerintahkan berbuat
>> maksiat. Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan
>> ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wajib.
>>
>> Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
>>
>> "Artinya : Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah
>> Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian"[An-Nisaa : 59]
>>
>> Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
>>
>> "Artinya : Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya
>> terdapat maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam
>> kebajikan” [HR. Al-Bukhari (no. 4340, 7257), Muslim (no. 1840), Abu Dawud
>> (no. 2625), an-Nasa'i (VII/159-160), Ahmad (I/94), dari Sahabat ‘Ali
>> Radhiyallahu 'anhu. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (1/351 no. 181)
>> oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah]
>>
>> "Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa)
>> pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk
>> berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak
>> boleh mendengar dan tidak boleh taat.” [HR. Al-Bukhari (no. 2955, 7144),
>> Muslim (no. 1839), at-Tirmidzi (no. 1707), Ibnu Majah (no. 2864), an-Nasa'i
>> (VII/160), Ahmad (II/17, 142) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma.
>> Lafazh ini adalah lafazh Muslim.]
>>
>> "Artinya : …Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah
>> Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati, walaupun
>> yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam...“ [HR. Ahmad
>> (IV/126,127, Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimi
>> (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205) dan al-Hakim (I/95-96), dari
>> Sahabat ‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu 'anhu. Dishahihkan oleh al-Hakim
>> dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Lafazh ini milik al-Hakim.]
>>
>> Islam memandang bahwa maksiat kepada seorang amir (pemimpin) yang muslim
>> merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
>> sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
>>
>> “Artinya : Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada
>> Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada
>> Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat
>> kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat
>> kepadaku.” [HR. Al-Bukhari (no. 7137), Muslim (no. 1835 (33)), Ibnu Majah
>> (no. 2859) dan an-Nasa'i (VII/154), Ahmad (II/252-253, 270, 313, 511),
>> al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (X/41, no. 2450-2451), dari Sahabat Abu
>> Hurairah Radhiyallahu 'anhu]
>>
>> Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
>>
>> “Artinya : Dan musibah apa saja yang menimpamu, maka adalah disebabkan
>> oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaaf-kan sebagian besar (dari
>> kesalahan-kesalahan).” [Asy-Syuraa: 30]
>>
>> "Apabila rakyat ingin selamat dari kezhaliman pemimpin mereka, hendaknya
>> mereka meninggalkan kezhaliman itu juga.” [Lihat Syarhul ‘Aqiidah
>> ath-Thahaawiyyah (hal. 543) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan
>> ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki]
>>
>> Islam menganjurkan agar menasihati ulil amri dengan cara yang baik serta
>> mendo’akan amir/pemimpin yang fasiq agar diberi petunjuk untuk melaksanakan
>> kebaikan dan istiqamah di atas kebaikan, karena baiknya mereka bermanfaat
>> untuk ia dan rakyatnya.
>>
>> Imam al-Barbahari (wafat tahun 329 H) rahimahullah dalam kitabnya, Syarhus
>> Sunnah berkata: “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan keburukan
>> kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa
>> nafsu, namun jika engkau melihat seseorang mendo’akan kebaikan kepada
>> seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah, insya Allah.
>> ”
>>
>> Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Jikalau aku mempunyai do’a yang
>> baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para
>> pemimpin.” Ia ditanya: “Wahai Abu ‘Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?”
>> Beliau berkata: “Apabila do’a itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih
>> hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan
>> ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara
>> akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”
>>
>> Wallaahu musta'an.
>>
>>
>>
>>  ------------------------------
>> *From:* komarudin ibnu mikam <[email protected]>
>> *To:* [email protected]
>> *Sent:* Tuesday, April 7, 2009 6:37:20 PM
>> *Subject:* Re: Bls: [sma1bks] Topic of the month : PERCAYAKAH PEMILU
>> MEMBAWA PERUBAHAN?
>>
>>  Terimakasih Mas Sukarsan dan Mas Joko Untoro atau Mas ABu Ali Ibnu .....
>>
>> Saya menghargai kedua pendapat di atas. Ini merupakan kebenaran yang kita
>> yakini. Tapi, saya berpendapat berikut ini. Kalau salah dikoreksi ya mas...
>>
>> 1. Mas Sukarsan kayaknya merekomendasikan untuk memilih PKS ya. Karena
>> idiom Bersih dan PEduli, khas banget PKS.  Seandainya memilih PKS apa
>> jaminan ya? Terus baca Sabili edisi ini gak ? di halaman dalam ada pendapat
>> Abu Jibril yang mengecam Zulkifimansya yang menyatakan syariah sudah tidak
>> relevan lagi. Apa pendapat Akhi?
>>
>> 2. Buat Mas Joko eh mas Ali Ibnu. Maaf saya harus nyebut Joko atau nama
>> satunya yang panjang itu ya?
>> kalau saya berkesimpulan, kayaknya gak ada gunanya milih ya? terus kalau
>> orang soleh kayak antum gak milih berarti isinya pilihan mereka yang tidak
>> soleh dong? Relakah?
>>
>>
>> maaf, sekadar menghangatkan suasana....
>> Makasih ya..
>>
>> Komar, 90
>> yang lagi belajar...
>>
>>
>
>
> --
> Komarudin Ibnu Mikam
> WTS - Writer Trainer Speaker
> komarmikam.multiply.com
> 0818721014-33113503
> karya-karya ;
> Novel Intelijen SOA (luxima)
> sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
> prahara buddenovsky (GIP)
> dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
> sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
> nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
> merit yuk! (qultum media)
> rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)
>
>  
>



-- 
OpiK
http://taufiek.wordpress.com

Kirim email ke