Tetep brur..partay usunganlu belom bisa berdiri dia tas semua golongan..kunci 
perubahan kalo emang itu yang diusung adalah harus bisa menempatkan diri di 
atas semua golongan...Partailu masih berdiri di atas golongan tertentu....Lu 
yakin partai lu bisa? Coba ente liat Depok noh...Walikotanya dari parta nomer 8 
itu khan, tapi tetep wae semrawut, gak ada kemajuan, malah kampanye tangan 
kanan yang gak ada relevansinya sama perbaikan kesejahteraan 
masyarakat....Emang namanya partay..kalo udah kuasa lebih banyak lupa....

 
It's only a transition...

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
[email protected]
[email protected]
omongkosongku.blogspot.com
answerlieswithin.multiply.com
  
 




________________________________
From: Irzan Supriyadi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, April 8, 2009 5:34:10 PM
Subject: RE: Bls: [sma1bks] Topic of the month : PERCAYAKAH PEMILU MEMBAWA  
PERUBAHAN?


MERDEKA BRO & SIS…
 
Saya lihat email dibawah lebih kepada solusi jangka panjang.
 
Dalam sebuah perbaikan sy lebih melihat sebuah tahapan, spt
halnya Rasullullah menyampaikan dakwahnya. Selain itu kita bisa menyebutnya 
sebuah
dinamika (sunatullah) , lebih rasional. Kalo tiba2 berubah drastiskan, jadinya 
take
time, take money, take resources. 
 
Fenomena bangsa kita sedang dalam di kondisi tidak ideal, kita
perlu tahapan2 menuju Ideal.
PKS merupakan pilihan yg lebih dekat menuju bentuk ideal, krn
sesuai dengan kondisi Bangsa, dimana sedang memerlukan PEMIMPIN yg 
meng-transform
s/d me-revolusi kondisi yg tidak ideal menjadi ideal.
 
Saat ini kita berada di sistem PEMILU yg sudah terlanjur
mengarahkan kita kepada kondisi MAU/TIDAK MAU, ya diterima saja siapapun 
PEMENANG
PEMILU.
Sama seperti halnya kita bekerja ditempat kerja yg PIMPINAN kita
bukan orang yg baik, apa iya kita mau keluar begitu saja. Kan mikir2 coy…
 
Jadi solusi jangka pendeknya, ya ialah pilih PKS no 8, krn PKS berpotensi
memiliki kemampuan untuk membuat langkah2 menuju tahapan yg lebih baik. 
PKS lebih melihat sistem yg diperbaiki dari pada PEMIMPIN-nya,
idealnya dua2nya langsung bener.
JADI JGN LUPA CONTRENG PKS NO 8.
 
Lebih kurang saya minta maaf.
 
From:sma1...@yahoogroups .com [mailto:sma1bks@ yahoogroups. com] On Behalf Of 
joko
untoro
Sent: Tuesday, April 07, 2009 8:36 PM
To: sma1...@yahoogroups .com
Subject: Re: Bls: [sma1bks] Topic of the month : PERCAYAKAH PEMILU
MEMBAWA PERUBAHAN?
 
Bang
Komar cukup panggil ane abu 'ali.
Mohon maaf sebelumnya klo tanggapannya terlalu banyak, tp ini sekadar sharing
aja. Klo ada yang nrimo ALHAMDULILLAAH, klo ada yang belum nrimo yo wis monggo, 
laa iqroha fiddiin (QS. Ali Imron : 20).

KOMENTAR ANE:    
1.. Menurut ane kesimpulan bang Komar kurang komprehensif terhadap substansi
dalil tersebut. Karena Rasulullah tidak secara mutlak melarang memilih
pemimpin. Akan tetapi caranya sesuai dengan tuntunan syariah serta jelas siapa
yang memilih dan dipilih. Artinya yang memilih adalah ahlul halli wal aqdi dan
yang dipilih adalah diantara syaratnya (dari sekian belas syarat sebagai
pemimpin yang kesemuanya harus dipenuhi_lihat kitab siyasah syar'iyah karangan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sudah ada terjemahannya) tidak mencalonkan diri
sebagai pemimpin.
2.     Ane nggak men-tazkiyah diri ane sebagai orang sholeh akan
tetapi semoga Allah masukkan ane ke dalam golongan orang-orang yang sholeh,
shiddiqin dan syuhada.
3.  Klo orang yang bang komar anggap SHOLEH memilih pemimpin, apakah ada
jaminan pemimpin yang dipilih adalah orang yang sholeh dan akan mendapat
pertolongan dari Allah dalam melaksanakan amanahnya..? KALLA TSUMMA KALLA...
sekali-kali mereka tidak akan ditolong oleh Allah, karena RASULULLAH
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang telah menyatakan demikian. Dan tidaklah
keluar dari lisan RASULULLAH Shallallahu 'Alaihi wa Sallam kecuali kebenaran.
4. Klo orang yang bang Komar anggap TIDAK SHOLEH memilih dan ternyata pemimpin
terpilihnya orang yang tidak sholeh, kita tetap harus rela dan taat selama 
pemimpin
tersebut masih muslim dan tidak memerintahkan berbuat maksiat.. Karena mentaati
mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala adalah wajib.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah
Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian"[An-Nisaa : 59]

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

"Artinya : Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya
terdapat maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan”
[HR. Al-Bukhari (no. 4340, 7257), Muslim (no. 1840), Abu Dawud (no. 2625),
an-Nasa'i (VII/159-160) , Ahmad (I/94), dari Sahabat ‘Ali Radhiyallahu 'anhu.
Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (1/351 no. 181) oleh Syaikh Al-Albani
rahimahullah]

"Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa)
pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat
kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh
mendengar dan tidak boleh taat.” [HR. Al-Bukhari (no. 2955, 7144), Muslim
(no. 1839), at-Tirmidzi (no. 1707), Ibnu Majah (no. 2864), an-Nasa'i (VII/160),
Ahmad (II/17, 142) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma. Lafazh ini
adalah lafazh Muslim.]

"Artinya : …Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada
Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati, walaupun
yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam...“ [HR. Ahmad
(IV/126,127, Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimi (I/44),
al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205) dan al-Hakim (I/95-96), dari Sahabat
‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu 'anhu. Dishahihkan oleh al-Hakim dan
disepakati oleh adz-Dzahabi. Lafazh ini milik al-Hakim.]

Islam memandang bahwa maksiat kepada seorang amir (pemimpin) yang muslim
merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah
dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah,
barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan
barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.” [HR.
Al-Bukhari (no. 7137), Muslim (no. 1835 (33)), Ibnu Majah (no. 2859) dan
an-Nasa'i (VII/154), Ahmad (II/252-253, 270, 313, 511), al-Baghawi dalam
Syarhus Sunnah (X/41, no. 2450-2451), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu
'anhu]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan musibah apa saja yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaaf-kan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahan ).” [Asy-Syuraa: 30]

"Apabila rakyat ingin selamat dari kezhaliman pemimpin mereka,
hendaknya mereka meninggalkan kezhaliman itu juga.” [Lihat Syarhul ‘Aqiidah
ath-Thahaawiyyah (hal. 543) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah
bin ‘Abdul Muhsin at-Turki]

Islam menganjurkan agar menasihati ulil amri dengan cara yang baik serta
mendo’akan amir/pemimpin yang fasiq agar diberi petunjuk untuk melaksanakan
kebaikan dan istiqamah di atas kebaikan, karena baiknya mereka bermanfaat untuk
ia dan rakyatnya.

Imam al-Barbahari (wafat tahun 329 H) rahimahullah dalam kitabnya, Syarhus
Sunnah berkata: “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan keburukan kepada
pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun
jika engkau melihat seseorang mendo’akan kebaikan kepada seorang pemimpin,
ketahuilah bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah, insya Allah.”

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Jikalau aku mempunyai do’a yang
baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.”
Ia ditanya: “Wahai Abu ‘Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata:
“Apabila do’a itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat
bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para
pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan
manfaat dan kebaikannya.”

Wallaahu musta'an.




________________________________
 
From:komarudin ibnu mikam <komaribnumikam@ gmail.com>
To: sma1...@yahoogroups .com
Sent: Tuesday, April 7, 2009 6:37:20 PM
Subject: Re: Bls: [sma1bks] Topic of the month : PERCAYAKAH PEMILU
MEMBAWA PERUBAHAN?
Terimakasih Mas Sukarsan dan Mas Joko Untoro atau Mas ABu
Ali Ibnu .....
 
Saya menghargai kedua pendapat di atas. Ini merupakan
kebenaran yang kita yakini. Tapi, saya berpendapat berikut ini. Kalau salah
dikoreksi ya mas...
 
1. Mas Sukarsan kayaknya merekomendasikan untuk memilih PKS
ya. Karena idiom Bersih dan PEduli, khas banget PKS.  Seandainya memilih PKS
apa jaminan ya? Terus baca Sabili edisi ini gak ? di halaman dalam ada pendapat
Abu Jibril yang mengecam Zulkifimansya yang menyatakan syariah sudah tidak
relevan lagi. Apa pendapat Akhi?
 
2. Buat Mas Joko eh mas Ali Ibnu. Maaf saya harus nyebut
Joko atau nama satunya yang panjang itu ya?
kalau saya berkesimpulan, kayaknya gak ada gunanya milih ya?
terus kalau orang soleh kayak antum gak milih berarti isinya pilihan mereka
yang tidak soleh dong? Relakah?
 
 
maaf, sekadar menghangatkan suasana....
Makasih ya...
 
Komar, 90
yang lagi belajar...
 
   


      

Kirim email ke