Diskusi tentang Khilafah ini sangat menarik sekali, tapi maaf aja saya yg awam 
ini, terus terang aja nih, belum paham bener bentuk negara Khalifah itu seperti 
apa gambarannya. Kalau kita kan ada Presiden, Menteri, DPR, MPR, MA, Gubernur, 
Bupati dll, ada UUD, UU, Kepres dll, Nah kalau negara Khilafah itu seperti apa 
ya? Dari awal sepertinya belum pernah ada yg posting masalah ini deh sementara 
kita sudah terlalu jauh berdiskusi.
Mohon kiranya kalau ada yang punya arikel tentang 'Bentuk Negara Khilafah' bisa 
dipostingkan di mislis ini.
Terima kasih.

Salam,
Santosa.


----- Original Message ----
From: Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, August 30, 2007 11:05:08 AM
Subject: Re: Balasan: [syiar-islam] Re:Masalah Khilafah dan HT

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Saya pribadi nggak kuatir dengan jalannya diskusi ini. Saya melihatnya
masih cool. Dan, dalam beberapa hal saya justru ingin diskusi semacam
ini lebih sering terjadi. Harapan saya, justru dengan diskusi semacam
inilah kita mulai bisa melihat kekurangan diri kita. Memang, perlu
kontrol diri yang kuat, untuk menjaga ke-cool-an-nya: -) Oleh karena
itu, saya justru sedih ada yang menghimbau Moderator untuk turun
tangan.

Saya jadi ingat di sebuah negara yang konon diklaim sebagai paling
Islami di dunia, ada ulama yang merekomendasikan kepada penguasa agar
ulama lain dimasukan penjara, hanya karena persoalan perbedaan
penafsiran.

--- suhana032003 <suhana032003@ yahoo.com> wrote:

> ===** hmm..kalau islam anda masukan dalam kategori atribut,
> rasanya aku lebih suka memakai label itu ketimbang atribut yg lain :)
> dan itu bukan berarti tidak mempunyai kelompok, kalaupun ada rasanya
> aku lebih suka berjamaah dengan kelompok yg memakai landasan dan
> pijakan yg benar yaitu al-qur'an dan sunnah yg bukan sekedar
> dijadikan
> kambing hitam.

Lha, kalau merujuk ke Al Qur'an, Allah SWT kan menyebut kita - sejak
dulu - sebagai muslim. Anggota HT, PKS, Tarbiyah, MMI, Salafy, JI
(kalau memang ada), dll., bagi saya tetap menyandang predikat itu,
walau di sana-sini ada kekurangannya: -) Kekurangan mereka tidak pernah
akan membuat saya, menyebut mereka khawarij, misalnya, Lha mereka
keluar dari ketaatan kepada siapa? Catatan: Syiah, lain lho
persoalannya.

> ===*** dengan selalu koreksi diri, berdasarkan ukuran al-qur'an dan
> sunnah. maka aku bilang..orang itu harus kritis, meskipun kepada guru
> yg memberi pengajaran pada kita, dan kita nda melulu harus dicekoki
> oleh masukan yg sebenarnya kita sendiri nda pernah tahu, apa yg sudah
> dimasukan oleh pembimbing kita, karena kita tidak punya bahan untuk
> mengkritisnya. hmmm..dari mana anda tahu, kalau anda sendiri dalam
> keadaan harap dan cemas??? ^_^

Nah kalau Anda menilai diri Anda seperti itu, saya menilai diri saya
juga seperti itu. Saya juga menilai diri saudara muslim saya di HT,
PKS, Tarbiyah, MMI, Salafy, JI (kalau memang ada), dll. juga seperti
itu. Semua sedang berjuang keras becoming to be a wholesome muslim.
Posisi final Anda, saya, dan mereka di sisi Allah, siapa yang tahu?
Saya berharap segala amal yang telah saya lakukan cukup untuk
mengkapling surga, tapi kadang saya bertanya-tanya juga apa iya sih
amal saya cukup untuk itu?

> Justru karena aku dalam keadaan cemas, melihat beberapa hari ini,
> pembicaraan mengenai HT dan khilafah nda kelar2, karena semuanya
> sibuk
> menyalahkan dan pengikutnya sibuk membenarkan? ? dan akhirnya yg
> jelas2
> tidak menyukai islam, semua sibuk tepuk tangan.
> Diskusi terjebak pada sesuatu yg tidak lagi murni untuk islam,
> melainkan untuk kepentingan kelompok yg mengkambing hitamkan ajaran
> islam.

Dalam hukum dialog saya, hal semacam itu tidak masalah. Saya selalu
yakin, ada masa-masa di mana nantinya dialog-dialog semacam ini akan
bermanfaat bagi proses becoming kita.

Well, IMHO, Anda terlalu berlebihan kalau "yang jelas-jelas tidak
menyukai Islam semua sibuk tepuk tangan". Saya justru berpikir
sebaliknya, dengan mulai banyaknya dialog-dialog semacam ini, "mereka
justru semakin kuatir, sebab proses kreatif kaum muslimin berarti
sedang tidak mandeg.

> ===*** hehehe..hak anda dalam menilai diriku, karena aku juga tidak
> bisa melarang anda untuk memberikan label padaku *_^ kalau boleh
> membela diri, rasanya kesusahan itu dibuat sendiri olehnya, karena
> dia coba menerangkan sesuatu yg sebenarnya sudah pernah aku dengar
dan
> tidak aku minat (boleh dong tidak minat..*_^) dan kesalahan kedua
> adalah dia salah tembak sasaran, seharusnya yg dia jelaskan adalah
> orang yg mengkritisi pencetus dan kitab pencetusnya yg buat dia
> kebakaran jenggot dan dia coba membelanya sedangkan dia sendiri tidak
> pernah tahu, si pencetus dan kitab yg sedang dia bela dan dikritisi
> oleh para pengkritis spt apa, dan dia nda perlu memberi penjelasan
> padaku yg tidak berkomentar apa2...wong aku hanya membalikan
> pertanyaan aja koq.. ^_^ makanya aku bilang spt itu :-)

He ... he, kalau Anda memang suka begitu ya begitulah:-) Bawahannya
saya ada yang lebih parah lagi kok. Kalau sudah diskusi Islam, nggak
ada deh sosok yang selamat dari tahdzir dia. Saya mah, hanya he ... he
saja kalau dia sudah begitu, soalnya kalau dia saya ajak ketemu yang
dia tahdzir, pasti deh mundur teratur. Alasannya, ada syar'i yang
melarang untuk itu. Saya ya hanya, OOO ...

> ====*** aku setuju dengan pendapat anda, lalu bagaimana caranya
> bila seseorang diberi tahukan ada kelemahan pada alatnya, tapi tetap
> ngotot mendemonstrasikan bahwa alatnya yg paling canggih. padahal
> secara tidak sadar, bisa jadi alatnya menjadi awal perusakan.

Ya tidak apa-apa. Dari sudut Anda kan kebenaran sudah disampaikan: -) Eh
omong-omong, tapi kelemahan itu di wilayah yang mana? Tauqifi-kah?
Membuat mereka keluar dari Islam kah? Atau, yang pigimana?

> ===*** aku juga setuju dengan pendapat anda, maka aku bilang..nda
> perlulah yg gunakan salah satu alat itu, terus mendemokan alatnya
> sementara dari pihak lain, melihat alatnya tersebut ada kelemahan.
> kalau semua sudah sadar bahwa tiap2 alat yg di demonstrasikan
> mempunyai kelemahan, kenapa nda mulai memperbaharui alatnya dengan
> alat yg lain dan mencari kesempurnaan. tanpa terus mengungguli
> alatnya
> sementara membuat pihak yg tidak sepaham muak mendengarkannya, karena
> mampu melihat sisi kelemahan alat yg ditawarkan.

Semuanya perlu proses tho:-) Anda sampai pada yang pemahaman seperti
saat ini pakai proses enggak? Dalam melihat orang lain, lihatlah juga
diri Anda yang dulu itu.

Sekali lagi, justru dialog seperti ini perlu diperbanyak, kalau perlu
dilakukan di darat. Ketemu, dan dengan cool saling mengungkapkan
pemikiran dan argumentasinya. Lalu, dicari titik temunya, tapi kalau
sesuatu itu memang di wilayah yang diizinkan berbeda oleh Islam, ya
biarkan. Janganlah kemudian saling membelakangi, dan melempar kritik
dari belakang.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.
B. Samparan

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's 
Comedy with an Edge to see what's on, when. 
http://tv.yahoo. com/collections/ 222




       
____________________________________________________________________________________
Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the 
tools to get online.
http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke