Memang semua kembali ke kondisi keluarga dan masing2 orangnya. Bagi yang mengalami kegoncangan keluarga (dalam beberapa hal atau semua hal) bila istri bekerja, ya berarti akan lebih baik istri tidak bekerja. Bagi yang mengalami lebih bahagia dan lebih baik kondisi keluarganya (dalam beberapa hal atau semua hal) bila istri bekerja, ya berarti itulah yg terbaik.
Kalau kita mampu mencermati kondisi sekeliling kita, baik orang2 yang secara materi boleh dibilang kaya, papa, atau biasa2 saja, sangat bermacam2 keadaan kehidupan rumah tangga mereka. Baik yang istrinya bekerja maupun yg hanya jadi ibu rumah tangga. Ada beberapa cerita yang bisa diambil hikmahnya dari sekitar saya: A. Kakak saya sendiri, lumayan berkecukupan, bahkan berlebih dalam hal materi. Suami bekerja, istri bekerja, tapi peghasilan istri jauh lebih besar daripada suami. Anak2nya begitu lulus SD langsung mandiri semua, tidak ada pengasuh sama sekali, bahkan jauh dari orangtuanya. Ortunya kerja di Jakarta, anak2nya di Solo. Anak pertama perempuan, saat SMU hampir saja terjerumus ke pergaulan negatif. Ortunya kelabakan setengah mati mengatasinya, walaupun akhirnya kembali baik. Sekarang menjadi gadis yang pintar dan cukup dewasa dan benar2 jauh dari masa lalunya, dan hampir lulus kuliah (belum lulus saja sudah diincar/ditawari pekerjaan di sebuah perusahaan besar di Jakarta). Adiknya laki-laki cukup pendiam (saat ini kelas 2 SMU) dan kepandaiannya jauh lebih baik di atas kakaknya. Semua itu dilakoni anak2nya tanpa ada kedua ortu di sampingnya dan tanpa ada pembantu, ataupu pengasuh. Anak2 mereka benar2 tumbuh dan berkembang mandiri, kecuali biasa pendidikan yang memang dipenuhi kedua ortunya. B. Teman saya, suami bekerja dengan penghasilan pas2an. Istri tidak bekerja, tapi tuntutannya di luar kemampuan suaminya. Sehingga sering beratem dan suami menjadi korban kekerasan istrinya dalam rumah tangga. Tapi ketika suami meminta istrinya ikut kerja, istri menolak, memilih diam di rumah dengan sejuta tuntutan. Kondisi ini menyebabkan mereka pernah bercerai beberapa bulan, walaupun akhirnya rujuk kembali karena adanya anak. C. Tetangga saya, suami istri bekerja dengan hasil pas2an, tapi si istri jadi besar kepala merasa punya penghasilan, dan anak tak terurus, sebagaimana cerita saya sebelumnya. D. Teman sekantor saya, istri tinggal di rumah mertua bersama suaminya. Suami istri bekerja, hasil pas2an. Anak diasuh mertua. Tapi, keluarga ini sering berantem (suami, istri, mertua) karena berbagai masalah dalam rumah tangga. Mertua merasa tdk sanggup mengurus anaknya, krn dia sendiri juga punya anak kecil. istri maunya di rumah mengurus anak asalkan suami sudah bisa menyediakan rumah sendiri dan segera pisah dengan orang tua. Karena hal ini tdk terpenuhi, istri terpaksa harus kerja agar cepat bisa beli rumah, akhirnya permasalahan semakin menjadi. Sementara suami membela ibunya, karena merasa dia harus berbakti dan merawat ibunya. Di sini anak menjadi korban percekcokan yang tak ada habisnya di rumah tangga mereka. Bahkan dalam kemarahannya, suami pernah mengucap kata cerai pada istrinya, yg sampai sekarang si istri masih bingung dgn statusnya, atas ucapan suaminya tsb. E. Saya sendiri, dulu kondisi kami sangat pas2an cenderung kurang. Istri minta ijin bekerja, anak diasuh tetangga dengan sejumlah upah. Setelah dihitung2 ternyata penghasilan istri tidak mencukupi untuk transport dia sendiri, upah yang ngasuh, jajan anak, makan anak dll. Keuangan dulu selalu merasa kurang dan utang sana sini, akhirnya istri minta bekerja. Sudah sama2 kerja pun masih demikian juga. Dan anak, namanya diasuh tetangga, anak jadi tdk terurus dlam segala hal, karena kesempatan ibu saat ada di rumah merawat anak hanya sedikit sekali, lebih banyak di tempat kerja. Akhirnya aku putuskan istri untuk tidak bekerja. Alhamdulillah, setelah melalui serangkaian kejadian dan dari kesepakatan kami, sekarang kondisi kami tidak sebegitu mengenaskan kayak dulu, cukup, dan sedikit lebih malah. Anak cukup terawat, dan sekarang sudah masuk TK, kesempatan ibunya untuk mendidiknya yang terbaik. F. Tetangga saya, awalnya suami bekerja istri di rumah. Ketika suami terPHK, gantian istri bekerja, suami di rumah merawat anak, mengurus rumah, nyuci, masak, dll sampai beberapa tahun. Setelah anak2nya masuk usia sekolah, diperlukan biaya lebih, suami mencoba cari pekerjaan dan mendapatkannya. Anak2 di rumah tanpa pembantu dan pengasuh, karena kondisi pas2an alias tdk ada dana untuk upah pembantu. Karena dirasa anak2 dirumah tdk terawat, akhirnya diputuskan istri berhenti kerja dan kewajiban suami mencukupi kebutuhan keluarga. Beberapa lama kemudian kebutuhan keluarga terasa semakin tinggi, istri kembali bekerja. Karena penghasilan istri lebih baik, dan anak2 tidak terawat, akhirnya diputuskan suami berhenti kerja dan kembali mengurus rumah tangga. Semua itu mereka jalankan dengan kesepakatan bersama, dan demi anak2. Apa yang aku tulis di atas adalah nyata, tapi bukan maksud saya menggunjing/menggosip, karena saya tidak menyebut nama. Tujuan saya adalah sebagai ibrah/pelajaran buat kita semua. Sekali lagi, semua tergantung masing2 keluarga, cara mensikapi, mensepakati. Dan mungkin perlu ditarik garis tujuan, dalam keluarga tersebut apa tujuan utama suami istri bekerja. Harta? Anak-anak? Atau harta demi anak-anak? Atau anak2 demi harta? Atau sekedar hobby? masing2 keluarga pasti punya kesimpulan masing2. Mudah2an kalau semua dilandasi niat ibadah, mudah2an apapun keputusan yang diambil keluarga, akan mendapatkan ridla dari Allah SWT. Kalau Allah sudah ridla, insya Allah keberkahan atas rumah tangga mereka. Tapi, kalau niat dan keputusan yang diambil menyimpang, mudah2an Allah segera memberinya hidayah. Amin Wassalamu'alaikum wr wb. -----Original Message----- From: Usman [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, November 15, 2007 1:10 PM To: BITRA Indonesia; [EMAIL PROTECTED] Cc: [email protected]; Mulyono Subject: Re: [syiar-islam] Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA Kalo menurut saya idealnya sebaiknya para isteri tidak bekerja lebih baik di rumah saja mengurus rumah tangga dan mendidik anak anak supaya menjadi anak yang soleh...tapi saya akui berat juga kalo misalkan penghasilan suami pas-pasan sedang bila isteri bekerja akan sangat membantu ekonomi keluarga...jadi saya kembalikan lagi ke pribadinya masing-masing.. ----- Original Message ----- From: [EMAIL PROTECTED] To: BITRA Indonesia Cc: [email protected] ; Mulyono Sent: Thursday, November 15, 2007 12:07 PM Subject: Re: [syiar-islam] Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA Ya saya setuju dengan BU Yenny semuanya kembali kepada Diri kita masing-2 dan kembali kepada diri kita sebagai Peran ibu pada diri kita masing-2 walaupun ada beberapa yang perlu dikhawatirkan namun semuanya berpulang kepada diri kita masing-2, jika pola didikannya seperti ibu yenny saya yakin semuanya dapat teratasi, Betul begitu BU Yenny?karena saya juga ibu yang bekerja dan saya tidak merasa anak saya dekat dengan pengasuhnya tetapi anak saya juga dekat sekali kepada saya...semuanya tergantung bagaimana cara mendidik anak dan bagaimana cara mengatasi permasalahan seputar anak. selama anak ( Kenakalannya ) masih dalam kategory wajar dalam artian berusaha mencari perhatian mamahnya atau papahnya. Banyak koq yang berhasil dalam bekerja dan mengurus anak itu semua kembali kepada bagaimana kiat-2 Sukses dalam bekerja dan mengasuh anak. Yah..banyak - banyak berkonsultasi dengan yang lebih mengerti iyakan BU yenny, Wassalam, MARYANI QA DEPT. PT. ASMO INDONESIA MM 2100 INDUSTRIAL TOWN BLOCK FF-3/ FF-5 CIBITUNG BEKASI 17520 PHONE : 62 - 21 8981288 EXT. 219 FAX : 89982777 NICE NET : 5066 - 219 EMAIL ; [EMAIL PROTECTED] "BITRA Indonesia" <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [email protected] 11/15/2007 09:29 AM To: <[email protected]>, "Mulyono" <[EMAIL PROTECTED]> cc: Subject: Re: [syiar-islam] Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA Membaca jawaban Pak Mulyono, saya jadi ingat pengalaman pribadi saya dan suami. Saya seorang istri yang bekerja walaupun sebenarnya saya lebih suka mengurus rumah tangga, mulia banget gitu kesannya.Dan saya memang tidak mau bekerja setelah kami menikah.Namun suami meminta saya untuk bekerja dengan beberapa alasan, diantaranya gelar yang saya peroleh sayang jika tidak dimanfaatkan untuk bekerja dan membantu keuangan keluarga, kebetulan gaji suami pas-pasan banget. Awalnya kekhawatiran seperti yang dikemukakan oleh Bapak juga sempat ada dipikiran kami, terutama saya. Apalagi saya sebagai ibu, juga takut kalau anak saya nantinya lebih dekat ke pengasuhnya daripada saya ibunya. Tetapi hal itu semua tidak terbukti. Anak walaupun dititipkan pada pengasuh/tetangga, tetapi dia tetap sayang dan dekat kepada kami. Awalnya setiap pagi dia nangis kalau kami tinggal bekerja, tetapi dengan memberi pengertian kepada anak dengan sabar dan tentu perlu waktu, lama kelamaan anak akan terbiasa. Perilaku anak seperti yang dikhawatirkan oleh Bapak bukan hanya terjadi pada anak yang orang tuanya (ibu) bekerja. tetapi hal ini juga berlaku pada anak yang ibunya tidak bekerja. Ini semua tergantung pada kita, orang tua (ayah dan ibu). Memang jengkel sekali disaat pulang kerja, anak juga bertingkah macam-macam yang membuat emosi kita naik (marah). tetapi kami sadar bahwa setelah seharian bekerja diluar, kami juga punya tanggung jawab terhadap anak. Anak butuh perhatian dan kasih sayang kita, orang tuanya. Oleh karena itu kerewelan anak kami anggap sebagai caranya untuk mencari perhatian kami. Apabila orang tua sadar pada perannya masing2 maka kekhawatiran2 itu akan dapat teratasi. Tetapi kita juga harus punya aturan sehingga anak tidak sesukanya saja. Komunikasi dengan anak tetap harus kita jaga, selain sebagai orang tua kita juga harus bisa berperan sebagai teman, sahabat bagi anak sehingga mereka merasa dekat dengan kita dan tidak kaku. Mengenai godaan di tempat kerja, bukan hanya akhwat saja lho yang mengalami, justru ikhwan juga mengalaminya, bahkan ikhwan juga yang suka menggoda walaupun sudah ada istri (jangan tersinggung ya?). Itu semua tergantung pada diri kita, selagi ada iman di dada, suami dan istri tahu dan mengerti hak dan kewajibannya, tidak merasa satu pihak lebih berkuasa atau lebih hebat (terutama dalam hal penghasilan), ikhlas dan bersyukur, insya allah..... Wassalam, Yenni ----- Original Message ----- From: "Mulyono" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Wednesday, November 14, 2007 2:38 PM Subject: RE: [syiar-islam] Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA Assalamu'alaikum wr. wb. Jawab: Ya, saya keberatan jika istri bekerja. Memang semua tergantung kondisi keluarga, tergantung orang2nya. Tapi, banyak cerita juga dari rekan2 kami yang lain, pada umumnya lebih banyak mengundang fitnah dan mudharatnya drpd manfaatnya. Alasan: 1.Anak tidak terurus. Anak dititipkan ke pembantu/pengasuh/tetangga: - anak jadi sedih, setiap dipamitin bapak ibunya mau berangkat kerja kelihatan sedih, dan merengek minta ditemani (maunya ibunya tdk usah kerja) - makannya tdk terurus,istirahat/waktu tidurnya jadi kacau - lama-lama kelakuannya jadi bandel, susah datur 2. Anak yang susah diatur, bapak ibunya capek pulang kerja, jadi uring2an dan marah mulu, yang tentu semakin membebani pikiran anak 3. Tujuan bapak dan ibu kerja, mungkin mencari tambahan pendapatan, kalau hanya memburu kekurangan harta tdk akan pernah ada habisnya 4. Istri sering cerita, di tempat kerja banyak yang naksir/godain. Ya kalau kuat imannya, kalau lebih cerdik setannya...? dan kenyataan tdk sedikit yg terjerumus 5. Terkadang kalau ada masalah keluarga, istri sering bersikap cuex, mungkin karena merasa punya pendapatan sendiri. 6. Dll, intinya bagi kami kalau istri bekerja akan lebih banyak akibat buruknya drpd manfaatnya. -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of ujungdunia2001 Sent: Wednesday, November 14, 2007 1:00 PM To: [email protected] Subject: [syiar-islam] Poling khusus ikhwan: (1) AKHWAT BEKERJA Assalamu alaikum ya akhi fillah Mohon dijawab ya pertanyaan ini. Apakah antum keberatan jika akhwat (calon / istri) antum bekerja? Jawab:. (ya / tidak) Apa alasannya:. Mohon ceritakan pengalaman antum dengan akhwat yang bekerja:. Jazakallah khairon katsiran Salam Denny Disclaimer This message (and any associated files) is intended only for the use of the individual or entity to which it is addressed and may contain information that is confidential, subject to copyright or constitutes a trade secret. If you are not the intended recipient you are hereby notified that any dissemination, copying or distribution of this message, or files associated with this message, is strictly prohibited (PT Datascrip). If you have received this message in error, please notify us immediately by replying to the message and deleting it from your computer. [Non-text portions of this message have been removed] Untuk bergabung ke milis Syiar Islam kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Website: http://www.media-islam.or.id http://syiarislam.wordpress.com http://islamicbroadcasting.wordpress.com Yahoo! Groups Links [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

