SUMUT, tempat pertarungan sengit antar-etnis
Sejak permulaan zaman kemerdekaan Sumut dihegemoni oleh orang-orang
Tapsel/Mandailing. Gubernurnya boleh dikatakan turun-temurun orang dari daerah
ini. Para gubernur berkedudukan di Medan yang terletak di Sumtim yang
sebenarnya bukan daerah orang Tapanuli, karena orang Tapanuli punya daerah
sendiri, orang Batak di Taput dan orang Mandailing di Tapsel. Orang-orang
Sumtim terutama orang Karo adalah orang patriotis/nasionalis, sejak semula
menentang kolonial Belanda, mengorbankan harta bendanya dan nyawanya demi
kemerdekaan mengusir penjajah. Kiras Bangun di Tanah Karo dan Datuk Sunggal
Surbakti di Sumtim dengan gigih tak henti-hentinya bikin serangan terhadap
Belanda yang merampok tanah orang Karo Sumtim mau dijadikan perkebunan
tembakau,sisal dan karet. Belanda bikin boneka yang sah dengan pangkat Sultan
(Deli) yang juga asal usulnya orang Karo, dijadikan pihak penanda tangan
kontrak tanah, tanah milik penduduk Karo di Sumtim (Deli dan Langkat).
Setelah merdeka, Belanda lengser lalu pada berdatangan orang-orang Tapanuli
hijrah ke Sumtim, orang Mandailing jadi penguasa turun-temurun dan begitu juga
orang-orang Batak berduyun kesini tetapi tidak mampu menyaingi orang-orang
Tapsel/Mandailing menghegemoni Sumut. Walaupun orang-orang Karo yang gigih
menentang dan memerangi Belanda, tetapi merela sangat jauh dari kekuasaan,
mereka kelihatannya sudah merasa lega dan puas dengan terusirnya Belanda dari
bumi Indonesia, dan dari Sumtim khususnya. Pengorbanan jiwa raga orang Karo
setelah perang tidak ada juga yang mencatat, dan orang Karo juga tidak ingin
dicatat. Perang selesai, banyak pahlawan diangkat bahkan yang tidak lama
berperang juga jadi pahlawan, tetapi orang Karo tidak ada yang mengingat
(kecuali Hatta). Siapa yang mengingat kalau tukang angkat jadi pahlawan di
pusat tidak pernah ikut perang.
Jiwa patriotis/nasionalis orang Karo membuat kecintaan sama bung Karno, dan PNI
Sukarno di Sumut umumnya diduduki orang Karo. Etnis-etnis lain tidak begitu
tertarik kepada partai satu ini. Pergolakan PRRI/Permesta melonggarkan jalan
bagi Karo untuk menduduki tahta kerajaan Sumut, cocok bagi Sukarno ketika itu.
Etnis-etnis lain terpaksa minggir, karena partai-partai mereka lebih jauh atau
bermusuhan dengan nasionalisme Sukarno.
Dizaman Orba orang Karo semakin jauh dari kekuasaan, karena sukarnoismenya tadi
tentunya. Tetapi PDIP (gantinya PNI) masih berkerumun orang Karo. Setelah
reformasi, orang Karo berbaik hati mengajak orang-orang Batak yang sangat cepat
melihat perubahan (ganti kulit) berduyun masuk PDIP, dan akhirnya orang-orang
Karo di ’usir’ dan tinggal dominasi orang-orang Batak sampai sekarang. "Orang
Batak di bawah sadarnya menghayati kehidupan bagaikan perlombaan atau
pertandingan, dan dia menginginkan kemenangan", kata DR R.E. Nainggolan,
Sekdaprovsu yang baru diangkat presiden hanya sehari sebelum pelantikan Gubsu
baru.
Setelah reformasi orang-orang Tapsel/Mandailing seakan-akan lebih jauh dari
pusat kekuasaan Sumut, terutama karena pergolakan pikiran manusia Sumut yang
sangat dipengaruhi oleh ethnic-revival dunia, pembebasan etnis-etnis dari
penindasan politik dan kultur/budaya, hal mana dicetuskan dalam gejolak dan
tuntutan pemekaran menurut garis batas etnis. Tuntutan Sumtim, Protap yang
sangat galak, dan orang-orang Tapsel/Mandailing juga bikin tuntutan Tabagsel
walaupun sebenarnya karena mereka ini pada kebingungan antara mempertahankan
Sumut atau bikin Tabagsel. Perubahan pikiran mereka ini tidak sama dengan
orang-orang Batak yang sangat dinamis dalam pikiran dan bertindak. Bekas gubsu
Raja Inal Siregar masih bertahan pada mulanya, tidak akan mekar, dan kalau mau
mekar kita sudah siap dan daerah kita sama luasnya dengan Sumbar, katanya.
Keraguan mereka ini ialah antara mempertahankan Sumut dan bikin Tabagsel,
kelihatan juga dari ucapan pemrakarsa Tabagsel Drs H
Rahmad Hasibuan (SIB 09 Oktober 2006): "Yang harus kita dorong agar
bersama-sama mengangkat citra Tapsel, yaitu kembali menjadi pemimpin Sumut dari
Tapsel sebagaimana yang telah ditunjukkan sejumlah mantan Gubsu yang berasal
dari Tapsel" katanya. Dari sini jelas terlihat pikiran mereka antara
mempertahankan Sumut atau bikin Tabagsel. Ikut Protap sudah sejak semula mereka
nyatakan menolak, berlainan kultur katanya. Nias dan Tapteng jadi rebutan
antara kedua etnis/kultur ini. Begitu juga Dairi jadi problem tersendiri,
orang-orang Pakpak sebagai penduduk aslinya menyatakan bertahan 'sampai titik
darah penghabisan' karena disana banyak orang Batak, dan Pakpak Barat sudah
jelas menolak ikut Protap.
Dalam pilgubsu yang lalu juga jelas kelihatan pergolakan ethnic revival ini.
Siapa jadi gubsu? Etnis mana? Kemenangan bagi yang 'tak punya etnis' atau yang
mengaku wakil semua etnis dan juga diakui oleh mayoritas pemilih sebagai
perwakilan semua etnis. Calon etnis Batak menang di Taput tapi kalah ditempat
lain, calon Tapsel/Mandailing menang di Tapsel tapi kalah tempat lain, calon
Golkar kalah dimana-mana karena Golkar dalam perjalanan kebawah. Calon militer
kalah dimana-mana, sudah bukan zamannya, walaupun mereka belum mengakui dan
tidak akan pernah memahami tetapi 'Memalukan' kata panglima TNI. Orang Karo
sudah mundur sebelum maju. Orang Simalungun, Pakpak dan Nias tidak ada
beritanya. Orang Jawa banyak gunanya, atau semua menggunakan, karena mereka
mayoritas di Sumut.
Perjuangan antar-etnis di Sumut terbawa juga Pusat, atau memang Pusat diikutkan
supaya lebih berwibawa sebagai bikin putusan terakhir, zamannya masih begitu
seakan-akan Pusatlah selalu bikin putusan terakhir di daerah. Atau memang Pusat
digunakan untuk memenangkan 'ethnicgroups struggling for power' di daerah.
Selama daerah masih mendengarkan pusat, memang masih jalan dan 'kondusif' kata
politikus-politikus pejuang etnis ini. Kita masih ingat bagaimana orang-orang
pendatang Tapanuli/Mandailing mempengaruhi ketua MA Bagir Manan untuk
membubuhkan tanda tangannya mencabut hak orang-orang Karo Juma Tombak, tanah
mana adalah tanah yang diperjuangkan Datuk Sunggal Surbakti dari perampokan
penjajah Belanda dan berperang selama hampir 25 tahun. Tanahnya ditanda tangani
Bagir Manan mencabut hak orang Karo pemilik ulayat sejak sebelum Belanda
datang, belum ada juga etnis-etnis lain datang ke situ.
Orang-orang Batak sekarang ada juga didekat presiden, misalnya seskab Sudi
Silalahi dan juga penasihatnya TB Silalahi. Surat keputusan presiden menetapkan
RE Nainggolan (Batak) sebagai Sekprovsu hanya satu hari sebelum gubsu baru naik
tahta. Mengapa tidak mempercayakan kepadanya bikin rekomendasi Sekprovsu yang
baru? Gubernur Rudolf Pardede (Batak) sudah mengangkat RE Nainggolan lebih dulu
sebagai pejabat Sekprovsu ketika sekrov yang lama (Tambuse) mau pensiun.
Kemudian tinggal pengesahan pusat (presiden). Dari mana pula presiden mengenal
RE Nainggolan sebagai orang yang tepat jadi Sekprovsu dan pasti akan
direkomendasikan juga oleh gubsu baru? Apakah ini juga bagian dari 'struggling
for power' di daerah dengan bantuan pusat (sekprov adalah jabatan tertinggi di
propinsi setelah gubernur) seperti kasus Juma Tombak menggunakan tanda tangan
Bagir Manan?
Mudah-mudahan tidak! Tapi mengapa tidak, bukankah 'ethnicgroups self-assertion
and ethnicgroups struggling for power' adalah realitas yang tidak perlu di
tutup-tutupi? Sekiranya orang-orang Tapsel/Mandailing punya kesempatan begini,
pasti juga akan mereka lakukan. Kalau Karo? Kita masih ingat juga dizaman Ulung
Sitepu dan Jamin Ginting bagaimana kedua orang ini menangani ethnicgroups
self-assertion and struggling for power, walaupun orang Karo naiknya tadi
adalah karena pergolakan sejarah. Kalau orang Karo tidak ingat, pastilah etnis
lain masih ingat.
"tugas kita tinggal mengajarkan kepada generasi muda Batak bagaimana harus
berkompetisi secara benar, adil dan damai, serta berkompetisi dalam semangat
persaudaraan untuk mengejar kemajuan dan kualitas" kata RE Nainggolan (SIB).
Pengangkatannya sudah berjalan damai, tetapi apakah adil? Mengapa tidak
dipercayakan kepada gubsu baru yang dipilih rakyat, tentang pembagian kerja
didaerahnya? Kekuasaan mutlak pusat?
Bagaimana mengatur keadilan dalam perjuangan abadi antar-etnis? Mungkinkah ada
keadilan dalam 'ethnicgroups self-assertion and ethnicgroups struggling for
power'?
Pertanyaan ini sudah banyak terjawab dibagian lain dunia, misalnya di ex Uni
Soviet, ex Yugoslavia dll, dengan memerdekakan semua nation, artinya kalau
dinegeri kita dengan pemekaran menurut garis kultural. Di Sumut tidak
terkecuali. Tugas gubsu baru adalah memperhatikan soal ini. Pemekaran Sumtim
dan Propinsi Karo, Protap, Tabagsel, dan Nias. Situasi kondusif selama ini di
Sumut menandakan kedewasaan penduduk Sumut. Kesedaran yang tinggi etnis-etnis
Sumut bisa jadi modal untuk melancarkan pemekaran sebagai kelanjutan
perkembangan etnis-etnis Sumut dan daerahnya dalam perjuangannya untuk keadilan
dan kemajuan pembangunan.
MUG
___________________________________________________
Sök efter kärleken!
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting:
http://ad.doubleclick.net/clk;185753627;24584539;x?http://se.meetic.yahoo.net/index.php?mtcmk=148783