Membaca tulisan ini, teringat akan naskah drama yang sudah dipersiapkan.
Sedikit petikan naskah ceritanya :

Berhentinya perang sunggal Belanda merasa lebih kuat, untuk memperluas
perkebunan ke daerah langkat, daerah kuta buah uruk ( bahorok ), kuta
mbelin, kuta mbaru yang didirikan oleh marga perangin-angin, bangun ( urung
5 senina ) yang dikenal dengan panggilan Pulu Sulkam..

Kiras Bangun : Ku begi beritana, maka karo jahe enggo i kuasai Belanda,
emaka ningku nandangi kam sisampati me seninanta di ringan i karo jahe.

Pa mbelgah : Ise kin siman sampaten nindu e Gara Mata ?

Kiras Bangun : Pulu Sulkam, me tandai kena nge ?

Pa mbelgah : Enggo, Uga nge siban nampati sa seninata i karo jahe. gara mata
?

Kiras Bangun : *Sipersada arihta *kerina guna nampati pulu sulkam, kita si i
jenda kerina, me enggo nge ersada arihta ? guna nampati seninta ?

Semuanya : Enggo, *kesah ras dareh jadi jaminenna, gara mata. ula kam
mbiar..
*
Seperti apakah nantinya gerakan Kiras Bangun ..... ?? dan perlawanan musuh
berngi dan siapa saja laskah dan kekuatan karo yang akan membantu
perperangan ini ? apakah ada jawabannya mudah mudahan, acara ini dapat
terselenggara menyambut 17 Agustus

Bujur
Eddy Surbakti


2008/6/22 cpatriawgmail <[EMAIL PROTECTED]>:

>   --- In [email protected] <tanahkaro%40yahoogroups.com>, MU
> Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > SUMUT, tempat pertarungan sengit antar-etnis
> >
> > Sejak permulaan zaman kemerdekaan Sumut dihegemoni oleh orang-orang
> Tapsel/Mandailing. Gubernurnya boleh dikatakan turun-temurun orang
> dari daerah ini. Para gubernur berkedudukan di Medan yang terletak di
> Sumtim yang sebenarnya bukan daerah orang Tapanuli, karena orang
> Tapanuli punya daerah sendiri, orang Batak di Taput dan orang
> Mandailing di Tapsel. Orang-orang Sumtim terutama orang Karo adalah
> orang patriotis/nasionalis, sejak semula menentang kolonial Belanda,
> mengorbankan harta bendanya dan nyawanya demi kemerdekaan mengusir
> penjajah. Kiras Bangun di Tanah Karo dan Datuk Sunggal Surbakti di
> Sumtim dengan gigih tak henti-hentinya bikin serangan terhadap
> Belanda yang merampok tanah orang Karo Sumtim mau dijadikan
> perkebunan tembakau,sisal dan karet. Belanda bikin boneka yang sah
> dengan pangkat Sultan (Deli) yang juga asal usulnya orang Karo,
> dijadikan pihak penanda tangan kontrak tanah, tanah milik penduduk
> Karo di Sumtim (Deli dan Langkat).
> >
>
> diam diam saya mempelajari basis argumentasi Kila MUG ini.
>
> Ternyata cocok, sedikit sedikit dibahas dibuku sejarah Indonesia :
>
> (i) Benedict Anderson, Language and Power: Exploring Political
> Cultures in Indonesia :
>
> The idea of Power in Javaneese Culture
>
> .....
> Finally, it perhaps more than a coincidence that the typical pattern
> of political relationships between Java and the "outer" island has
> tended to resemble the "leapfrogging" relationship described by
> Moertono in his discussion of the mandala. In the period of
> independence alone, one finds striking examoples of this pattern in
> the close connections between the center and the subordinate Karo
> Batak againts the dominate Toba Batak of East Sumatra ; between the
> center and the inland Dayak groups againts Banjarese of South
> Kalamantan. Altough this leapfrogging pattern can perfectly well be
> understood in the light of Western political theory, it is also quite
> consistent with a very different intellectual framework.
>
> (ii) Medan in 1920s as descibed by Rudolf Mrazek, is a cosmopolitan
> city where the rulers of Malays, Karo and Tapanuli is competing for
> the influence.
>
> (iii) dibahas lebih dalam dibukunya Rita Kipp "DIssociated
> Identities" yang meneliti masalah Karo, terutama dalam
> hal "Ethnopolitis in Karoland 1920-1940: Karo vs Toba.
>
> Silahkan saja jika ada jang punya argumentasi sama atau lain &
> bujur/mjj,
>
> carlos
>
>  
>

Kirim email ke