--- In [email protected], MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > SUMUT, tempat pertarungan sengit antar-etnis > Â > Sejak permulaan zaman kemerdekaan Sumut dihegemoni oleh orang-orang Tapsel/Mandailing. Gubernurnya boleh dikatakan turun-temurun orang dari daerah ini. Para gubernur berkedudukan di Medan yang terletak di Sumtim yang sebenarnya bukan daerah orang Tapanuli, karena orang Tapanuli punya daerah sendiri, orang Batak di Taput dan orang Mandailing di Tapsel. Orang-orang Sumtim terutama orang Karo adalah orang patriotis/nasionalis, sejak semula menentang kolonial Belanda, mengorbankan harta bendanya dan nyawanya demi kemerdekaan mengusir penjajah. Kiras Bangun di Tanah Karo dan Datuk Sunggal Surbakti di Sumtim dengan gigih tak henti-hentinya bikin serangan terhadap Belanda yang merampok tanah orang Karo Sumtim mau dijadikan perkebunan tembakau,sisal dan karet. Belanda bikin boneka yang sah dengan pangkat Sultan (Deli) yang juga asal usulnya orang Karo, dijadikan pihak penanda tangan kontrak tanah, tanah milik penduduk Karo di Sumtim (Deli dan Langkat). >
diam diam saya mempelajari basis argumentasi Kila MUG ini. Ternyata cocok, sedikit sedikit dibahas dibuku sejarah Indonesia : (i) Benedict Anderson, Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia : The idea of Power in Javaneese Culture ..... Finally, it perhaps more than a coincidence that the typical pattern of political relationships between Java and the "outer" island has tended to resemble the "leapfrogging" relationship described by Moertono in his discussion of the mandala. In the period of independence alone, one finds striking examoples of this pattern in the close connections between the center and the subordinate Karo Batak againts the dominate Toba Batak of East Sumatra ; between the center and the inland Dayak groups againts Banjarese of South Kalamantan. Altough this leapfrogging pattern can perfectly well be understood in the light of Western political theory, it is also quite consistent with a very different intellectual framework. (ii) Medan in 1920s as descibed by Rudolf Mrazek, is a cosmopolitan city where the rulers of Malays, Karo and Tapanuli is competing for the influence. (iii) dibahas lebih dalam dibukunya Rita Kipp "DIssociated Identities" yang meneliti masalah Karo, terutama dalam hal "Ethnopolitis in Karoland 1920-1940: Karo vs Toba. Silahkan saja jika ada jang punya argumentasi sama atau lain & bujur/mjj, carlos
