Ayo gerak terus anak-anak muda
Sejarah dibangunkan kembali, sejarah perjuangan kemerdekaan. 
Sudah terlalu lama dan terlalu jauh anak-anak Indonesia dibohongi 
dengan sejarah oleh penguasa bangsa sendiri terutama selama 30 tahun 
lebih kekuasaan Orba. Tetapi ini juga sejarah (sejarah kekuasaan) 
yang menuliskan sejarah berat sebelah. Sekarang kelihatannya tugas 
anak-anak muda untuk mencari sendiri mana yang benar, setelah 
dibohongi selama 30 tahun lebih. Mencari dan menyelidiki sendiri, 
semacam tugas edukasi yang berat, tetapi "Education: the inculcation 
of the incomprehensible into the indifferent by the incompetent" 
kata Keynes. Dengan belajar semua akan jadi ringan,  apalagi kalau 
diikuti dengan praktek alias "demonstrating what you know".
Bujur ras mejuah-juah
MUG


--- In [email protected], "Radio Karo Accees Global" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Membaca tulisan ini, teringat akan naskah drama yang sudah 
dipersiapkan.
> Sedikit petikan naskah ceritanya :
> 
> Berhentinya perang sunggal Belanda merasa lebih kuat, untuk 
memperluas
> perkebunan ke daerah langkat, daerah kuta buah uruk ( bahorok ), 
kuta
> mbelin, kuta mbaru yang didirikan oleh marga perangin-angin, 
bangun ( urung
> 5 senina ) yang dikenal dengan panggilan Pulu Sulkam..
> 
> Kiras Bangun : Ku begi beritana, maka karo jahe enggo i kuasai 
Belanda,
> emaka ningku nandangi kam sisampati me seninanta di ringan i karo 
jahe.
> 
> Pa mbelgah : Ise kin siman sampaten nindu e Gara Mata ?
> 
> Kiras Bangun : Pulu Sulkam, me tandai kena nge ?
> 
> Pa mbelgah : Enggo, Uga nge siban nampati sa seninata i karo jahe. 
gara mata
> ?
> 
> Kiras Bangun : *Sipersada arihta *kerina guna nampati pulu sulkam, 
kita si i
> jenda kerina, me enggo nge ersada arihta ? guna nampati seninta ?
> 
> Semuanya : Enggo, *kesah ras dareh jadi jaminenna, gara mata. ula 
kam
> mbiar..
> *
> Seperti apakah nantinya gerakan Kiras Bangun ..... ?? dan 
perlawanan musuh
> berngi dan siapa saja laskah dan kekuatan karo yang akan membantu
> perperangan ini ? apakah ada jawabannya mudah mudahan, acara ini 
dapat
> terselenggara menyambut 17 Agustus
> 
> Bujur
> Eddy Surbakti
> 
> 
> 2008/6/22 cpatriawgmail <[EMAIL PROTECTED]>:
> 
> >   --- In [email protected] <tanahkaro%
40yahoogroups.com>, MU
> > Ginting <gintingmu@> wrote:
> > >
> > > SUMUT, tempat pertarungan sengit antar-etnis
> > >
> > > Sejak permulaan zaman kemerdekaan Sumut dihegemoni oleh orang-
orang
> > Tapsel/Mandailing. Gubernurnya boleh dikatakan turun-temurun 
orang
> > dari daerah ini. Para gubernur berkedudukan di Medan yang 
terletak di
> > Sumtim yang sebenarnya bukan daerah orang Tapanuli, karena orang
> > Tapanuli punya daerah sendiri, orang Batak di Taput dan orang
> > Mandailing di Tapsel. Orang-orang Sumtim terutama orang Karo 
adalah
> > orang patriotis/nasionalis, sejak semula menentang kolonial 
Belanda,
> > mengorbankan harta bendanya dan nyawanya demi kemerdekaan 
mengusir
> > penjajah. Kiras Bangun di Tanah Karo dan Datuk Sunggal Surbakti 
di
> > Sumtim dengan gigih tak henti-hentinya bikin serangan terhadap
> > Belanda yang merampok tanah orang Karo Sumtim mau dijadikan
> > perkebunan tembakau,sisal dan karet. Belanda bikin boneka yang 
sah
> > dengan pangkat Sultan (Deli) yang juga asal usulnya orang Karo,
> > dijadikan pihak penanda tangan kontrak tanah, tanah milik 
penduduk
> > Karo di Sumtim (Deli dan Langkat).
> > >
> >
> > diam diam saya mempelajari basis argumentasi Kila MUG ini.
> >
> > Ternyata cocok, sedikit sedikit dibahas dibuku sejarah 
Indonesia :
> >
> > (i) Benedict Anderson, Language and Power: Exploring Political
> > Cultures in Indonesia :
> >
> > The idea of Power in Javaneese Culture
> >
> > .....
> > Finally, it perhaps more than a coincidence that the typical 
pattern
> > of political relationships between Java and the "outer" island 
has
> > tended to resemble the "leapfrogging" relationship described by
> > Moertono in his discussion of the mandala. In the period of
> > independence alone, one finds striking examoples of this pattern 
in
> > the close connections between the center and the subordinate Karo
> > Batak againts the dominate Toba Batak of East Sumatra ; between 
the
> > center and the inland Dayak groups againts Banjarese of South
> > Kalamantan. Altough this leapfrogging pattern can perfectly well 
be
> > understood in the light of Western political theory, it is also 
quite
> > consistent with a very different intellectual framework.
> >
> > (ii) Medan in 1920s as descibed by Rudolf Mrazek, is a 
cosmopolitan
> > city where the rulers of Malays, Karo and Tapanuli is competing 
for
> > the influence.
> >
> > (iii) dibahas lebih dalam dibukunya Rita Kipp "DIssociated
> > Identities" yang meneliti masalah Karo, terutama dalam
> > hal "Ethnopolitis in Karoland 1920-1940: Karo vs Toba.
> >
> > Silahkan saja jika ada jang punya argumentasi sama atau lain &
> > bujur/mjj,
> >
> > carlos
> >
> >  
> >
>


Kirim email ke